Menikahi Janda

Menikahi Janda
Sembuhlah...


__ADS_3

Tio terdiam dengan tubuh bergetar, dengan mendekap Rayya dia menoleh ke belakang. Matanya terpejam melihat siapa orang yang tiba-tiba mendekati dan memeluknya hingga jatuh tergeletak.


Wajah pucat dengan mata sayu yang semakin melemah, tersenyum indah memandangnya dengan meneteskan air mata. Tio tersungkur, air matanya tak dapat lagi terbendung. Ia tak tau semua kan terjadi secepat ini. Dan kini dunianya seakan terhenti.


"Cepat selamatkan Rayya....aku titip anak-anak."


Tio menggelengkan kepala, Papah segera mendekat dan mengambil alih Rayya. Sedangkan polisi segera masuk meringkus semua penjahat yang ada di sana termasuk Tiwi yang sekarang sedang tertawa bahagia melihat musuhnya tumbang.


Tio mengangkat tubuh lemah itu dan segera membawanya keluar bangunan. Hatinya hancur, tak menyangka wanitanya datang dan menyelamatkan dirinya. Bibir Tio bergetar dengan degup jantung yang tak beraturan. Ketakutan yang kini ia alami di ambang batas normal. Ia tak akan memaafkan dirinya sendiri andai Ceri tidak dapat terselamatkan.


"Sabar sayang...kamu kuat...demi anak-anak kamu harus mampu bertahan hiks hiks hiks...." Tio terisak dengan terus mendekap, pakaiannya sudah basah dengan darah Ceri yang terus bercucuran. Sedangkan Rayya berada di dalam mobil Papah dan sudah mendapat pertolongan.


"Cepat Seto! ngebut anjing!" Tio sudah benar-benar tak sabar, wajah Ceri sudah sangat pucat. Tio tak membayangkan jika sampai terjadi sesuatu pada istrinya. Cinta yang baru tumbuh bersemi dengan indah beberapa hari ini tak mungkin ia rela jika harus layu kembali.


Tio terus menangis mengecup kening Ceri hingga tak mampu berkata-kata lagi. Mobil melaju dengan sangat cepat, beruntung malam hari, saat mobil memasuki pusat kota jalanan tampak lenggang.


"Tolong istri saya Dok!"


"Sabar Pak, kami akan melakukan yang terbaik untuk istri bapak!" Tio tersungkur dan bersimpuh memohon ampun. Ia tak sanggup menatap ke depan jika Ceri tak terselamatkan.


"Ampuni aku Tuhan, ampuni segala kesalahanku, kali ini aku mohon padaMu selamatkan istriku..hiks hiks hiks....aku mohon.."


Papah segera menghampiri Tio setelah meminta perawat untuk membawa Rayya masuk kedalam ruang pemeriksaan. Papah Juna tak tega melihat Tio begitu lemah. Beliau memeluk tubuh anaknya menguatkan agar Tio bisa kembali berpikir positif dan mampu melewati itu semua.


"Pah Ceri Pah.... Ceri....." Tio menumpahkan semua kesedihannya pada sang Papah. Ini kali pertama Tio menangis meraung di pelukan Papahnya semenjak Tio beranjak dewasa. Hati orang tua pasti teriris melihat anaknya serapuh dan sesedih ini. Apa lagi baju Tio penuh darah dan acak-acakan, sangat memprihatinkan.


"Kamu kuat, kamu bisa lewati ini semua dengan baik. Ceri pasti akan selamat... Sekarang bergantilah pakaian nak sebentar lagi pasti dokter selesai menangani Ceri dan kamu bisa menemuinya dengan keadaan lebih baik."

__ADS_1


Tio melepaskan pelukannya, ia melihat bajunya penuh darah Ceri, ia kembali meneteskan air mata setelahnya pamit untuk berganti pakaian yang selalu tersedia di dalam mobilnya. Seto pun tak membiarkan Tio sendirian, ia segera menyusul Tio keluar dan membantunya. Sedangkan temannya yang lain ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.


.


.


.


"Bagaimana dengan kondisi istri saya Dok?" tanya Tio yang sudah tak sabar untuk mengetahui keadaan Ceri. Hampir tiga jam dokter di dalam, berusaha mengeluarkan dua peluru yang menembus hingga ke jantung Ceri.


