Menikahi Janda

Menikahi Janda
Bantu Gue


__ADS_3

Tio pulang dengan pakaian berantakan dan rambut acak-acakan. Dia masuk dengan melewati Regan yang sedang bermain dan tak memperdulikan seruan bocah itu.


Pria itu berlari menuju kamar hingga mengejutkan Ceri yang baru saja menidurkan Rayya di boks bayi. Bahkan tiga kancing bagian atas belum sempat ia kaitkan dan Tio sudah menerobos masuk ke dalam kamar.


"Tio, kok tumben udah pulang? biasanya pulang mal_"


grep


Tio menarik tubuh Ceri masuk ke dalam pelukan, nafas Tio tersengal dengan dada naik turun tak beraturan. Bahkan wajahnya sudah memerah sejak meninggalkan kantor serta Tiwi yang masih berada di ruangannya.


Mendapati Tio yang pulang lebih awal saja sudah membuatnya heran, di tambah lagi dirinya yang tiba-tiba di tarik oleh Tio hingga kini merasa sesak karena pelukan yang begitu erat.


Tangan Ceri mengusap punggung Tio mencoba menenangkan. Melihat Tio yang datang berantakan membuatnya tau jika Tio sedang ada masalah. Dan ia mencoba untuk merenggangkan dan menanyakan tapi Tio justru semakin mengeratkan.


"Maaf....." lirihnya membuat hati Ceri semakin tak tenang.


"Ada apa Tio?"


"Bantu gue...."


"Bantu apa?" Ceri berusaha melepas pelukan Tio lagi tapi lagi-lagi Tio tak mau melepaskan.


"Bantu gue Ceri, bantu gue menghapus jejaknya...."


deg


"Je....je..jejak apa maksud loe Tio?" Pikiran Ceri semakin merajalela. Sebagai istri yang pernah di khianati, ia paham betul jika Tio sedang ada masalah dengan wanita. Apa lagi sejak tadi Ceri mencium bau parfum wanita yang begitu menyengat dari kemeja Tio.


"Jangan marah....bukan gue, bukan gue yang mau. Tapi dia yang udah_" Lagi-lagi Tio diam dan tak melanjutkan ucapannya, tangan Tio terkepal menahan emosi yang sejak tadi ingin meledak-ledak tapi ia tahan karena tidak ingin menimbulkan keributan di kantornya.


"Yang jelas kalo ngomong Tio! gue nggak ngerti dan jangan buat gue berasumsi sendiri!" tegas Ceri. Dia tau Tio sedang tak baik-baik saja, tapi alangkah baiknya jika di bicarakan dari pada timbul pemikiran yang bukan-bukan. Karena sejak tadi Ceri sudah berusaha keras menampik segala pemikiran negatif yang datang memenuhi otak.


"Tiwi...."


deg

__ADS_1


Hati Ceri berdenyut mendengar nama wanita yang ia tau masih mencintai Tio, pikirannya kembali berkecamuk. Apa yang ia tampik tadi kembali menguasai hingga bayangan akan perselingkuhan kembali mengorek luka lama.


"Maaf..." lirih Tio semakin tak ingin melepaskan tubuh Ceri, Tio takut, Tio kalut, dan Tio tak ingin Ceri menjauh.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ceri, ia berusaha untuk tetap tenang walaupun hatinya seperti di siram air garam.


Tio kembali mengingat apa yang terjadi dengannya dan Tiwi tadi, semua rasa begitu terasa dan membuatnya ingin murka.


Tio menarik nafas dalam, ia mencoba menenangkan pikiran, menghirup banyak-banyak aroma tubuh Ceri hingga ia bisa merenggangkan tapi tidak untuk melepaskan.


Tangan Tio masih melingkar di pinggul Ceri. Dan itu sedikit melegakan setidaknya dada Ceri tak sesesak tadi. Keduanya saling menatap, Tio menguatkan hati untuk jujur dan Ceri pun menguatkan hati untuk mendengar semua yang terjadi.


"Gue gagal...." lirih Tio dengan mengikis jarak, hingga kedua kening saling menyatu.


