
Pagi ini Tio berangkat dengan wajah cerah ceria, aura yang dulu tertutup kabut oleh cinta lama kini terlihat terang dengan cahaya masa depan mulai terpancar.
Tio datang dengan senyum mengembang, belum di sapa tapi ia sudah lebih dulu menyapa. Hingga para karyawannya di buat kebingungan. Dan berujung mengghibah membicarakan kelakuan bosnya yang tersenyum tanpa henti.
"Loe kesambet setan konde?"
"Ck, emang ada setan konde? loe kalo ngomong yang bener!" celetuk Tio yang kini tengah duduk di kursi kerjanya.
"Ada, nyengir mulu kayak sinden. Nyanyi nyengir, diem nyengir, padahal mata ngantuk tapi masih aja nyengir. Kayak loe gini! nggak takut kering tuh gigi! sampe di jadiin bahan gosip sama karyawan sendiri, untung nggak di bilang gila loe!"
"Udah selesai ngomongnya? kalo udah pintu ada di sebelah sana belum di ganti jadi di belakang." Tio tak perduli ocehan Seto, ia sedang bahagia lahir dan batin. Sampai ingin rasanya mengajak sang istri ikut ke kantor andai saja tak memikirkan Rayya.
"Yeee dasar soak!" ketus Seto kemudian segera beranjak dari duduknya dan keluar ruangan.
Ceri mengisi bekal makan untuk ia bawa ke kantor Tio, setelah pulang menjemput Regan Tio memintanya untuk datang dan membawa makan siang. Ntah ada angin apa yang membuat pria itu mendadak manja dan tak berselera makan di luar.
Padahal setelah meeting, Seto ikut makan siang bersama klien tapi Tio memilih menyeruput kopi dan memilih makan masakan istri.
"Mau bertemu siapa?"
"Saya mau bertemu dengan Pak Tio."
"Sudah membuat janji mbak?" tanya salah satu resepsionis, mereka cukup terkesima melihat wanita berjilbab yang begitu cantik dengan gamis panjang membungkus badannya. Tak tampak seperti sudah memiliki anak justru terlihat lebih muda di bawah umurnya.
"Oh...belum tapi saya ini...." Ceri terdiam, jika memberitahu dirinya adalah istri Tio pasti tidak ada yang percaya karena yang mereka tau bosnya belum memiliki istri.
"Jika belum, bisa membuat janji dulu ya mbak! karena jadwal Pak Tio padat."
Ceri tampak berpikir, kemudian dia mengambil ponsel di dalam tasnya untuk menghubungi Tio tapi tak kunjung ada jawaban.
Ceri menarik nafas dalam, melihat tempat makan di tangannya yang entah harus ia kemanakan.
__ADS_1
"Gini aja dech, saya titip ini untuk Pak Tio ya, bilang saja dari Ceri."
"Oh iya mbak, nanti kami berikan jika Pak Tio sudah berada di kantor. Karena beliau sedang meeting di luar dan kemungkinan sore baru kembali."
"Ya sudah ma_"
"Sayang......"
Seruan dari pria yang ingin ia temui, Tio berhenti di sebelah Ceri dan meraih pinggulnya hingga mendekat.
cup
"Kenapa nggak langsung ke ruangan gue aja? ngapain disini, hhmm?" tanyanya lembut dengan senyuman menawan. Ceri sempat gagal fokus mendapatkan perlakuan yang tak biasa hingga ia terkejut tiba-tiba Tio mengecupnya di depan umum.
"Itu..." Ceri menunjuk papar bag yang ia yakini adalah bekal makan yang ia minta.
"Set...." Tio memanggil Seto dengan menggerakkan dagunya mengarah ke meja resepsionis membuat Seto paham apa yang dimaksudkan.
Kedua resepsionis itu menganga tak percaya tapi setelahnya segara mengangguk paham.
"Maaf Bu, kami tidak tau..." ucapnya serempak dengan rasa takut karena Tio sudah dalam mode dingin dan datar.
"Iya nggak apa-apa," jawabnya dengan tersenyum manis.
"Jangan senyum-senyum di sembarang tempat kalo nggak mau gue gigit itu bibir sampe bengkak!" bisik Tio merapatkan kembali pinggul Ceri hingga tubuh Ceri menempel di dadanya.
"Iya, posesif banget sich!"
Tio segara mengajak Ceri ke ruangannya dengan Seto berjalan di belakang, membawa bekal makan yang Ceri bawa tadi.
"Dasar bucin! udah kena apem anget begitu kelakuan!" Seto hanya mampu menggelengkan kepala melihat sikap Tio yang jauh dari sebelumnya.
__ADS_1
.
.
.
"Rapetin pintunya!" seru Tio saat Seto ingin melangkah keluar.
"Iye...."
Tio terkekeh melihat wajah kesal Seto, kemudian segera mendekati Ceri yang sudah duduk di sofa membuka bekal yang ia bawa.
"Enak nich kayaknya," ucapnya dengan mata berbinar kemudian memejamkan mata seraya mencium aroma masakan yang menggugah selera.
"Tapi nggak tau rasanya, lagian mendadak banget sich! jadi masaknya buru-buru," keluh Ceri.
"Jangan cemberut gitu, apapun kalo loe yang masak pasti enak. Ini bibir biasa aja, gue mau makan nasi dulu baru makan daging hidup!" sahutnya dengan mengusap bibir Ceri dengan ibu jarinya.
"Apa sich, ya udah makan cepetan katanya laper." Dengan wajah merona Ceri menggeser tempat makan yang sudah terisi makanan lengkap.
"Barengan ya! belum makan kan?" Ceri menggelengkan kepala kemudian mereka makan berdua dengan sesekali Tio menyuapinya.
Hati Ceri begitu bahagia, baru kali ini merasakan di manjakan oleh orang yang di sayang. Membuat senyumnya tak luntur dan meninggalkan kesan gemas di hati Tio.
"Pulang dulu ya, kasian anak-anak di rumah!" Ceri segera membereskan bekas makan mereka, ia harus segera pulang karena tadi meninggalkan anak-anak saat tidur siang.
"Buru-buru banget, sini dulu temenin kerja!" sikap Tio berubah 180⁰ dan kini menjadi sedikit manja.
"Takut anak-anak bangun terus nyariin, nanti juga kan ketemu di rumah. Ya udah pamit ya," Ceri mendekat dan meninggalkan jejak basah di pipi Tio membuatnya mengembangkan senyuman.
"Semangat kerja Papah Tio!" ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
__ADS_1