Menikahi Janda

Menikahi Janda
Boleh atau Nggak


__ADS_3

Ceri membeku dengan wajah kaku dan hati terkejut. Sudah hampir sepuluh menit Tio masuk kedalam kamar mandi dan Ceri baru menyadari arti ucapan dari Tio.


Apa yang ia katakan? ingin memiliki anak tanpa cinta....Apakah akan berujung seperti kisah antara dirinya dan Reno? Bukan karena bahagia, tapi Ceri diam karena dilema. Kegagalan akan rumah tangga terdahulu kembali berputar-putar di ingatan. Rasa takut dan juga trauma masih membekas di jiwa. Mencoba lupa dan membuka lembaran baru tetapi ternyata tak berujung mulus.


Malam hari Ceri masih saja diam dan seperti banyak yang di pikirkan. Wajahnya seperti penuh beban yang begitu menyiksa hingga Tio sejak tadi ikut diam memperhatikan tapi masih belum mau bersuara.


Saat tidur pun Ceri lebih memilih memunggungi Tio tidak seperti biasa. Ceri hanya diam dengan berulangkali menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan berharap menemukan ketenangan.


"Loe keberatan punya anak dari gue?"


deg


Pertanyaan dari Tio membuyarkan pikirannya, Ceri segera berbalik dan menatap Tio dengan dinginnya menatap langit-langit kamar.


"Bukan gitu Tio...."


"Terus kenapa sikap loe berubah setelah gue jelasin? kalo memang loe nggak mau, gue nggak akan maksa Ceri. Anggap aja hubungan ini hanya main-main dan nggak usah loe jadiin beban!"


Ceri tercengang mendengar ucapan Tio yang begitu menusuk ke kalbu, dia sadar jika salah karena hanya diam tanpa mengajak bicara. Hingga Tio pun salah paham dan menyebabkan hubungan yang sudah membaik kembali sulit.


"Apa harus gue memiliki anak dari pria yang nggak cinta sama gue? apa harus gue mengulanginya lagi masa lalu yang pahit? Dan apa loe yakin setelah ada adik untuk Rayya loe bisa lupain Sella?"


Tio menoleh ke arah Ceri, menatap wanita di sampingnya yang kini menatapnya penuh kesedihan.


"Gue cuma takut apa yang gue rasain dulu terulang lagi, salah kalo gue membentengi diri? salah kalo gue belum bisa percaya semua akan baik-baik saja tanpa cinta? mencintai sendiri itu lelah Tio, hati gue memang masih terpaut pada Reno, tapi apa gue masih bisa bertemu lagi sama dia? apa gue masih bisa berharap kembali sama dia?" lirih Ceri penuh kegelisahan, matanya nampak kosong menatap langit-langit kamar dengan air mata yang terus mengalir ke sisi kanan dan kiri.


"Sedangkan loe?"

__ADS_1


"Gue bukan Reno!" tegas Tio. "Mungkin saat ini gue belum cinta sama loe, tapi gue juga nggak akan nyakitin loe! bahkan gue udah sering ingetin loe masalah ini!"


Tio menarik pundak Ceri hingga berbalik menatapnya, entah mengapa melihat Ceri tertekan seperti ini membuatnya iba. Dia tak tahan melihat air mata itu terus mengalir.


"Jangan khawatir, kita bisa mulai saling mengenal lebih jauh kan? kita bisa mulai belajar membuka hati, gue nggak akan berusaha lupain Sella. Tapi gue akan berusaha numbuhin cinta yang baru agar cinta yang lama terkikis waktu."


Tangis Ceri pecah saat Tio menariknya kedalam pelukan, baru kali ini ia di perlakukan berbeda. Memulai bersama dan membuka hati untuk saling menerima.


"Loe mau kan?" bisiknya tepat di telinga Ceri.


Ceri mengangguk menjawab pertanyaan dari Tio, jantungnya berdebar merasakan kelembutan yang Tio berikan. Tangan pria itu mengusap lembut punggung Ceri memberi ketenangan.


