Menikahi Janda

Menikahi Janda
Cantik


__ADS_3

"Tio, mamah cari-cari, mamah telponin sekertaris kamu juga mamah tanyain, kenapa nggak angkat telpon mamah sich? terus mana pesanan mamah?"


Tio yang baru turun dari tangga segera duduk di sofa dengan menarik tangan Ceri untuk duduk di sampingnya.


"Eh....kok kayaknya ada yang beda, ini tangan kayak truk gandengan!" Mamah menatap keduanya bergantian, memberi tatapan penuh selidik hingga Ceri yang risih hanya diam menundukkan kepala.


"Debat salah, musuhan salah, diem-dieman tambah salah dan sekarang pegangan tangan juga salah lagi mah?"


"Yang salah kamu, kenapa baru sekarang. Istri cantik di anggurin. Untung nggak di culik tetangga sebelah!"


"Mah ..." Tio segera memeluk pinggang Ceri dengan posesif.


"Mamah bersyukur jika kalian sudah akur! Jadi malam ini tidur dengan Ceri?" tanya mamah dengan mengulum senyum.


"Iya lah, dirumah di marahin sama Papah terus gara-gara ganggu mamah sama papah mau pacaran. Sekarang Tio pacaran sendiri sama istri!" Tio mengecup pipi Ceri dengan cepat Ceri memukul Tio dengan bantal sofa.


"Ada mamah juga!" geramnya dengan wajah merona. Ceri benar-benar malu, apa lagi melihat Mamah tersenyum padanya.


"Lah kenapa? gue kalo di rumah juga ngeliatin papah nyosor mamah terus sampe pegel ini mata liatnya," sewot Tio.


...🍃🍃🍃...


Makan malam kali ini dengan formasi yang lengkap, Tio kembali hadir di tengah-tengah mereka. Regan pun tampak senang bisa belajar lagi dengan Papahnya, makan bareng dan setelah itu Tio berjanji akan menemani Regan hingga tidur.


"Papah nggak kerja jauh lagi kan?"


"Nggak sayang," Tio melirik Ceri sekilas kemudian kembali menatap Regan. "Papah akan pulang setiap hari." Tio merasa sangat menyesal dan bersalah meninggalkan istri dan anak-anaknya, tapi semua demi kebaikan hubungan mereka.


"Ye......makasih Papah!" Regan mengecup pipi Tio dan dengan gemas Tio membalasnya.

__ADS_1


"Memang kalo Papah kerja jauh Regan sedih ya?" tanya Tio ingin tau tentang perasaan Regan.


"Iya Pah, Mamah juga sedih. Mamah diem terus, mau rencanakan apa ya Pah?"Tanya Regan polos.


Mata Ceri membola mendengar pertanyaan Regan, jika sudah bersama dengan Tio sudah pasti dirinya yang kena sasaran. Apa lagi sikap Tio yang penuh keisengan.


"Rencana menyambut kepulangan Papah," jawab Tio dengan tatapan penuh makna pada Ceri kemudian membisikkan Ceri sesuatu hingga semburat merah tercipta dan Ceri segera masuk kamar.


"Nah sekarang waktunya Regan tidur! ayo Papah bacakan buku cerita!" Tio segera mengangkat tubuh Regan dan membawanya menuju kamar. Misi kali ini tak boleh gagal, si Beno sudah siap lahir batin dan waktunya masuk sarang. Malam ini ia harus bisa melepas keperjakaannya dan membuktikan omongan Seto jika sekali nyelup rasanya ingin terus.


Sampai di kamar Ceri di buat mondar mandir tidak jelas, ingin menuruti Tio tapi ia malu sendiri. Membuka lemari kemudian mengambil baju dinas malam yang masih baru, koleksinya saat bersama Reno dulu yang akhirnya banyak tak terpakai.


"Demi nyenengin suami kali ya, memberi kesan baik di awal, agar memuaskan dan ketagihan."


Ceri mengambil beberapa model dengan warna dark, karena bagi Ceri lebih menggoda. Mematut di depan cermin dan memilih mana yang pantas ia pakai. Berputar-putar di depan cermin dengan jantung berdebar, dan hati berbunga-bunga.


