
...Bidadari tuh turun dari kahyangan, bukan naik ke atas ranjang....
Tio tak dapat tidur dengan nyenyak, setelah Ceri membuka hijabnya, pria itu justru di buat tidak tenang. Bahkan Tio tampak salah tingkah sendiri dan memutuskan untuk tidur memunggungi.
Ceri yang merasakan kegelisahan Tio memutuskan untuk kembali membuka mata setelah dirinya hampir saja terlelap. Ceri menoleh ke arah Tio yang sejak tadi memunggunginya, menepuk pundak Tio berulangkali hingga pria itu terjingkat.
"Tio loe kenapa? gue serem ya? kok loe jadi begini? sampe nggak bisa tidur. Maaf ya, gue janji nggak akan buka hijab lagi di depan loe. Sekarang gue pake lagi dech..." Ceri meraih hijab yang di letakkan di samping kepalanya untuk segera ia kenakan.
Melihat pergerakan Ceri dengan cepat Tio segera merebut hijabnya hingga terlepas dari jemari lentik Ceri dan membuangnya asal membuat wanita itu tercengang tak percaya.
"Kok di buang?" tanyanya dengan heran.
"Nggak usah di pake kalo lagi sama gue di kamar!" lirih Tio dengan penuh ketegasan.
"Bukannya loe takut?"
"Iya gue takut, gue takut terlalu cepat jatuh cinta sama loe!" celetuk Tio kemudian merebahkan lagi tubuhnya dengan lengan menutupi kedua mata.
Ceri kembali mencerna kata-kata yang terlontar dari bibir Tio, dia pun segera merebahkan kembali tubuhnya dengan pipi merona dan selimut yang ia tarik hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Pagi ini Ceri keluar dari kamar mandi dengan rambut terbungkus handuk. Mulai membiasakan diri lagi seperti dulu, mencari kenyamanan di kamar sendiri tanpa harus repot masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan segala hal.
Tio terbangun saat cahaya matahari menelisik rongga jendela hingga ke mata. Matanya terbuka dan menangkap gerakan wanita yang sedang duduk di depan meja rias mengeringkan rambut panjangnya yang basah.
"Gila sich si Reno, maaf-maaf ya Ren jangan ke ganggu sama omongan gue loe di sono! ntar bangun lagi. Cuma loe parah sich, bertahun-tahun hidup sama perempuan kayak dia cuma loe siain gitu dan loe main sama barang soak sampe mati gara-gara penyakitan!"
Tio menggelengkan kepala, karena memang selain cantik Ceri sangatlah lembut dan keibuan. Apa lagi setelah melihat rambut panjangnya yang terawat begitu indah. Di cintai wanita sepertinya merupakan keberuntungan tapi Tio menyayangkan sikap Reno tidak bijak dan hanya menoreh luka.
__ADS_1
"Tunggu....berarti kalo gue juga nggak bisa cinta sama dia, gue juga gila donk.... anjiiiiiir "
"Tio, loe kenapa?"
"Hah!" Tio tercengang melihat Ceri tiba-tiba datang dan menghampiri. Mulutnya menganga melihat sosok wanita berambut panjang berdiri di depannya.
Sebelumnya mata Tio seakan tertutup, walaupun dia mengakui kecantikan Ceri. Tapi setelah melihat mahkotanya Tio begitu di buat terpanah hingga kehabisan kata-kata.
"Kenapa sich?" tanyanya heran, kemudian Ceri mengangkat Rayya untuk di beri asi.
"Dibikin bego gue sama dia....."
Tio segera beranjak dari ranjang saat melihat Ceri membawa Rayya keluar kamar.
"Eh loe mau kemana?" cegahnya.
Ceri berbalik menatap heran wajah Tio yang tiba-tiba garang dan menatapnya begitu tajam.
"Mana hijab loe? enak aja keluar modelan kayak gini. Mau gue botakin rambut loe?" sewot Tio. Sedangkan Ceri sebelumnya sudah terbiasa karena memang tak ada pria lain di rumah ini. Dan hari ini masih sangat pagi untuk tamu datang berkunjung.
