
Tiwi masuk ke dalam kamar dan menyambar apapun yang ia lihat. Kamarnya berantakan bahkan kaca riasnya pun sudah pecah. Dia menangis dengan emosi yang memuncak.
Sedangkan sang papah yang mendengar suara jatuh dan kerusuhan di kamar Tiwi hanya bisa membuang nafas kasar dan memijit pelipisnya menahan kepeningan membayangkan kehancuran hati putrinya.
"Gue nggak akan biarin kalian bahagia begitu saja! gue bakal rebut Tio lagi dan nggak akan biarin kalian berlama-lama bersama!" geram Tiwi dengan tangan yang sudah terluka karena terkena serpihan kaca.
Ia tak terima penolakan dari Tio dan ia pun tak terima jika Tio bersama Ceri begitu saja. Sedangkan ia yang kenal lebih lama bahkan sampai bertunangan. Dan dengan seenaknya Ceri mengambil kesempatan hingga acara yang akan berlangsung beberapa hari lagi tinggal kenangan.
Dering ponsel Tiwi membuat langkahnya segera mencari keberadaan benda pipih tersebut. Nama Sella tertera di layar ponselnya dan tanpa menunggu lama Tiwi segera menerima.
"Assalamualaikum Tiwi."
"Wa'allaikumsalam Sell."
"Wi....suara loe, loe nangis ya?"
"Gue sedih banget Sell, Tio jahat banget sama gue!" Tiwi kembali terisak, hanya Sella yang sejak dulu menjadi sahabat terbaiknya. Tempatnya berkeluh kesah, apa lagi sang mamah yang sudah tiada membuatnya tambah kesepian.
"Sabar ya Wi, gue tau ini berat banget. Tapi apa yang membuat Tio membatalkan begitu aja? Hubungan kalian baik-baik aja kan?"
"Hubungan kita baik-baik aja Sell dan loe tau sendiri kan undangan aja udah disebar. Tapi seenaknya dia menikahi janda itu Sell!"
"Janda? janda siapa maksud loe?"
"Ceri Sell, Tio nikahin Ceri."
__ADS_1
"Yang bener Wi?"
"Iya Sell, ternyata mereka sudah melangsungkan akad tadi siang. Gue nyari-nyari dia nggak ada dan ternyata dia nikahin Ceri di rumahnya. Sakit hati gue Sell, dia udah ngerebut Tio dari gue. Udah buat semua berantakan."
"Tiwi, gue tau ini berat tapi loe harus sabar ya. Ini ujian Wi, mungkin jodoh loe bukan Tio. Dan Allah pasti akan memberi pria yang terbaik buatan loe!"
Tiwi hanya diam, tak ada niat untuk menjawab ucapan Sella. Kemudian tanpa perduli dengan seruan Sella ia mematikan panggilannya. Membuang ponsel itu yang kembali berdering dengan nama panggilan yang sama.
"Loe sama aja sama Tio Sell! loe lebih belain Tio dari pada gue! loe cuma bisa bilang sabar karena nggak ada di posisi gue! gue benci loe berdua! gue benci kalian semua!" teriak Tiwi dengan menarik spreinya hingga bantal berserakan di lantai.
Hati Tiwi penuh dengan dendam, memendam rasa sejak SMA yang hanya diam dan tak berani ia tunjukkan. Sedangkan sekarang saat ada kesempatan tetapi takdir seperti mempermainkan. Hingga ia begitu marah dan akan merusak semua yang ia anggap jahat.
Dalam perjalanan pulang Tio dan kedua orangtuanya belum ada yang membuka suara, mereka masih memikirkan hal gila yang Tiwi ajukan. Tapi cukup lega karena Tio tak terperangkap dalam nafsu semata.
Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing, sama halnya dengan Tio. Mulai malam ini ia sudah harus tinggal bersama degan Ceri dan kedua anaknya. Sesuatu yang menantang apa lagi harus satu ranjang. Hingga tepukan di pundak membuyarkan lamunannya.
"Tio, mamah bangga sama kamu nak, kamu tidak terpengaruh dengan Tiwi yang mengimingi kebahagiaan dunia. Tapi kamu masih memikirkan hati istri kamu. Mamah tak bisa membayangkan jika hari ini kamu menikahi dua wanita. Meskipun mamah tau, berada di posisi Tiwi pasti tidak mudah. Hatinya pasti sakit menerima kenyataan jika pernikahan di batalkan tanpa ada perpisahan sebelumya."
Tio terkekeh mendengar ucapan sang mamah, seru juga menikahi dua wanita dalam satu hari. Hingga pukulan dari papah singgah di pahanya. Bahkan ia seakan tidak perduli dengan ucapan mamah yang memikirkan hati Tiwi.
"Pikiran kamu! untung saat di sana kamu sedang waras. Andai seperti ini, pasti mamah kamu yang menjadi nggak waras sekarang," celetuk Papah.
Tio semakin terbahak, pria itu menoleh ke arah papah dan mamah nya sekilas kemudian kembali fokus ke jalan.
"Aku tau mana yang terbaik dari keduanya, walaupun mereka sama-sama belum aku cinta. Dan aku tau apa yang ada di otak Tiwi tadi. Jika di nalar nggak akan ada wanita yang mau di madu, tapi dia sukarela. Apa coba kalo nggak ada tepung di balik udang?"
__ADS_1
"Udang di balik tepung!" ralat papah.
"Udang di balik batu! kalian ini bapak sama anak sama saja. Sepertinya hanya mamah yang waras. Dan mamah harap menantu mamah tidak ikut gila karena dekat-dekat denganmu Tio!"
"Jahatnya mamah!"
Setelah mengantar kedua orang tuanya pulang dan mengambil beberapa pakaian dan barang-barang yang penting miliknya, kini Tio menuju rumah Ceri, wanita yang siang tadi telah sah menjadi istrinya.
Tio sampai tepat di jam makan malam, masuk ke rumah dengan salam dan disambut hangat oleh Regan yang sekarang telah menjadi anak angkatnya.
"Papah...." Regan turun dari kursi dan berlari mendekati Tio yang kini tersenyum lebar melihat jagoannya tertawa bahagia.
"Jagoan!" Tio mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya kembali ke meja makan. Disana sudah ada Ceri yang sedang menata makanan. Melirik Tio sekilas kemudian kembali ke dapur membuatkan Tio teh hangat.
Tio mendudukkan Regan di kursinya tadi dan meminta anak itu segera makan. Dia pun ikut duduk setelah menggulung lengannya.
"Apa Rayya sudah tidur boy?"
"Sudah Om, eh Pah..."
Tio tersenyum mendengar panggilan Papah yang tersemat untuknya. Jika kembar memanggilnya dengan sebutan Daddy, tampaknya Regan lebih nyaman memanggilnya dengan sebutan Papah. Walaupun masih belum terbiasa.
Ceri kembali dengan secangkir teh hangat dan meletakkannya di depan Tio. Kemudian duduk di sebelah Regan.
"Regan ayo makan nak!" Ceri dengan telaten menyiapkan makan untuk Regan, tidak hanya itu saja. Dia pun mengisi piring Tio dengan makanan yang telah ia masak. Kemudian meletakkan kembali piringnya di depan Tio.
__ADS_1
Semua gerakan Ceri tak luput dari pandangan Tio, hal pertama yang Tio dapatkan. Di layani saat makan seperti papah yang di layani dengan baik oleh mamahnya. Walau tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Ceri tapi ia tak abai dan tau akan kewajiban.