"Berasa seperti malam pertama, tapi ini pertama kalinya gue diinginkan dan di dambakan. Udah kayak anak abg lagi aja."


Fokus Ceri tersita saat pintu terbuka, pandangan keduanya saling bertabrakan dengan hati tak karuan dan jantung yang berkali lipat debarannya.


Tio terpanah dengan wanita yang ada di hadapannya, reflek kakinya menendang pintu kamar setelah sadar apa yang Ceri pakai. Lingerie berwarna hitam dengan bahan menerawang memberi kesan sexy pada body yang terlihat samar tapi membuat penasaran.


Langkahnya mendekat dengan perlahan, mata tak lepas dari keindahan yang ada di depan. Si Beno meronta minta keluar dari sangkar emas dan ingin segera masuk ke dalam sangkar baru untuk merasakan sensasi hidup.


"Cantik"


Wajah Ceri bersemu, apa lagi saat Tio menyapu pandang dari ujung kaki sampai ujung kepala. Matanya berbinar dengan pancaran kabut gairah, suaranya pun sudah berat tapi masih tertahan karena beberapa kali ia berdehem menormalkan jantungnya yang berkerja tiga kali lipat.


"Ini istri gue?" lirihnya.

__ADS_1


Ceri menganggukkan kepala perlahan dengan senyum menawan. Tio semakin terbuai melihatnya dan bahagia sebentar lagi status perjakanya akan hilang setelah dinikmati janda.


"Sexy..."


Tio semakin mengikis jarak, berdiri di hadapan Ceri dan terus menatap wajah ayu yang malam ini pancarannya bertambah berkali-kali lipat dari biasanya. Tio membelai rambut Ceri, mencium aroma strawberry yang menenangkan kemudian mengumpulkan semua rambut Ceri dan mengambil ikat rambut lalu mengikatnya dengan asal. Menambah kesan sexy dengan leher jenjang yang tampak bersinar.


Tio tak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak dan mulai meraba setiap lekuk tubuh yang minta untuk di sapa. Mulai menghirup aroma yang menggiurkan dan menikmati kulit mulus yang ingin di sentuh.


Tanpa sabar menyatukan kembali indera perasa hingga saling menyesaap dan membelit dengan lihai. Menciptakan gelayar panas di tubuh dengan menumbuhkan percikan hasrat yang mulai membara.


Kain hitam tipis itu mulai teronggok di lantai dengan sia-sia, luruh seiring peluh mulai muncul. Menyisakan dua kain penyangga yang masih aman di tempatnya. Tapi beberapa menit kemudian tubuhnya melayang dan mendarat di peraduan dengan minat yang semakin di luar batas.


Tio pun segera menanggalkan seluruh pakaian tanpa memutus kontak pada wanita yang kini menjadi perhiasan hidupnya. Merangkak naik dan mulai menindih dengan kedua tangan menahan tubuhnya. Malam ini keduanya melebur menjadi satu, Tio berhasil masuk tanpa penghalang dan meraih keindahan yang akan mengisi setiap malam indahnya.


Saling memberi dan saling meninggalkan bekas percintaan yang berkesan dengan ukiran indah. Hingga keringat mulai bercucuran dan meraih puncak pertama yang melegakan lagi melenakan.


Kecupan mendarat mulus di kening Ceri yang kini terkulai lemas dengan nafas tersengal. Kemudian Tio merengkuh tubuhnya dan mengecup pundak polos dengan gemas.


"Makasih sayang..."


Mata Ceri terbuka setelah tadi menikmati sisa percintaan kemudian menatap Tio yang tersenyum hangat.


"Terimakasih istri ku...i love you," bisiknya kemudian memeluk Ceri dengan erat hingga sama-sama menyelami rasa yang terukir di dalam jiwa.


"I love you more ..." lirihnya dengan mata sayu menatap pria tampan yang baru saja mengunjunginya.


"Udah cinta sama gue?"


"Hhmm...."

__ADS_1


"Berarti siap ronde kedua?" tanyanya lagi dengan senyum nakal yang menghiasi wajah tampannya.


Hah!


__ADS_2