Menikahi Janda

Menikahi Janda
Bertemu Sella


__ADS_3

Setelah memberi Rayya asi dan memastikannya tertidur kembali, kini Ceri bersiap menjemput Regan. Keadaan jalan sedikit macet karena ada perbaikan jalan di depan.


Ceri sempat bingung, putar balik pun tak mungkin. Sedangkan Regan sudah selesai belajar dan pastinya sudah menunggu kedatangannya. Hingga ia memutuskan untuk menghubungi guru pengajar agar Regan tak menunggu di luar pagar.


"Ya Allah, tunggu mamah ya nak." Ceri benar-benar menyalahkan dirinya sendiri, sejak pagi sudah lalai di tambah harus telat menjemput ke sekolah.


Berulang kali Ceri mendengus kesal, hingga ia dapat bernafas lega setelah sampai di depan sekolah Regan dan melihat putranya sedang duduk bersama dua anak kembar yang begitu cantik.


"Assalamualaikum anak mamah, maaf ya nak mamah telat."


Mendengar suara sang mamah Regan menoleh dan segera menghampiri. "Mamah..... wa'allaikumsalam."


Ceri menatap kedua anak kembar itu dengan mengerutkan dahi, seperti tak asing baginya. Tetapi anak siapa.....


Ceri tersenyum saat kedua anak kembar itu menghampiri dan menyalami dengan manis.


"Cantiknya kalian, Regan mereka siapa? apa anak baru?" tanya Ceri pada Regan yang sejak tadi memancarkan mata berbinar dan wajah ceria.


"Bukan mah, itu teman baru Regan. Anaknya Bapak itu!" Regan menunjuk ke arah pria yang mendekat dengan wajah berkharisma.


Lagi-lagi Ceri seperti sudah bertemu sebelumnya. Hingga sosok wanita berhijab keluar dari ruangan dengan menenteng tas merah dengan senyum mengembang.


"Sella...."


"Ceri, Hay....ya Allah ketemu disini. Gimana kabar kamu?" tanyanya setelah keduanya saling cipika cipiki ria.


"Alhamdulillah sehat, aku lagi jemput anak aku. Oh iya mereka anak-anak kamu?" tanyanya dengan antusias.


"Iya Cer, Naira dan Kaira. Anak pertama aku. Jadi Regan itu anak kamu?" tanya Sella lagi.


Kini mereka berdua memutuskan untuk duduk di bangku taman sedangkan anak-anak mereka bermain bersama Dimas. Pria itu sengaja memberi waktu untuk keduanya mengobrol melepas rindu.


"Iya, anak yang dulu sewaktu SMA sudah kamu ketahui keberadaannya. Kini menjadi jagoanku yang kelak akan melindungi Rayya."


Ceri menatap Regan yang sedang asyik tertawa hingga ia pun ikut tersenyum senang.

__ADS_1


"Lalu Tio?"


Ceri menoleh menatap Sella,Ceri memandangnya dengan tatapan penuh makna. Dia jadi bertanya-tanya, apakah Sella tau dengan pernikahan mereka.


"Kamu tau?"


Sella menganggukkan kepala, dia mengusap lembut punggung Ceri seraya memberi ketenangan.


"Aku tau karena saat itu Tiwi menelponku, dia bilang Tio menikahi kamu. Sempat terkejut tapi aku cukup mengerti karena jodoh sudah tertulis." Sella tersenyum mencoba menenangkan hati Ceri yang berselimut keraguan.


"Jangan khawatir, Tio orang baik. Dia pria bertanggung jawab. Hanya tinggal belajar bagaimana kalian bisa saling menerima."


Ceri menganggukkan kepala kemudian kembali menatap ke arah depan.


"Aku ragu Sell, Tio dan aku menikah hanya karena Regan yang butuh Papah. Dan kebetulan Tio lah yang ia inginkan. Jadi bukan asal saling suka. Walaupun aku tau Tio ikhlas dan mau menerima dengan mudah permintaan Regan."


"Aku pun masih merasa bersalah dengan kegagalan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari akan terlaksana. Tapi saat itu aku nggak tau harus bagaimana, sedangkan Tio benar-benar ingin mewujudkan keinginan Regan."


