Menikahi Janda

Menikahi Janda
Jail


__ADS_3

Setelah menemani Regan hingga tertidur, kini Ceri masuk ke dalam kamarnya. Sempat ragu karena mulai malam ini harus tidur sekamar dengan Tio yang kini berstatus sebagai suaminya. Tapi sekuat hati Ceri memantapkan hati dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.


Tio melirik Ceri yang masuk dengan perlahan, senyum tipis menghiasi wajah tapi kemudian ia segera mengambil baju ganti dan kembali masuk ke kamar mandi sebelum Ceri menyadari jika dirinya hanya berbalut handuk menutupi pinggul sampai lutut.


Ceri mengedarkan pandangannya, mencari Tio yang tak ia temukan. Hingga suara pintu kamar mandi yang terbuka menampakkan sosok pria tampan dengan wajah segar dan mengenakan pakaian rumahan.


Rasa canggung mulai menyerang ketika kedua pasang bola mata sempat bersitegang. Tetapi tak lama Ceri segara meraih koper milik Tio dan memindahkan pakaiannya ke dalam lemari yang telah ia siapkan. Dia lebih memilih mencari kesibukan dari pada tenggelam dalam suasana yang membuat mereka sama-sama risih.


Melihat Ceri sibuk, Tio pun tak mengganggu. Ia memilih untuk duduk di sofa dan membuka laptop untuk mengecek pekerjaannya yang hari ini terpaksa ia tinggalkan.


Setelah rapi dan masuk semua ke lemari, Ceri memilih untuk segera masuk ke kamar mandi. Mengganti pakaiannya dengan baju tidur dan menggunakan hijab yang nyaman. Karena ia belum siap jika Tio melihat mahkotanya.


Keluar dengan baju tidur santai yang membuat Tio melirik ke arahnya dan mengamati sekilas setelahnya kembali fokus ke layar laptop.


Ceri melangkah menuju tempat tidur kemudian segera merebahkan tubuhnya di sana. Sempat melirik Tio yang masih sibuk dengan laptopnya tetapi ia memutuskan untuk segera menarik selimut dan memejamkan mata.


Ntah karena canggung atau belum terbiasa bersama, membuat Ceri bungkam. Ia hanya diam dan tak berniat bersuara. Memastikan Rayya tidur nyenyak di samping ranjangnya dan masuk ke dalam mimpi indah.


Setelah beberapa pekerjaan telah Tio selesaikan ia segera menutup laptop kemudian memutuskan untuk segera tidur. Sempat bingung ingin tidur dimana tapi setelahnya ia memutuskan untuk tidur di samping Ceri karena sofa yang ada di sana hanya muat setengah badan saja.


Masuk ke dalam selimut yang Ceri gunakan dan menoleh ke arah wajah cantik dengan mata yang sedikit bengkak. Ada rasa tak tega di hati Tio tetapi saat ia ingin mengusap ekor mata Ceri yang basah entah mengapa, ia kembali menarik tangannya sebelum berhasil mengusap lembut wajah wanita yang kini menjadi istrinya.


Tio kembali memposisikan diri dengan benar, memilih segara memejamkan mata dan tak lama ia pun terlelap.


Hampir pagi Rayya membangunkan sang mamah dengan rengekannya. Ceri yang mendengar itu segera membuka mata. Mengamati sekitar hingga pandangannya terpusat pada pria yang kini tertidur pulas di sebelahnya.

__ADS_1


Ceri menarik nafas dalam, ia pun segera bangkit dan mendekat ke arah boks bayi. Mengganti popok dan mengganti pakaian Rayya agar lebih nyaman. Membawa Rayya ke dalam dekapan dan duduk di tepi ranjang.


"Mik susu dulu ya sayang, pasti kamu lapar." Ceri membuka tiga kancing teratas mengeluarkan sumber asi untuk Rayya. Dengan hisapan yang kuat membuat Ceri gemas dan tertawa kecil menatap sang buah hati hingga suaranya sedikit mengusik orang yang sedang tidur di belakangnya.


