Menikahi Janda

Menikahi Janda
Powerglue


__ADS_3

Senyum Tiwi luntur saat orang yang ia tunggu menggandeng erat tangan wanita yang kini menggantikan posisinya. Tangannya terkepal dengan mata penuh kebencian. Rasanya ia ingin menarik kain yang indah bersemayam rapi menutupi rambut Ceri.


Tiwi memasang senyum kepalsuan, ia menjaga keanggunan dirinya di depan orang banyak. Menjadi wanita yang paling tersakiti dengan menunjukkan mata sendu saat semua orang menyorot dirinya dengan perasaan iba. Menjadikan Ceri sebagai tokoh antagonis yang berbalut kelembutan.


"Sabar ya Tiwi, ternyata dia bukan wanita baik-baik."


"Iya lah mana ada janda yang kuat melihat pria tampan, mapan, dan bergelimang harta seperti Tio. Semua akan di halalkan demi mendapat pria yang ia inginkan."


"Benar banget, kasihan Tiwi! liat aja dia cuma bisa memandang mantan calon suaminya."


"Jahat banget sumpah, tinggal seminggu lagi menikah bisa-bisanya menikung dengan mulus."


"Kepalanya aja yang di tutupin tapi bawahnya diablakin, dasar janda gatel!"


"Tiwi, semoga karma cepat berlaku ya. Loe yang kuat!"


Di balik wajah sedih Tiwi dia tertawa melihat banyak orang yang membelanya apa lagi teman sekelas dia dulu. Hanya Sella yang jelas-jelas sahabatnya tapi malah asyik mengobrol dengan Ceri.


"Gue nggak apa-apa kok, udah ikhlas walaupun masih sangat sakit. Tapi mau gimana lagi, katanya kan cinta nggak harus memiliki. Mungkin Tio bukan jodoh gue," ucapnya lirih.


"Ya Allah Tiwi, sabar banget sich. Kalo gue jadi loe udah gue acak-acak hijabnya, biar aja semua tau kelakuan dia yang prik itu!"


Tiwi tersenyum miring melihat semua orang memandang sinis Ceri yang kini hanya diam menunduk. Tapi Tiwi muak melihat sikap Tio yang sangat perhatian hingga sejak tadi tak melepaskan tangannya di pinggang Ceri.


"Nggak mungkin Tio bisa secepat itu mencintai Ceri kalo nggak di goda dengan janda nggak tau diri itu!" kesal Tiwi, tangannya semakin terkepal tapi wajahnya ia paksakan selembut mungkin agar aktingnya tak ketahuan.


"Kenapa sayang? kok gelisah gitu? hmm?" Tio menatap lembut wajah Ceri yang sejak tadi hanya tertunduk dengan menghela nafas panjang berulang kali.


Tio mengangkat dagu Ceri hingga mampu melihat wajah cantik dengan tatapan khawatir.


"Kenapa, hmm? bilang sama aku!"


Ceri menggelengkan kepala membuat Tio mendengus melihatnya. Kemudian memeluk Ceri dengan posesif.


"Tutup telinga kamu dan angkat dagu kamu, jika tidak aku cipoook kamu di sini!" bisik Tio.


"Tio!"

__ADS_1


"Apa sayang..."


"Nurut nggak?"


"Hhm..."


"Udeeehh.....nempel mulu loe kayak cicak, nggak usah loe gituin juga semua orang tau kalo dia cewek loe!" celetuk ketua OSIS pada masanya yang tiba-tiba mendatangi keduanya.


Tio melepas pelukannya, kemudian melirik pria yang sudah ada di sampingnya.


"Weish ....bro, gimana kabarnya? makin sukses aja! nich kayaknya!" mereka berpelukan dengan saling menepuk pundak.


"Beginilah lebih baik dari sebelumnya, yang sukses loe kali. Udah buka berapa cabang perusahaan di Inggris?"


"Belum nambah, lagi menguatkan Induknya dulu biar anak-anaknya nanti awet. Udah move on loe!"


"Nggak usah ngelirik bini gue! gue colok pake sumpit mie loncat tuh biji!"


"Cer, loe the best. Luar biasa...." pria itu mengacungkan kedua jempolnya membuat ceri mengulum senyum.


