
Pagi ini Tiwi berkunjung ke rumah Sella, sudah lama mereka tak berjumpa dan mengobrol bersama membuat keduanya janjian karena sebentar lagi Tiwi akan menikah, takut kesibukannya sebagai istri membuat ia tak bisa sebebas sekarang.
Datang ke rumah Sella di sambut begitu baik, berbincang ngalor ngidul hingga entah siapa yang memulai akhirnya keduanya membicarakan tentang hubungan Tio dan Ceri. Sella pun dengan polosnya menceritakan tentang rumah tangga Ceri dengan Reno dan alasan apa yang membuat Reno meninggal dunia.
Hal itu sangat menarik bagi Tiwi, alasan meninggalnya Reno adalah sesuatu yang membuat kedua ujung bibir Tiwi terangkat. Kemudian pembicaraan sampai pada alasan Tio dekat dengan Ceri dan Regan.
"Eh, kok jadi ghibah. Astaghfirullah ini mulut udah bicara banyak baru sadar," ucapnya menyesal. Untung tak ada Dimas, jika ada pasti ia akan sangat malu.
Tiwi tersenyum tidak enak. Sella sempat heran karena Tiwi yang tak banyak bicara. Hanya ingin tau dengan point-point penting menurutnya, tapi tak seramai Tiwi yang dulu saat SMA.
"Beberapa hari lagi menikah, kok nggak di pingit wi?"
"Nggak ikut gitu-gituan lah. Gue malah mau kerumah Tio habis dari sini," jawabnya serius.
"Jangan kasih tau Tio kalo loe tau dari gue, nggak enak gue sumpah dech. Ini mulut juga ngapa nggak ada remnya sich!" Sella memukul mulutnya sendiri hingga meringis nyeri.
Tiwi segera melajukan mobilnya menuju kantor Tio, kabar Ceri yang terancam virus sama seperti Reno harus ia sampaikan agar hubungan keduanya semakin renggang dan Tio tak mau dekat dengan Ceri lagi.
Tetapi sampai di kantor, ia tak menemukan Tio begitupun dengan asistennya. Bahkan Tiwi bertanya pada sekertaris Tio pun ia tak tau alasan Tio tak masuk kerja.
Tiwi segera melajukan kembali mobilnya menuju rumah Tio, mendadak hatinya tak tenang. Hingga sampai di rumah Tio, Tiwi segera turun dan masuk ke dalam rumah.
"Bi, Tio ada di rumah?"
Mendapati pertanyaan dari Tiwi yang tiba-tiba datang membuat bibi bingung sendiri. Sedangkan dia di larang memberi tahu kemana anggota keluarga Weda berada saat ini.
"Bi!"
__ADS_1
"Iya non, maaf non bibi nggak tau kemana perginya den Tio."
"Tante Arsita dan Om Juna?" tanya Tiwi lagi semakin cemas.
"Bibi nggak tau juga non, pagi-pagi sudah pergi. Ntah kemana bibi nggak tau." Hanya itu yang bisa bibi katakan, wanita paruh baya yang sudah ikut bekerja dengan keluarga Weda sejak Tio kecil ini pun tak suka jika Tio menikahi Tiwi.
Tiwi memutuskan segera pergi dari rumah itu, percuma baginya mendesak bibi untuk bicara. Karena Tiwi curiga ada yang di tutupi oleh bibi. Tujuan Tiwi kali ini kerumah Ceri, ntah apa yang mendorong ia ingin sekali kesana.
Dan benar saja, dari luar pagar tampak banyak sekali mobil terparkir di halaman. Salah satunya adalah mobil Tio, Tiwi turun dari mobil dan segera melangkah masuk ke dalam rumah. Tubuhnya kaku melihat dengan mata kepalanya sendiri, calon suaminya memakai pakaian pengantin dengan wanita lain.
Bukan tangisan air mata yang keluar, tapi emosi yang sudah menyelimuti hatinya hingga dengan langkah panjang ia mendekati keduanya yang sadar akan kedatangannya.
Tiwi menampar kedua pipi Ceri, ia benar-benar sudah tak kuasa menahan amarah. Terlebih Tio mendorongnya dengan kasar.
