
Dan benar saja setelah mengantarkan Regan ke sekolah, Tio sudah kembali lagi pulang ke rumah. Ia memutuskan untuk tidak masuk kerja untuk menambah waktu tidur yang tersisa. Tio masuk di sambut dengan tatapan heran dari Ceri. Tapi ia tak perduli, Tio segara mengangkat tubuh Ceri dan membawanya masuk kamar.
"Bi, titip Rayya!" seru Tio. Sedangkan Ceri sudah menunduk menahan malu. Ceri belum mengeluarkan sepatah kata pun bahkan ia masih sangat terkejut dengan tio yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Hingga sampai di dalam kamar, Tio menurunkan Ceri tepat di depan belakang pintu. Tio segara membungkam bibir Ceri yang akan protes. Pintu kamar pun sudah tio tendang hingga kini tertutup dan mendorong perlahan tubuh Ceri ke arah ranjang.
"Temenin aku tidur sayang!" Tio menyapa wajah ayu sang istri yang sudah memerah.
"Nggak kerja?" tanyanya dengan tatapan heran tapi entah mengapa begitu senang. Ceri pun merasa bersalah setelah semalam hanya membuat tegang tetapi di biarkan hingga menidurkan sendirian. Tapi apa benar suaminya ingin mengajak main di pagi yang mulai beranjak ini. Apa benar hanya meminta di temani tidur. Ceri tidak mau besar kepala dulu, tampaknya ia harus malu-malu tapi mau. Memasang wajah seperti kucing manis tetapi hati menggebu ingin.
"Mau tidur!" jawabnya singkat dan segera menjatuhkan tubuhnya di samping Ceri dengan memejamkan mata. Melihat Tio yang tampak tertidur, Ceri pun mendengus dan segera beranjak namun pergerakannya terkunci oleh Tio.
"Mau kemana, hhmm?" bisiknya dengan memeluk Ceri dan membuka hijab yang wanita itu kenakan.
"Katanya mau tidur, ya udah tidur mas! aku mau main sama Rayya aja! pamali masih pagi tidur, gula darah naik malah bahaya." Ceri kembali ingin beranjak tetapi pelukan Tio semakin erat.
"Bukan gula darah aja yang naik, Beno juga sudah menjulang tinggi. Tapi sepertinya istri aku ngambek, baru di tinggal merem belum tidur beneran. Ini bibirnya sudah minta di lumaat, sepertinya kamu yang kali ini menginginkan, hhmm?" Tio menyusuri leher sang istri dan memberi tanda sayang disana. Dia berhasil menggoda Ceri, dia paham Ceri bukan wanita yang dapat menahan jika sudah on fire.
Dan akhirnya senyum di balik wajah merona itu terlihat dan kini Tio yang di serang balik hingga Beno kembali menerima jatah yang telah di tunggu-tunggu. Bumil satu ini membuatnya melayang bahkan tak menyangka jika akan sekuat itu, Tio menyeringai kala Ceri terus bergerak di atas meskipun peluh sudah membanjiri tubuhnya.
"Nikmati sayang, ini sungguh melenakan. Tapi apa aku tidak boleh bergerak? sepertinya istriku mulai kepayahan." Tio mencengkeram lembut kedua benda yang semakin hari semakin mengambang. Mungkin karena efek kehamilan membuatnya semakin penuh di genggaman Tio.
__ADS_1
"Hhmmm.... lututku mulai lemas mas, tapi kenapa Beno begitu kuat. Apa karena semalam pemanasan hingga begitu menantang dan tak terkalahkan?"
Tio membalik tubuh Ceri dan kini dirinya lah yang menguasai Medan pertempuran. Bergerak berirama dengan tempo sedang agar tak mengganggu baby yang ikut menari di dalam sana.
"Kamu sudah kenal dia sayang, beginilah jika sudah ingin. Dan jangan lagi membuatku bekerja sendiri, karena dia sungguh merepotkanku."
Keduanya menghabiskan kegiatan yang menguras tenaga tetapi sangat memuaskan hingga kini Ceri tertidur pulas dan Tio segera bersiap menjemput Regan.
"Makasih sayang, aku mencintaimu dan sangat menyayangimu. Lemas juga dia, sungguh menggemaskan istri aku bergaya ingin terus di atas padahal kaki sudah lemas. Tampaknya kamu sangat puas sayang....cup" Tio mengecup pundak polos Ceri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.
.
.
.
"Jagoan Papah bahagia sekali, ada apa nak?" tanya Tio saat keduanya sudah masuk ke dalam mobil.
"Karena Regan senang Papah jemput sekolah dan Regan juga senang karena besok kembar ulang tahun Pah." Regan tampak begitu antusias, bahkan ia menceritakan kedua gadis yang dekat dengannya tanpa lelah. Bahkan Tio melihat jika Regan mencintai salah satunya. Tapi masih terlalu dini jika Tio membahasnya. Membiarkan hingga nanti mereka dewasa pasti akan terlihat.
__ADS_1
Dan keduanya kini memutuskan untuk mencari kado untuk Naira dan Kaira. Tio melajukan mobilnya langsung ke mall terdekat. Keduanya berjalan beriringan dengan Tio yang menggenggam tangan Regan tetapi segera di lepaskan olehnya saat sudah memasuki kawasan toko boneka.
"Papah lihat!" Regan menunjuk ke salah satu rak dan disana ada berjejer boneka berwarna pink dan dengan cepat ia mengambil dua dengan warna yang sama dan bentuk yang berbeda membuat Tio mengernyitkan dahinya.
"Ini untuk mereka?"
"Iya Pah." Jawab Regan lantang tetapi justru membuat Tio memijit pelipisnya. "Yang ini untuk siapa?" Tio menunjuk boneka gajah berwarna pink yang begitu lucu.
"Untuk Naira." Regan dengan senyum lebar menunjukkan boneka gajah tersebut dan sudah dapat di pastikan jika boneka babi untuk Kaira. Kenapa tidak mengambil sama, kenapa harus berbeda dengan perbandingan yang sangat jauh. Sedangkan di rak banyak bentuk yang lain dengan warna yang sama. Apa dendam apa sebenarnya di hati putranya.
"Kenapa yang itu untuk Kaira?" tanya Tio memastikan.
"Karena Kaira lucu seperti boneka ini!"
Tio menganga dengan jawaban Regan dan segera mengajaknya pulang setelah membayar kedua boneka itu.
"Kecil-kecil udah jago ngelawak, ya kali anak orang cakep-cakep di kata lucu kayak.....aish anak siapa sich ini." Tio menggelengkan kepala menatap Regan sekilas dan kembali fokus ke jalan.
...****************...
__ADS_1
Sepertinya aku akan melanjutkan kisah Regan, gimana menurut kalian? di sini atau di orange hitam? please coment ya....