
Tio datang dengan membawa nampan yang berisi empat porsi paket ayam, serta minum dan sayur sup untuk Regan dan Ceri. Tio paham Ceri sedang menyusui jadi harus banyak makan sayur agar asi nya lancar untuk Rayya. Sedangkan Regan, sebelum memesan pun Ceri sudah berpesan untuk memesan sup untuk anaknya.
"Kenapa hanya Regan dan Ceri yang di pesankan sup, gue nggak?" tanya Tiwi yang merasa kesal atas perhatian Tio.
"Loe bukan anak kecil, kalo loe mau kenapa tadi nggak bilang. Sana pesan kalo mau."
"Tapi Ceri loe pesenin kenapa gue nggak!" ketus Tiwi menatap sengit Ceri yang menunduk diam.
Sebenarnya Ceri sudah tak nyaman sejak awal, tapi karena Regan yang ingin bersama Tio akhirnya ia mengalah. Sedangkan dia harus menahan diri agar tak membuat Tiwi semakin kesal. Apa lagi kata-kata yang tadi Tiwi lontarkan. Apa yang salah dengan janda, selagi ia bukan penggoda dan tetap bersikap ramah.
"Dia ibu menyusui, jadi tanpa di minta gue tau apa yang dia butuhin. Udah makan nggak usah ribut, pusing gue malahan. Nggak malu loe sama Regan yang udah anteng makan."
Tiwi mendengus kesal, lagi-lagi Tio membela Regan, hubungan yang belum bisa dekat akan semakin renggang jika Tio terus bersama Ceri dan Regan.
Mereka makan dengan khidmat, Ceri berusaha tetap menelan makanannya walaupun begitu sulit karena sesekali pandangannya bertabrakan dengan Tiwi terus yang menatap sinis. Sayur dan air minum pun tampak tak membantu, hingga ia rasanya ingin segera pulang dan meninggalkan mereka berdua.
"Tio, pernikahan kita sudah tinggal beberapa Minggu, gue minta loe nggak sibuk di luar dengan urusan yang nggak penting. Karena kita bakal libur tiap weekendnya menyiapkan semua keperluan pernikahan."
"Hhmm....
"Om Tio ingin menikah dengan Tante itu?" tanya Regan yang ingin tau setelah mendengar ucapan Tiwi tadi.
"Nak....nggak boleh ikut campur dengan urusan orang dewasa." Ceri mencoba mengingatkan.
"Maaf mah..." lirih Regan kemudian kembali menikmati es krimnya.
Tapi Tiwi tersenyum mendengar ucapan Regan, ia merasa Regan harus tau yang sebenarnya agar tidak terus meminta Tio untuk bertemu.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Cer, Regan berhak tau." Tiwi beralih ke arah Regan " Regan, om Tio dan Tante Tiwi akan segera menikah. Dan sebentar lagi kita juga akan punya anak, jadi waktu Om Tio sudah nggak banyak sama Regan. Regan mengerti kan?"
"Tiwi!" sentak Tio tidak suka mendengar ucapan Tiwi pada Regan.
"Biar dia tau Tio, kalo kita akan sibuk nantinya. Dan bakal punya anak sendiri jadi nggak terus loe bisa ada waktu buat dia. Dan dia juga nggak mengharapkan loe terlalu jauh!" sahut Tiwi kesal.
Ceri terdiam, memang keputusannya sejak awal tepat, tak ingin mengganggu Tio karena Tio sudah bertunangan dengan wanita lain. Dia pun tak ingin membiarkan Regan terlalu berharap karena tak ingin Regan akan kecewa. Mungkin Tio tak apa, tapi Tiwi jelas tak suka.
"Tapi dia masih kecil, nggak seharusnya loe ngomong kayak gitu."
"Berarti kalo Om dan Tante Tiwi menikah. Regan sudah tidak bisa main lagi?"
"Jelas donk nak, nanti kan Om Tio akan punya anak sendiri. Dan Regan harus tau diri ya, kasian nanti anak Tante kalo kurang kasih sayang Papahnya."