"Rayya bangun?" tanya Tio dengan suara serak, dengan cepat Ceri menarik hijabnya menutupi sebelah dada yang terpampang indah takut-takut kejadian yang pernah ada terjadi kembali.


"I..iya lagi minum susu."


Tio yang paham kembali mencari posisi untuk melanjutkan tidurnya. Ia membelakangi tubuh ceri agar wanita itu nyaman dan tak terganggu akan adanya dirinya.


Ceri bernafas lega, melihat Tio yang kembali terlelap. Karena Rayya belum kenyang dan harus berganti posisi ke dada sebelahnya yang masih penuh.


Hampir setengah jam ia menyusui Rayya, kini Ceri mengembalikan Rayya ke dalam boks dan menarik selimut untuk sang buah hati. Kemudian ia pun kembali ke atas ranjang meneruskan mimpinya yang sempat terjeda sambil menunggu azan subuh berkumandang.


Pagi yang indah dari sebelumnya, terbiasa tidur hanya memeluk guling dan berbalut selimut. Kini Tio merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan. Mendekap hingga rapat dan sebelah kakinya menindih dengan sesuka hati. Hingga Ceri yang merasa tubuhnya sesak menggeliat dan pergerakannya mengganggu tidur Tio.


Diam menyelami apa yang terjadi hingga keduanya sama-sama melepas dan memberi jarak. Ceri memejamkan mata merasakan jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Sedangkan Tio menghela nafas berat merutuki kelakuan tubuhnya yang tak bisa anteng ketika tidur. Dan dengan santainya bagian bawah ikut tegang berdenyut berbarengan degupan jantung.


"Maaf..." kata pertama dari Tio di pagi ini setelah berusaha menguasai diri.


Ia melirik Ceri yang diam dengan tangan menyentuh dada. Tio yakin Ceri pun merasakan hal yang sama. Apa lagi ia yang merasa di repotkan.


"Gue nggak sengaja, mungkin terlalu pulas jadi ngiranya loe guling. Eeh taunya emang guling beneran, guling hidup maksudnya." Tio nyengir dengan kedua jari yang ia angkat saat Ceri menoleh ke arahnya.


"Nggak dosa kan? loe udah ada cap halal buat gue. Jadi nggak salah kalo nggak sengaja nyentuh. Nggak boleh marah donk! ntar malah loe yang di ajab." Tio berusaha mencair kan suasana. Sikap tengilnya mulai terlihat di pagi pertama bersama istri.

__ADS_1


Ceri membuang muka, ia masih belum bisa menguasai dirinya. Bertahun-tahun menikah belum pernah mendapati hal seperti ini. Di dekap suami hingga seintens itu.


"Ceri...." panggilan dari Tio membuat Ceri segera menoleh ke arah pria itu.


"Marah?" tanyanya saat wajah Ceri bisa ia lihat. Pertanyaan yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.


Tio menganggukkan kepala berulang kali, kemudian merubah posisi menjadi miring hingga dapat melihat wanita di depannya yang sudah merona dengan salah tingkah.


"Boleh bilang sesuatu nggak?"


"Apa?" pertanyaan pertama yang lolos dari bibir Ceri, setelah kebungkaman yang ia lakukan.


Tio memasang wajah tengil, sedikit mendekat menuju telinga Ceri yang tertutup hijab membuat hati Ceri berdesir dengan berbagai pemikiran yang berkecamuk di pikirannya.


"Mau tau banget?" bisiknya.


"Hhmm...." Ceri mengangguk cepat membuat Tio tersenyum miring.


"Dada loe keliatan!" bisiknya lagi, sontak Ceri menutupi dada dengan kedua tangan dan menatap Tio dengan tatapan tajam.


"Kenapa?"


"Ngeselin!" kesal Ceri kemudian segera melesat ke dalam kamar mandi, ia lupa semalam setelah menyusui Rayya, kancing bajunya masih terbuka.


Tio yang melihat gerakan kilat wanita itu membuatnya tertawa terpingkal, entah apa yang membuat Tio tertarik untuk menjaili Ceri pagi ini.

__ADS_1


"Lucu juga loe Cer!"


__ADS_2