Menikahi Janda

Menikahi Janda
Berteman


__ADS_3

Setelah mengantar Regan Tio segera berangkat ke kantor, hari ini jadwal cukup padat. Beruntung ada Seto yang membantu dan sekretarisnya si sexy penunggu lantai teratas sudah lihai dalam bidangnya.


Tak ada yang berubah dari Tio setelah menikah, hanya ada yang menunggunya pulang kantor saja dan ada yang menyiapkan kebutuhan di rumah. Selebihnya belum ada yang menggetarkan hati dan merobohkan cinta pertama yang tak mungkin terjamah.


Bekerja dengan serius, mencapai apa yang ia mau untuk membahagiakan kedua orang tuanya dan mencukupi kebutuhan keluarganya. Belum ada yang spesial sebagai penyemangat. Tapi itu tak membuat Tio gentar dalam bekerja.


Walaupun sekarang sudah mulai terbiasa bangun dan tidur menatap wajah cantik wanita yang berstatus istri. Tapi tak merubah apapun, karena memang status yang mengharuskan mereka harus bersama bukan karena rasa.


Entah kapan cinta itu akan datang, Tio pun tak menutup hati. Tapi ia ingin menjalani tanpa planning yang membuatnya berambisi. Jika memang nanti datang rasa ia tak akan menolak dan akan belajar lebih menerima.


Hingga siang ia masih berkutat di depan laptop, setelah meeting pagi tadi ia belum kunjung keluar ruangan. Sampai makan siang pun ia abaikan. Tanpa sadar seorang wanita duduk di seberang meja menatapnya dengan senyuman.


"Siang Tio."


Tio menggeser laptopnya yang menghalangi wajah wanita itu dan menatap sekilas lalu kembali fokus dengan apa yang ia kerjakan.


"Jangan sombong-sombong, kita masih sahabatan loh!" ucapnya tapi tak sedikitpun mengusik hati Tio.


"Kenapa? mau mutusin persahabatan kita? apa istri loe nggak ngijinin kita temenan?"


"Kalo nggak ada pembahasan penting silahkan keluar, gue masih banyak kerjaan dan loe ganggu gue!" ucapnya datar tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop yang ada di hadapannya.


Tiwi tersenyum getir, sudah Tio sulit di gapai sekarang mereka semakin jauh karena status yang tak bisa bersatu. Tiwi datang untuk kembali mendekati Tio dengan mengatasnamakan sahabat, dia yakin Tio pun belum mencintai Ceri jadi masih mudah untuk dirinya kembali mendekat.


"Nggak usah galak-galak Tio! loe buat gue makin penasaran, gue cuma mau hubungan kita kayak dulu lagi. Setidaknya berteman baik, bukan saling bermusuhan seperti ini."


"Status gue udah beda Tiwi, gue nggak mau menimbulkan fitnah."


"Tapi belum banyak yang tau sama status loe juga!" Tiwi masih kekeh saja, ia tak ingin mendapatkan penolakan lagi dari Tio.


Tio menutup laptopnya, memandang wajah Tiwi yang akhir-akhir ini membuatnya kesal. Sikap dan sifat yang jauh dari yang ia kenal membuat Tio semakin ilfil saja.

__ADS_1


"Apa niat loe kesini?"


"Gue cuma mau memperbaiki hubungan kita, berteman baik dan melupakan masalah yang ada. Tanpa harus ada perdebatan dan permusuhan."


"Gue terima ajakan loe! kita berteman tapi loe harus tau batasan!" sahut Tio, kemudian dengan mata berbinar Tiwi segara meraih tangan Tio tetapi segera di tepis olehnya. "Tau batasan Wi!"


"Oh...oke!" Tiwi segera menarik tangannya kembali.


"Udah kan? sekarang loe bisa pulang!" tegas Tio.