"Jangan sentuh Ceri! loe nggak bisa kasar gini sama dia Tiwi! kita bisa bicara baik-baik!" ucap Tio yang menyayangkan sikap kasar Tiwi. Walaupun ia sadar jika ini salahnya karena tak memutuskan terlebih dahulu. Tio pun tau ini membuat Tiwi sakit hati.
"Loe keterlaluan Tio! apa maksud loe nikahin dia? loe berniat jadiin gue istri kedua? iya?" sentak Tiwi.
"Gue nggak akan jadiin loe istri kedua, loe tenang aja Tiwi!".
"Terus ngapain loe nikahin dia? loe itu calon suami gue!" sentaknya lagi dengan hati yang bertambah emosi.
"Gue nggak akan jadiin loe istri kedua, itu artinya gue nggak akan nikahin loe wi, gue batalin pernikahan kita. Setelah ini gue bakal datengin keluarga loe untuk bicara dengan kedua orang tua loe."
deg
Sejenak Tiwi diam, ia mencerna setiap kata-kata yang terlontar dari mulut Tio. Kemudian pandangannya beralih pada Ceri yang mulai tenang dan melepas pelukan Tio. Dengan cepat Tiwi kembali menarik hijab Ceri dan mendorongnya hingga terjatuh.
__ADS_1
"Dasar janda nggak tau diri! gue tau loe manfaatin anak loe kan buat narik simpati Tio! Licik loe! loe bilang masih mencintai Reno tapi loe seenaknya ngerebut Tio dari gue! Dasar janda hina!" Tiwi menyerang Ceri dengan membabi buta. Beruntung hijabnya tak sempat terbuka, karena sebisa mungkin Ceri menghindar. Dan Tio pun segera menarik tubuh Tiwi hingga mundur beberapa langkah.
"Lepasin Tio! gue mau kasih pelajaran sama perempuan itu! dia udah ngerebut loe dari gue Tio, lepas!"
"Hentikan Tiwi! Ceri nggak salah. Ini keputusan gue dan loe nggak bisa nyerang dia kayak gini!" bentak Tio membuat tubuh Tiwi membeku.
"Jadi loe belain dia? loe nggak tau kan dia sakit apa? bisa jadi dia cuma manfaatin loe Tio! Dia itu cuma wanita penyakitan. Reno mati karena penyakit menular yang ia derita. Dan itu artinya dia juga tertular!" ucapnya dengan jari menunjuk Ceri.
"Jaga ucapan loe Tiwi!"
Suasana semakin memanas, semua tamu sudah di amankan dan di suruh pulang begitupun pak penghulu yang tadi menikahkan keduanya. Disana hanya ada Pak Juna, Mamah Sita yang kini menolong Ceri dan Seto yang juga berada di samping Pak Juna.
"Harusnya loe yang harus jaga diri loe! apa yang bisa loe dapetin sama wanita berpenyakit ini. Dia hanya menularkan virus itu ke tubuh loe! apa loe nggak takut punya istri sakit HIV?"
deg
Tio tak menyangka jika Tiwi tau, sedangkan dia tak pernah memberitahu.
Ceri semakin menangis mendengar ucapan Tiwi. Kedua orang tua Tio dan Seto pun tercengang mendengar tuduhan Tiwi. Mereka sontak menatap Ceri dengan tatapan penuh tanda tanya. Tapi Ceri hanya terisak dengan tubuh luruh ke lantai.
Tio memejamkan mata melihat Ceri yang begitu terpukul. Ia yang hanya diam setelah tau kabar dari Sella dan tak ingin membiarkan kabar itu di dengar orang lain. Tapi kini justru dengan gamblang Tiwi membuka aib itu dengan sengaja.
"Sekarang loe pergi!" lirih Tio.
"Tio loe ngusir gue? harusnya loe itu pertimbangkan semuanya setelah tau apa yang ia derita. Bukan malah ngusir gue kayak gini!" Tiwi menggelengkan kepala. Ia tak terima Tio dengan mudah mengusirnya.
"Iya gue ngusir loe dan gue udah pertimbangkan itu semua. Kita akhiri semuanya dan gue tetap memilih Ceri sebagai istri gue!" tegas Tio.
__ADS_1