
Ceri terpaksa datang ke rumah sakit tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada Tio. Dirinya tadi sempat menerima panggilan dari Tante Tina dan memutuskan untuk segera kesana. Karena kondisi Romi yang menurun efek beberapa hari ini tak mau makan.
Datang dengan membawa sekantong buah dan makanan kesukaan Romi, dia pikir mungkin Romi tak suka dengan makanan rumah sakit yang membuatnya tak bersemangat untuk makan.
Sampai di sana Ceri di sambut dengan senyuman hangat dari Tante Tina. Beliau lega Ceri berkenan datang. Dan segera mempersilahkannya untuk masuk.
"Masuk sayang, Romi sudah menunggu sejak tadi." Ceri menganggukkan kepala kemudian masuk dan menatap wajah pucat Romi yang sedang setengah berbaring di atas ranjang.
"Rom...."
Sebuah senyum mengembang dengan mata sendu terlihat sayu. Ada yang beda dari tatapan Romi padanya, Ceri menangkap ada sesuatu yang Romi sembunyikan. Dan ia tak tau itu apa.
"Bagaimana kabarnya Rom?" tanyanya dengan suara lembut. Suara yang Romi rindukan dan wajah cantik dengan mata teduh membuat hatinya menghangat. Sudah beberapa Minggu tak bertemu rasanya Romi ingin memeluk.
"Seperti yang kamu lihat," lirihnya tapi masih bisa Ceri dengar.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu, makan ya. Kata Tante Tina kamu belum makan. Ini sudah mau jam makan siang tapi dari pagi badan kamu belum juga masuk makanan. Kasian perutnya Rom, bagaimana bisa cepat keluar dari rumah sakit kalo kamu aja nggak mau makan."
Romi terkekeh mendengar omelan Ceri padanya, dia benar-benar merindu. Kemudian berusaha meraih tangan Ceri tapi wanita itu cukup awas sehingga dengan lihai menghindar tanpa meninggalkan efek curiga.
Ceri meraih makanan yang ia bawa, kemudian ia berusaha membujuk Romi agar mau makan. Sedangkan Tante Tina sejak tadi sudah keluar dari sana setelah melihat senyum Romi kembali terbit saat melihat Ceri datang.
"Ayo makan Rom! mau makan sendiri atau aku suapin?" tanyanya, dia tak tega melihat Romi yang begitu lemas. Tubuhnya pun terlihat berbeda dari sebelumnya, dan pipi Romi terlihat lebih tirus.
Akhirnya Ceri menyuapi dengan berbagai pertanyaan yang ia lontarkan. Saling bercakap hingga tak terasa makanan habis tak tersisa.
"Kamu kenapa bisa kecelakaan? terus kapan kejadiannya?" tanyanya lagi.
Romi menghela nafas berat, ia memang sengaja tak mengabari Ceri setelah kejadian itu, dan meminta mamahnya pun merahasiakan. Lagi pula Romi yakin Ceri tak akan datang.
__ADS_1
"Sudah hampir satu Minggu yang lalu," jawabnya.
Ceri teringat satu Minggu yang lalu bertepatan dengan Regan keluar dari rumah sakit dan dirinya dinikahi oleh Tio. Ceri menganggukkan kepala kemudian kembali bertanya.
"Memang kamu mau kemana?"
"Aku merindukan seseorang, tapi tak sempat berjumpa kemudian aku mengalami kecelakaan."
"Seseorang? siapa? kamu sudah punya pacar? kenapa nggak kenalin ke aku?" Mendengar kata seseorang dari Romi, Ceri tak bisa menutupi perasaan bahagianya. Ia akan sangat senang jika Romi menemukan tambatan hati dan menikah.
Romi tersenyum tipis melihat ekspresi bahagia dari Ceri, kemudian ia mengalihkan pembicaraan hingga Ceri pamit pulang karena ia teringat dengan Tio dan Regan yang mengajaknya jalan-jalan.
"Aku pulang dulu ya Rom, sudah lumayan lama aku disini. Nggak enak takut di cariin." Ceri mengambil tasnya kemudian beranjak dari kursi. Kebetulan Tante Tina pun sudah kembali dan ia segera pamit.