Mendengar itu Tiwi seketika menganga di buatnya, hanya ada kata tapi sikap Tio masih sama. Sulit di luluhkan dan kini seenaknya mengusir tanpa perasaan.


"Tapi Tio, nggak ada niat minum kopi dulu di cafe?"


Tio menatap jengah wanita di depannya, di kasih hati tapi minta empedu. Hanya membuang-buang waktu.


"Gue banyak kerjaan dan gue udah ngabulin keinginan loe. Jadi silahkan, pintu keluarnya masih sama."


Tiwi merengut kesal, dia beranjak dari sana kemudian pergi tanpa pamit. Tio hanya menatap datar kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.


Hari ini Ceri menyempatkan diri untuk memasak, sebenarnya ini adalah kegiatannya setiap hari. Tapi semenjak perginya sang papah, ia belum pernah sekalipun menyentuh perabot rumah tangga lagi, dia berpikir sudah tak ada yang begitu antusias memakan makanannya. Tapi entah ada angin apa, sore ini ia memutuskan untuk kembali masuk ke dapur. Mengeksekusi sayur dan daging yang ada di kulkas, sedangkan Bibi menjaga Rayya di ruang keluarga.


Pekerjaan ibu rumah tangga sudah lihai ia kerjakan. Dan mampu membagi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dengan bantuan Bibi juga. Masalah kantor memang masih ia percayakan pada asisten pribadi papah yang sudah sangat di percaya. Ia masih ingin menikmati masa-masa sebagai ibu baru untuk Rayya.


Setalah mengajari Regan belajar, Ceri segera beranjak menuju dapur. Memanaskan makanan untuk makan malam dan menyiapkannya di meja makan.


Ceri melirik jam dinding yang sudah menunjukkan angka 8, tapi Tio belum kunjung pulang. Tak seperti istri kebanyakan yang akan menelpon dan mengirimkan pesan, Ceri hanya diam dengan hati gamang.


"Regan makan dulu yuk nak, sudah malam. Mamah sudah siapkan, yuk!" Regan segera beranjak dari duduknya dan mendekati Ceri yang sudah berada di meja makan.


"Papah belum pulang mah, tunggu papah dulu baru Regan makan." Regan duduk di samping Ceri dan tak kunjung memakan makanannya.

__ADS_1


"Mungkin Papah sibuk, Regan makan dulu aja. Kasian perutnya sudah minta diisi." Ceri mengambil alih piring Regan dan menyuapinya makan.


Hingga makanan regan hampir habis barulah Tio datang dengan wajah lelah yang tersenyum menatap Regan menyambutnya di depan pintu.


"Papah..."


"Hai boy, maaf ya Papah baru pulang." Tio mengecup kening Regan setelah sang putra menyalami tangannya kemudian mengajak Regan masuk.


Ceri pun mendekati dan melakukan apa yang Regan lakukan, hanya bedanya Tio tidak mengecup kening Ceri.


" Mau makan apa mandi dulu?"


"Makan dulu aja dech, laper banget. Abis itu mandi langsung istirahat."


Ceri menganggukkan kepala kemudian menyiapkan makan untuk Tio dan dirinya. Sedangkan Regan sudah pamit masuk ke kamar karena ingin menemani adiknya.


"Beda, siapa yang masak?"


Ceri menoleh ke arah Tio, menatap wajah Tio takut-takut masakannya tidak cocok di lidah Tio.


"Gue yang masak, nggak enak ya?" tanyanya ragu.


"Enak, beda sama yang kemarin. Pinter masak juga," Tio melempar senyum di sela kunyahannya. Kemudian melanjutkan makannya.


"Makasih," Ceri tersenyum tipis menundukkan kelapa.


"Nggak usah di tahan senyumnya, keluarin aja. Gue tau hati loe senang."


Ceri segera membuang muka mendengar celotehan Tio yang membuat wajahnya merona.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Cover ganti ya, biar pas sama sosok Ceri...


Makasih sudah mampir 🤗


__ADS_2