
"Bagaimana?"
"No..."
"Yang ini?"
"No baby.."
"Ehemmm....."
"Coba lagi.."
Sudah berulang kali Ceri keluar masuk fitting room, mencoba gaun yang akan di pakai di acara reuni nanti malam. Dan berulangkali itu juga Tio tak setuju, hingga Ceri lelah dan ingin menyerah tapi melihat Tio yang begitu bersemangat menunggu penampilannya membuat ia tak tega.
Dan gaun yang Tio setujui berakhir di gaun panjang dengan model modern tapi tetap menjunjung unsur kesopanan dan pas dengan hijab yang di kenakan. Gaun berwarna maroon di taburi sedikit Swarovski di bagian dada menambah nilai manis dan mewah. Tak lupa hijab maroon menambah anggun penampilan Ceri malam nanti.
"Nah......" Tio terpesona melihatnya, tak banyak berkata ia meminta segera di bungkus beserta kemeja dan jas yang serasi dengan gaun tersebut.
"Mau nyalon dulu nggak?" tanya Tio setelah keduanya sudah berada di jalan arah pulang kerumah.
"Penting nggak sich?" tanya Ceri balik.
"Terserah kamu sayang! aku manut, kalo mau ya aku antar." Tio mengusap lembut pipi Ceri dengan tatapan penuh cinta.
Ya keduanya sudah sepakat mengganti panggilan sayang setelah malam kedua mereka lewati. Malam luar biasa yang selalu Tio ucapkan. Kata yang membuat Ceri tak bisa menahan gejolak bahagia. "Cantik, ini luar biasa. Nikmat banget sayang...." Suatu kata kepuasan yang akan membuat wanita melayang karena prianya merasa puas dan ketagihan. Menambah benih cinta dan menambah keharmonisan dalam rumah tangga.
"Tapi anak-anak gimana?"
"Anak-anak kan udah sama Oma dan Opanya, aman sayang. Perawatan tubuh kamu sekalian, semalam lemas banget pasti capek kan? Mau ya....biar seger lagi, lumayan kan stok buat seminggu ke depan." Ucapnya dengan mengedipkan mata.
"Apa sich, kok jadi nagih ya mantan perjaka ini," ledek Tio.
__ADS_1
"Tapi servis oke kan nggak kalah sama yang udah handal?"
Ceri membuang muka, pipinya merona mengingat malam-malam penuh cinta dan kehangatan. Rasa yang berbeda dengan kesan sangat melenakkan yang belum pernah Ceri rasakan. Apa lagi Tio bukan pria egois dan selalu mengedepankan kenyamanan pasangan.
"Ayo..." keduanya sudah sampai di salon tempat biasa Ceri perawatan. Tio menunggu dengan sabar dan tak luput dari godaan wanita yang juga ingin perawatan atau sekedar ingin tau pelayanan.
Tubuh gagah, kulit bersih, dengan wajah tampan, rahang tegas dan mata yang bisa menghipnotis lawan ketika menatap begitu dalam membuat semua yang lewat akan singgah hanya sekedar menyapa dan melihat dari dekat.
"Sendirian mas?"
Tio menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada orang selain dirinya. Kemudian menghela nafas panjang memandang wanita di depannya yang begitu agresif mendekati dirinya dengan gaya sensual dan tutur kata yang sengaja berirama. Dia wanita ketiga setelah ada wanita sebelumnya juga mendekati ternyata sudah bersuami. Nekat!
"Sendiri," jawabnya singkat kemudian kembali fokus ke ponselnya.
Bagaikan mendapat angin segar wanita itu segera melangkah lebih mendekat dan memilih duduk di samping Tio. Seringai tipis pun tak tertinggal karena merasa mendapat durian runtuh yang sudah matang, manis dan legit.
"Sayang...."
"Udah?" tanyanya dengan menarik pinggul Ceri hingga merapat.