Sella mengerti mengapa Tio lebih mudah meninggalkan Tiwi dari pada Ceri. Ceri begitu lembut dan keibuan, sedangkan Tiwi mereka berdua pun tau bagaimana sikap Tiwi. Walaupun Sella belum tau perubahan yang Tio rasa saat bersama dengan Tiwi.


"Aku paham, tapi jangan berlarut dengan rasa bersalah. Kalian harus saling membuka hati, kamu tidak mau kan jika pernikahan ini berujung sia-sia? Aku paham ini berat untuk kalian, apa lagi di hati kalian masih ada masa lalu yang sudah tak akan bisa di raih. Jadi coba ikhlaskan dan buka lembaran baru. Aku yakin kalian bisa."


Ceri beruntung bertemu dengan Sella, orang yang menjadi batu kerikil di setiap rumah tangganya, tapi justru wanita baik yang mendukungnya.


Setelah mengobrol dan pikiran mulai tenang. Kini mereka berpamitan. Tak lupa Regan pun pamit dengan kembar yang mampu menarik hatinya. Hal itu dapat Ceri lihat dari mata Regan yang begitu berbinar melihat keduanya, apa lagi saat menatap Kiara.


"Salam buat Tio ya Ceri, bilangin jangan kaku-kaku jadi suami!"


"Jadi mereka_" tanya Dimas tak menyangka.


"Iya mas, Ceri istrinya Tio sekarang. Nggak nyangka ya mas, ternyata yang di pilih Tio adalah Ceri."


"Sudah jodoh sayang, mau pergi kemana juga mereka akan kembali nantinya."


Ceri tersipu mendengar ucapan keduanya, padahal dirinya ragu apakah pernikahan ini menjadi impian.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Ceri kembali di sibukkan dengan urusan dapur. Di sibukkan dengan kedua anaknya. Dan tak lupa mengurus beberapa proposal yang dikirim oleh orang kepercayaan Papah.


Hingga sore hari Ceri baru menyelesaikan masaknya. Beruntung Regan bisa mengurus dirinya sendiri dan sudah rapi dengan rambut klimis yang ia buat.


Sedangkan Rayya sudah wangi dengan dress pink berbaring di atas karpet tebal bersama dengan Bibi.


Setelah semua rapi, Ceri segara naik ke kamar dan masuk ke kamar mandi. Badannya sudah sangat tidak nyaman apalagi setelah masak, bau bawang membuatnya tak percaya diri.


Keluar dengan menggunakan handuk sebatas paha dengan rambut basah terbungkus handuk yang memperlihatkan leher jenjangnya yang putih menggoda.


Ceri tak sadar jika sejak tadi ada sepasang mata yang menatapnya dengan terkesima dan tubuh menginginkan. Tapi secepat mungkin ia mengendalikan diri agar si Beno tak berulah di saat tidak tepat.


"Sabar Ben, loe celamitan banget dah. Gue capek kalo harus main sendiri. Loe pikir nggak pegel tangan gue! Lagian gara-gara loe suka nagih, Ampe bengkok kan loe sekarang!" batin Tio menatap bagian dirinya yang bereaksi sempurna hingga sesak dan kencang.


Ceri pun dengan santai mengambil pakaian ganti di lemari dengan gerakan lambat dan tepat.


Kebiasaan Tio yang pulang menjelang malam membuatnya terbiasa keluar memakai handuk berbeda saat Tio di rumah. Sudah rapi bahkan dengan hijab lengkap.


Tio mengumpat kesal saat matanya dengan jelas melihat Ceri hendak membuka handuk untuk memakai satu set dalaman yang telah ia ambil dari dalam lemari.


"Ehem....."


Deg


Mata Ceri membola mendengar deheman pria yang berstatus sebagai suami. Wanita itu memejamkan mata dengan tubuh kaku. Hendak meraih apapun untuk menutupi tubuhnya pun ia sulit.


Jantungnya sudah kembali berdebar apa lagi saat langkah pria itu mendekat dan jelas terdengar di telinga.


"Kenapa sudah pulang....."


Namun secepatnya Ceri membenarkan handuk saat langkah Tio semakin mendekat dan memutuskan untuk segera masuk kedalam kamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang telah ia ambil tadi.


Brugh


Tubuh Ceri hampir terpental karena menabrak Tio yang tiba-tiba berada di sampingnya, sama-sama ingin melangkah menuju kamar mandi untuk saling menghindar tapi justru berujung mendekat tanpa celah.

__ADS_1


__ADS_2