"Peluru berhasil di keluarkan tapi..." dokter menghela nafas panjang dengan membenarkan letak kaca matanya.


"Tapi apa dok?" desak Tio dengan mencengkeram kedua lengan dokter tersebut.


Papah yang melihat Tio begitu emosi segera menarik Tio hingga mundur beberapa langkah.


"Bagaimana Tio sabar Pah, istri Tio di dalam sedang berjuang! Cepat katakan bagaimana keadaan istri saya Dok!" Tio benar-benar kalut, ia seperti sudah kehabisan kesabaran dan tak mampu lagi menahan sesak di dada.


"Istri anda kritis, jika tidak ada perkembangan yang signifikan dalam jangka waktu tiga hari, saya anjurkan untuk operasi jantungnya dan jika tidak memungkinkan pasien harus segera mendapatkan cangkok jantung. Karena kedua peluru telah merusak jantung pasien."


Kaki Tio melemah, hingga Seto dan papah Juna segera meraih tubuh Tio agar tak terjatuh ke lantai. "Ceri...."


"Sabar Tio, ayo kita masuk melihat keadaan Ceri. Sudah boleh di lihat kan dokter?"


"Boleh setelah pasien di pindahkan ke ruangannya. Tapi saya harap satu persatu agar tidak menggangu pasien!"


"Baik dok, terimakasih."

__ADS_1


Tio di bawa oleh Papah Juna dan Seto untuk duduk di bangku tunggu, keduanya tau ini sangat berat untuk Tio. Apa lagi usia pernikahan mereka baru seumur jagung dan sedang bersemi tetapi musibah kembali hadir.


"Anak Papah kuat! kamu jagoan Papah ...kasihan Ceri jika kamu rapuh seperti ini nak. Dia pasti akan sedih."


Tio tak bisa berkata-kata lagi, hatinya sesak hingga air matanya terhenti seketika. Pandangannya kosong dengan tubuh tak berdaya. Kondisi Ceri memprihatinkan dan apakah dia mampu berdiri sedangkan sebelah jiwanya sedang kritis dan terkulai di atas brangkar rumah sakit.


Setelah di rasa mampu dan menguatkan kembali hatinya, Tio masuk kedalam ruangan Ceri. Pria itu melangkah perlahan menatap miris sang istri dengan banyaknya alat yang menempel di tubuhnya.


Perlahan langkahnya membawa Tio mendekati ranjang Ceri, air matanya kembali membasahi pipi. Dadanya semakin sesak menahan isak.


Tio meraih jemari Ceri, menggenggamnya dengan lembut dan mengecup begitu dalam. Tio tak tahan menatap wajah pucat dengan gurat kesedihan. Jika di ijinkan, ia ingin dirinya lah yang ada di posisi itu. Bukan Ceri atau siapapun.


"Sayang ..."


"Sayang maafin aku..."


"Maaf belum bisa menjadi suami yang baik, maaf telah membuatmu begini. Ini salahku, jika aku tidak menikahimu mungkin kamu tidak akan mengalami kejadian sesakit ini. Maaf aku gagal melindungimu...maaf sayang...."


Tio menundukkan kepala, ia tak mampu menahan tangisnya. Penyesalan begitu menguasai dirinya, karena dia Ceri terluka, karena dia wanita yang ia cintai harus menjadi korban. Andai tak menuruti keinginan Regan dan tetap menikahi wanita gila itu mungkin tak akan terjadi seperti ini.


"Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi untuk menjadi suami yang baik untuk kamu, menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Sembuhlah sayang, aku rapuh tanpa kamu. Jangan pernah tinggalin aku, maaf jika cinta kita tumbuh terlambat tapi kita baru memulai, apa kah kamu nggak mau merasa di ratukan olehku?"


"Aku mohon bertahan sayang, kamu harus kuat, apapun akan aku lakukan untuk kesembuhan kamu."


Tio menghela nafas berat, ia menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak terdengar. Mengecup kening sang istri begitu dalam hingga ia tak mampu lagi menopang tubuhnya.


Brukk

__ADS_1


__ADS_2