Ceri tak membantah, tak juga mengeluarkan kata. Ia memberikan Rayya pada Tio dan berjalan menuju lemari mengambil hijab dengan warna senada dengan gamis yang ia kenakan.
Tio terus memperhatikan hingga selesai dan Ceri kembali menghampirinya. Wanita itu menatap Tio dengan ragu kemudian mengambil Rayya lalu keluar dari kamar.
Setelah rapi dengan pakaiannya, Ceri tiba-tiba masuk kamar kemudian mengambil alih dasi yang ada di tangan Tio. Tanpa berucap apapun Ceri memasangkan dengan gerakan lembut dan mata fokus.
Hal pertama yang Tio dapatkan dari seorang wanita dan itu membuat Tio menahan nafas dengan jantung berdebar berkali-kali lipat.
__ADS_1
"SHIIITT ngapa pake slow motion gini sich! bisa cepet mati gue...."
Mata keduanya saling mengunci saat tak sengaja Ceri mendongak menatap Tio yang juga melihatnya. Tangan Ceri masih terampil melilit dasi hingga rapi.
"Sudah." Kata pertama yang Ceri ucapkan setelah Tio di buat mati gaya. Lalu mengambil jas dan tas kerja kemudian turun menuju meja makan.
Tio menghela nafas lega setelah Ceri keluar, ntah magnet apa yang di pasang oleh wanita itu hingga membuat Tio yang notabene santai dalam segala hal di buat tegang hingga si Beno ikut bergoyang.
"Diem nggak usah latah! loe nggak liat gue hampir butuh nafas buatan!" ucapnya melihat kebagian celana yang terlihat sedikit menonjol akibat ulah Ceri.
"Reaksi loe kebangetan Beno, belum saatnya jadi jangan ngadi-ngadi!"
Tio segera memakai sepatu kemudian keluar kamar untuk sarapan.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Ceri saat melihat Tio meraih jas lalu dengan cekatan Ceri beranjak untuk membantu.
"Iya, project baru belum kelar. Nanti antar Regan dulu ya, nggak apa-apa kan?" tanyanya dengan sekilas melirik Ceri kemudian meraih tas kerjanya.
"Iya nggak apa-apa, hati-hati ya." Ceri mengantar Tio sampai teras, mencium punggung tangan Tio seperti biasa dan menatap pria itu hingga tak terlihat. Ntah apa yang ia rasakan, Ceri menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan. Dirinya pun bersyukur di pertemukan walaupun dengan awal yang penuh drama.
" Loh kok balik lagi?" tanya Ceri heran, di saat ia membalikkan tubuhnya, sesaat langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara sepatu orang berlari masuk dari arah pagar. Dan ternyata itu Tio, berlari menghampiri dengan meninggalkan mobilnya yang sudah berada di luar pagar.
"Ada yang ketinggalan," ucapnya datar dengan tatapan yang membuat Ceri semakin heran. Tapi itu tak lama, mata Ceri mengerjap saat merasakan benda kenyal singgah di keningnya dengan hangat dan begitu dalam. Seketika bayangan saat keduanya melaksanakan ijab kabul kembali hadir.
Ini kecupan kedua setelah menikah. Padahal kemarin sempat sama-sama bertukar Saliva, tapi nafsu yang lebih mendominasi dalam pertikaian lidah saat itu. Dan kini hati keduanya mendadak berdesir, bergetar, hingga mulut Ceri menganga tak kuasa berkata.
Tio pergi dengan wajah merona sama seperti Ceri yang kini sudah seperti tomat dengan wajah terpanah.
__ADS_1
"Udah...... abis ngambil yang ketinggalan terus di tinggal kabur gitu aja....rasanya kayak di tinggal pas sayang-sayangnya."
Ceri mengusap kening, Tio berlari meninggalkan hati yang berantakan dan yang kening basah. Apa yang ia pikirkan, bisa-bisanya kembali setelah pergi. Dan berlalu meninggalkan jantung yang kini masih bertalu.