"Sini di usap dulu air matanya, bikin becek aja! ini kerudung sampe basah." Tio sengaja meledak Cari, tangannya mengusap lembut pipi Ceri. Wanita itu menatap wajah suaminya dengan tatapan teduh membuat Tio mengulum senyum.


"Kalo perkenalannya mulai dari sekarang boleh nggak?" Tio memperhatikan respon dari Ceri, dia dapat melihat Ceri yang tampak berpikir keras sebelum menjawab.


"Boleh atau nggak?" tanyanya lagi, Tio gemas melihat wajah polos Ceri, begitu lama ia berpikir hingga Tio bosan sendiri.


"Boleh Tio!"


Mata Tio kembali terbuka, ia menoleh ke arah Ceri dengan senyum mengembang. Kantuknya seketika hilang, berganti dengan rasa penasaran.


"Tapi kan udah kenal, mau kenal apa lagi Tio?" tanya Ceri ragu, ia benar-benar tak mengerti maksud Tio sehingga Ceri begitu lama berpikir dan menyelami maksud dari pertanyaan Tio.


Tio bangun dan duduk di samping Ceri, kemudian dia mengulurkan tangan pada Ceri mengajak wanita itu untuk duduk di hadapannya.


"Mau apa Tio?"

__ADS_1


"Gue mau lihat istri gue."


Ceri mengernyitkan dahi, melihat model gimana sedangkan ia sudah di depan mata. Hingga ntah apa yang Ceri pikirkan, seketika tangannya menyilang di dada dengan mata awas.


"Loe mikir apa?" tanya Tio menggoda, dia memajukan wajahnya hingga hidung keduanya saling menyapa. Dada Ceri serasa sesak dan jantungnya mulai tak aman.


"Ada saatnya gue mau mengenal itu, tapi untuk sekarang gue cuma mau lihat loe lepas hijab di depan suami loe!" bisik Tio membuat Ceri menahan nafas.


Setelah Tio memundurkan wajahnya barulah Ceri bernafas lega. Walaupun setelahnya pipi Ceri merona mengingat keinginan Tio yang terucap untuk pertama kalinya.


"Sekarang?"


"Kalo tahun depan keburu gue mau nyetak adiknya Rayya!" jawabnya asal hingga tangan Ceri melayang ke lengan Tio membuat pria itu tertawa.


Ceri menundukkan kepala, sungguh ia malu karena belum ada pria lain selain Reno dan Papahnya yang melihat ia tanpa hijab.


"Cer..." Tio menatap wajah Ceri begitu dalam hingga Ceri semakin menundukkan kepala.


"Silahkan Tio..." lirihnya hampir saja tak terdengar jika Tio tak memajukan wajahnya.


"Gue yang buka?" tanya Tio memastikan, dulu saat sekolah ceri belum berhijab bahkan Tio masih teringat dengan penampilan Ceri dulu. Tapi setelah lama tak bertemu dan usia pun semakin dewasa tentu penampilan pun berbeda.


Tio mendadak gugup, tangannya mulai terulur ke arah wajah Ceri untuk membuka hijab yang ia kenakan. Berulangkali Tio menarik nafas dalam, jantungnya mendadak berdebar kencang. Ada apa dengan dirinya, hingga Ceri sedikit heran dengan gerakan Tio yang melambat.


Tangan Tio sudah berada di kepala Ceri, ia mulai bergerak ke arah tali yang masih terpasang. Semakin tingkat keberhasilan tinggi semakin Tio ingin segera pergi karena debaran jantungnya semakin aktif.


"Tio...."

__ADS_1


Ceri memanggilnya karena Tio tak kunjung membuka mata di saat hijab Ceri sudah terlepas. Bahkan ikat rambut Ceri pun sudah lolos hingga rambutnya kini tergerai bebas.


Perlahan mata Tio terbuka, mulutnya menganga menatap Ceri tanpa hijab. Kemudian ia melihat ke arah hijab Ceri yang ada di tangannya dan kembali menatap wajah Ceri tanpa kata.


__ADS_2