"Turunin tangan loe!" titah Tio, "sayang jangan sembarang senyum dengan pria!" gumamnya.


"Berisik! sana aja loe, ganggu!" Tio mendengus kesal.


Acara sudah di mulai, beberapa sambutan dan ucapan terimakasih menggema dari depan podium hingga tiba waktunya acara hiburan dan beberapa orang yang siap menyumbang suara-suara indah mereka untuk mengisi acara.


Makanan dan minuman pun tak luput dari mereka yang kini saling mengobrol, menyapa, dan bernostalgia.


Tio terus menggenggam tangan Ceri kemanapun ia singgah menyapa temannya yang lain. Dan sebagai ajang untuk Tio menginfokan jika Ceri adalah istrinya.


Hingga langkah Tio berhenti pada sahabatnya, Sella. Disana juga ada Tiwi yang ikut menyapa.


"Cer udah kayak lam alteko ya nggak mau lepas dari tadi!" ledek Sella membuat Ceri tersenyum dengan melirik Tio yang memandangnya dengan tatapan teduh.


"Loe gue akur salah, gue berantem mulu salah. Udah dech, mau lem alteko, uhu, Ampe Aibon, yang penting gue mah lem power glue yang nggak lepas-lepas!" celetuk Tio.


"Sama aja Bambang!" sahut Sella.

__ADS_1


"Kak Dimas mana?"


"Lagi terima telpon, keluar mungkin."


Sejak tadi hanya Tio dan Sella yang mendominasi percakapan dan candaan yang menghasilkan senyum dan tawa. Tio sudah tak ada rasa, ntah kapan semua pudar dan menganggap Sella sahabat biasa.


Ceri dan Tiwi pun hanya diam menyimak, Ceri yang memperhatikan dengan tetap melempar senyum dan Tiwi dengan senyum sinis yang ia lempar pada Ceri saat Tio dan Sella asyik berbincang.


"Buka mata loe! Tio masih cinta sama Sella." Tiwi sengaja membisikan itu agar Ceri sakit hati. Tanpa ia tau jika sejak tadi Tio menggenggam tangan Ceri yang ia bawa di belakang punggungnya.


Pyaar


Ceri terjingkat ketika tiba-tiba salah satu temannya terjatuh dan gelas yang ia pegang melayang hingga mengenai gaun Ceri dan pecah di depan kakinya.


Tio tercengang melihat semua terjadi begitu cepat hingga tak bisa melindungi Ceri dari kejadian tersebut. Tio menatap tajam wanita yang tersungkur tak jauh dari Tiwi. Hingga matanya menatap Tiwi yang diam membuang muka.


Tangan Tio terkepal menatap Tiwi dengan begitu lekat. Dadanya bergemuruh dengan rahang mengeras dan amarah yang memuncak.


Sedangkan Sella membantu Ceri membersihkan gaunnya yang kini sudah basah karena tak hanya satu gelas yang wanita itu bawa tapi dua gelas. Dan kaki Ceri pun tak luput dari serpihan gelas yang mengenai kakinya.


"Bangun loe!"


Wanita itu gelagapan saat tiba-tiba Tio datang menghampiri dengan aura dingin dan tatapan tajam bak elang yang akan mengulitinya.


"Siapa yang nyuruh loe?"


"Gue...nggak ada, gue jatuh murni karena high heels gue yang tiba-tiba goyang."


Tio berdecih menatap nyalang wanita dengan mata penuh keraguan dan kegugupan. Tio melangkah mendekat hingga wanita itu tampak gelisah.


"Loe berani main-main sama gue? loe pikir gue bakal diem setelah loe buat istri gue terluka?"


aagrrhhh


Tio tersenyum miring, menjambak wanita yang kini meringis menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Loe mau ngomong jujur atau gue yang bakal bongkar sendiri dan loe nggak bakal gue lepas begitu aja!" ucapnya datar dan menghempaskan wanita itu hingga wajahnya hoir menyentuh lantai.

__ADS_1


Tio menepuk tangan sekali kemudian tiga pria yang mereka semua kenal mendekati Tio dan menarik paksa wanita itu. Semua tercengang, mereka menganga melihat mantan OSIS, dan kedua anteknya ternyata pro dengan Tio.


"Bawa dia!"


__ADS_2