"Tiwi! loe benar-benar keterlaluan ya. Loe tuh lagi ngomong sama anak kecil loh, tapi selancar itu loe nyakitin hatinya." Tio benar-benar geram. Bukan hati Ceri yang ia pikirkan tapi wajah sendu Regan dengan mata berkaca-kaca yang membuatnya tak tega.
"Iya, tapi bukan begini caranya. Gue mau ketemu dia atau anak manapun bukan urusan loe!" ucapnya tak terima.
"Tapi akan menjadi urusan gue, kalo kita sudah menikah apa lagi punya anak!"
Ceri yang tak tahan memilih untuk segera pulang.
"Ayo nak, kita pulang. Regan sudah kenyang kan?" tanyanya lembut. Regan beranjak dari sana, sempat melirik Tio tapi setelahnya menarik tangan Ceri untuk segera pergi.
"Makasih Om," lirih Regan kemudian pergi meninggalkan Tio yang semakin kesal dengan Tiwi.
"Puas loe bikin bocah nangis? keterlaluan tau nggak loe! gimana gue mau suka sama loe kalo loe aja kayak gini. Loe udah berubah Tiwi, bukan sahabat gue dan Sella seperti dulu. Sikap loe udah jauh dari kata baik!"
__ADS_1
Tio segara pergi meninggalkan Tiwi, tak perduli dengan Tiwi yang harus pulang sendiri. Pria itu ingin mengajar Regan dan Ceri yang ia harap belum jauh. Berlari dengan mengedarkan pandangannya tapi hingga pintu parkir sudah tak terlihat lagi keduanya.
"SHIIITT....."
Tio benar-benar kesal, bayangan akan wajah Regan yang begitu menyedihkan terus terbayang diingatan.
"Gila sich kalo gue harus nikah sama perempuan macam dia, gimana nasib anak gue kalo punya ibu nggak ada belas kasihnya sama anak orang!"
Tio segera masuk ke dalam mobil, ia ingin segera pulang. Jika belum bertunangan mungkin ia akan membatalkan rencana kedua orangtuanya. Tio yang sulit mencintai wanita lain semakin percaya bahwa tak ada yang terbaik selain Sella.
Ceri membukakan pintu untuk Regan, selama di perjalanan Regan hanya diam menahan tangis. Ceri pun merasa tersinggung atas ucapan Tiwi, tapi ia paham mengapa Tiwi setega itu berbicara pada anaknya.
"Ganti baju dulu kalo mau istirahat ya nak," ucapnya dan Regan hanya menganggukkan kepala lalu berlari masuk ke kamar.
Ceri menarik nafas dalam, dia tak mengira akan berakhir mengecewakan Regan lebih cepat sebelum ia mampu membuat Regan menjauh dari bayang Tio.
"Ya Allah, berikan yang terbaik untuk anak-anakku...."
Malam harinya Ceri masuk ke dalam kamar Regan, melihat sang anak tampak diam menunduk dengan memeluk bantal. Sejak pulang dari mall tadi Regan tak kunjung keluar kamar, makan malam pun belum. Membuat Ceri khawatir, kemudian dia melangkah mendekat dan duduk di sebelah putranya. Mengusap lembut kepala Regan dan menarik tubuhnya ke pelukan. Regan menangis, sejak tadi ia berusaha menahan karena selalu ingat pesan Tio. Tapi saat pelukan hangat sang mamah ia rasakan. Air mata itu runtuh begitu saja.
"Mah, kenapa Om Tio menikah dengan Tante itu. Kenapa nggak sama mamah? apa mamah tidak baik?" tanyanya di sela-sela isak tangis kecewa.
"Nak, kenapa Regan bertanya seperti itu?"
"Regan ingin Om Tio jadi Papah Regan Mah," jawabnya penuh harap. Ceri tak tau harus menjawab apa. Sedangkan dia yang mengakhiri dan tak mungkin meminta kembali hanya demi Regan. Dia pun tak tau ke depannya akan bagaimana jika kembali mengulang pernikahan tanpa cinta.
Apa lagi Tio kini sudah bertunangan, Ceri juga sadar diri dengan statusnya yang tak pantas untuk Tio. Dia hanya berharap setelah ini Regan bisa mengerti dan mulai terbiasa tanpa Tio lagi.
__ADS_1