"Siapa yang mencari Cer?"
"Anak-anak..." jawabnya singkat dan Romi hanya tersenyum getir menanggapinya.
"Ya sudah nggak apa-apa nak, makasih ya sudah mau berkunjung menengok Romi dan membuat Romi kembali bersemangat. Mudah-mudahan dengan kedatangan kamu Romi cepat sembuh dan bisa segera pulang."
"Aamiin, aku pulang ya Rom, Tante, assalamualaikum..." pamitnya.
"Wa'allaikumsalam...."
Romi terdiam menatap sendu Ceri yang melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.
"Ada apa Rom, kenapa sedih lagi? Ceri punya kedua anaknya yang harus ia urus. Kapan-kapan pasti dia akan datang menjenguk lagi."
Romi hanya diam dan tak berniat menjawab, setelah Ceri pulang senyumnya pun sirna. Dia memilih untuk memejamkan mata hingga terlelap karena efek obat yang Ceri berikan setelah makan.
__ADS_1
Tante Tina melihat anaknya kembali kehilangan semangat hanya bisa membuang nafas kasar dan tak bisa berbuat apa-apa. Beliau paham jika Romi mencintai Ceri, tapi sebagai ibu dia hanya bisa mendukung tanpa ikut campur masalah cinta anak-anaknya.
Setelah memarkirkan mobilnya Ceri turun dan melirik bagian garasi yang kosong. Sudah di pastikan Tio telah pergi mengajak Regan. Ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul satu siang. Ceri menghela nafas panjang, kemudian segera masuk ke dalam rumah.
"Bi, Regan pergi sama Papahnya ya?" tanyanya mendekati Bibi yang sedang memanasi susu untuk Rayya.
"Iya non, tadi sempat mencari non. Tapi setelah itu mengajak den Regan jalan-jalan katanya."
Ceri menganggukkan kepala, kemudian segera beranjak menuju kamar hendak membersihkan diri sebelum mengambil Rayya, karena dirinya baru pulang dari rumah sakit.
"Ya sudah saya bersih-bersih dulu ya Bi."
"Baik non."
Ceri segera membersihkan diri dan berganti pakaian rumahan, menyempatkan diri untuk menjalani kewajiban 4 rakaat lalu turun ke bawah menemui Rayya.
Hingga sore hari Regan dan Tio belum kunjung pulang, ia sudah selesai masak dan rapi setelah mandi sore. Menunggu kedatangan keduanya di ruang keluarga dengan memangku Rayya yang sedang meminum asi.
Hingga malam hari keduanya baru sampai dan Regan pun sudah terlelap di gendongan Tio yang hendak memindahkannya ke dalam kamar. Ceri mengikuti dari belakang, dan berdiri di ambang pintu kamar, melihat Tio dengan telaten melepaskan sepatu dan jaket di tubuh Regan kemudian menarik selimutnya dan mengecup kening sebelum keluar kamar.
Senyum Ceri luntur saat Tio berjalan melewatinya, bahkan mengabaikan tangannya yang terulur hendak menyalami. Ceri mengikuti langkah Tio, berusaha untuk menjelaskan alasan ia pergi ke rumah sakit tanpa pamit.
BRAK
Ceri terjingkat mendengar suara pintu kamar mandi yang di tutup kasar. Seakan tau jika Tio marah, ia segera mengambilkan baju ganti dan turun membuatkan kopi. Mungkin setelah makan ia baru bisa menjelaskan.
Tapi setelah Ceri menyiapkan makanan dan memanaskannya, ia tak mendapati Tio turun untuk makan malam. Bahkan kopinya pun hampir dingin menunggu si empunya yang tak kunjung datang.
Ceri yang penasaran segara masuk ke dalam kamar. Wanita itu menghela nafas panjang melihat Tio sudah tertidur pulas di ranjang. Ingin membangunkan tapi ia tak cukup nyali. Hingga memilih keluar kamar menuju meja makan. Mungkin jika ia tak menyusui, dia lebih baik tidur dari pada makan seorang diri.
__ADS_1