"Gue nggak bisa jaga milik loe...."


"Tolong bantu gue hapus jejaknya Ceri...."


"Kenapa bisa?" Ceri membendung air mata, dia masih tenang dan berusaha mendengarkan.


Tio terus meminta maaf, ntah mengapa ia sangat merasa bersalah dengan Ceri setelah apa yang terjadi tadi. Ceri yang berhak atas dirinya bukan wanita lain terlepas bagaimana perasaannya saat ini.


Ceri tersenyum getir mengetahui fakta jika selama ini Tio sering bertemu Tiwi. Sadar, ia sangat sadar jika hatinya tak terima. Dia tidak ikhlas dan tak munafik jika ia kecewa.


Melihat reaksi dari Ceri yang tiba-tiba melepas tangannya di pinggang Tio, pria itu segera menggelengkan kepala.


"Tolong dengarkan dulu!"


"Apa ini alasan sebenarnya loe pulang larut malam terus? kalian ada ma...mmmmppptttfff..."


Tio tak tahan, ia membungkam bibir Ceri dengan bibirnya. Membuang ingatan akan apa yang terjadi bersama Tiwi tadi kembali terlintas. Melepaskan segala emosi yang sejak tadi ia tahan. Tio terus berusaha menerobos pertahanan Ceri, ntah mengapa begitu sulit atau mungkin Ceri sakit hati hingga tak ingin memberi akses untuk Tio masuk.


"Buka sayang...."


deg

__ADS_1


Ceri terkejut dengan panggilan yang ntah sadar atau tidak keluar dari mulut Tio hingga Ceri menganga di buatnya, dan itu di jadikan kesempatan untuk Tio memperdalam lidahnya yang aktif bergerak.


Tio terus bergerak membelit dan menyesaap, tetapi Ceri masih diam dengan segala pikiran dan hati yang semakin kacau.


"Bales gue Cer...bantu gue hilangin semuanya. Loe wajib meninggalkan kenangan manis di sini dan jangan biarin bekasnya masih membekas di bibir dan ingatan gue," bisik Tio kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang belum usai.


Ceri membalas, ntah mengapa ia seakan takluk dengan apa yang Tio katakan. Bergerak aktif mengimbangi dan saling membelit.


Tio meraih tangan Ceri kemudian mengalungkannya di pundak. Balasan yang Ceri berikan membuat Tio semakin menuntut dan memburu. Kembali mendekap tubuh wanita yang halal baginya.


Cari menepuk dada Tio, nafasnya tersengal dan membutuhkan banyak-banyak udara. Tio melepaskan, mengatur nafas dengan menatap wajah cantik yang kini menunduk merona.


"Maaf ya dan makasih sudah meninggalkan kesan manis. Menghilangkan bekas wanita yang tak semestinya menikmati," lirih Tio.


Tio meraih dagu Ceri, menatapnya dalam dan mengecup kening wanitanya, ia tau sejak tadi Ceri berpikir buruk atas apa yang ia lakukan. Dan Tio pun paham jika hati Ceri patah.


"Maaf ya udah nyakitin, tapi gue udah berusaha menghindar. Dan gue harap loe bisa maafin gue."


Tio membuka kancing kemejanya, Ceri yang melihat itu segera membuang muka dan Tio tersenyum tipis melihatnya.


"Kenapa?"


"Masuk kamar mandi sana!"


Tio tak menghiraukan, dia membuka kemejanya dan membuang ke sembarang arah. Kembali mengikis jarak hingga Ceri tak mampu menghindar.


"Lihat!"


Ceri belum ingin melihat, bahkan ia kini menahan nafas. Hingga Tio merangkum kedua pipinya agar Ceri melihatnya dengan jelas.


"Udah lihat kan?"


Ceri sudah menahan malu, tak mengerti dengan apa yang Tio mau. Pertama kalinya melihat bagian atas tubuh Tio. Dada bidang dengan otot kekar dan jangan lupakan perutnya yang atletis menambah kesan sexy.


"Gue masih perjaka!"

__ADS_1


Tio mengusak rambut Ceri dan melangkah menuju kamar mandi.


__ADS_2