"Hhmm....makasih ya udah nunggu lama," jawabnya kemudian membalas pelukan Tio.
cup
"Sama-sama cantik ..." Tio melirik wanita yang yang tadi mencoba mendekatinya, tersenyum miring kemudian mengajak Ceri mendekati wanita itu. "Saya duduk di sana memang sendiri, tapi itu karena sedang menunggu istri saya mbak."
"Ayo sayang...."
Bukan hanya wanita itu, Ceri pun tercengang setelah mendengar ucapan Tio. Dan dia mulai paham, besok lagi tak akan meminta Tio untuk menunggunya di salon kecantikan.
"Kenapa sich? merengut aja, minta di cipoook?" Tio melihat Ceri sekilas kemudian kembali menyetir dengan aman.
__ADS_1
Ceri hanya diam hingga Tio gemas dan meraih tangan Ceri kemudian menariknya hingga masuk ke dalam rangkulan Tio.
"Kenapa, hmm? kesel sama wanita tadi?"
"Besok lagi nggak usah nungguin orang lagi perawatan, sendiri aja aku bisa!"
Tio mengulum senyum setelah tau alasan Ceri tiba-tiba diam. Tak menyangka hal seperti itu menjadi bahan pikirannya sejak tadi. Padahal jelas-jelas Tio sudah memberi ultimatum di depan Ceri. Tapi memang dasar wanita, pikiran negatifnya terkadang tak manusiawi. Hingga penglihatan dan pendengaran yang jelas di depan mata terkadang tertutup dengan pemikirannya sendiri.
"Kalo cemburu tau tempat donk sayang, istri gue udah cantik begini masak iya gue mau sama modelan begitu. Cinta Abang nggak kayak ranting neng, bercabang kemana-mana!"
Wajah jutek Ceri berubah sumringah karena hatinya yang cetek mudah sekali luluh hanya dengan kata-kata receh dari Tio.
...🍃🍃🍃...
Kini keduanya sibuk merapikan diri, Ceri pun mulai mengaplikasikan make up nya dengan keahliannya sendiri. Tio sempat menawarkan akan mendatangi MUA tetapi Ceri menolak. Dia datang bukan ingin menjadi pengantin atau penyanyi di acara reuni. Dia datang untuk menjadi tamu undangan dan merangkap sebagai istri Tio.
"Nanti pas di sana apa pura-pura nggak kenal aja ya." Ceri menatap Tio dari pantulan cermin, pria itu hanya menatap sekilas setelahnya memasang kembali jam tangan dengan santai.
"Kenapa lagi? malu jadi istri seorang Tio?" tanyanya membuat Ceri gelagapan. Wanita itu segera beranjak dan mendekat.
"Bukan gitu, nggak ada yang tau pernikahan kita. Aku cuma nggak mau kalo sampai jadi bahan pergunjingan. Walaupun memang batalnya pernikahan kamu dan Tiwi itu karena aku." Ceri tertunduk sendu.
Tio memeluk tubuhnya, ia paham yang Ceri maksud tapi tak suka jika Ceri berniat menutupi. Dia hadir karena Ceri ingin datang bukan hanya sekedar ingin menghadiri undangan.
"Sayang please kamu nggak sendiri, ada aku. Kita lewati sama-sama ya, hhmm?"
Ceri menganggukkan kepala, menatap mata Tio yang sudah kembali teduh membuatnya lega. Selalu masalah status membuat Tio marah dan Ceri pun seakan lupa jika ucapannya selalu memancing perdebatan.
"Ayo sayang.." Tio mengulurkan tangannya saat membukakan pintu mobil. Banyak pasang mata yang ingin tau Tio menggandeng siapa malam reuni ini. Karena hampir semua tau pembatalan pernikahan Tio dan Tiwi di karenakan orang ketiga.
Beberapa orang yang baru tiba pun tak ada yang menyiakan tontonan real yang ada di depan mata. Kemesraan yang keduanya perlihatkan membuat sebagian orang yang berpikir positif paham akan hubungan mereka saat ini. Tapi tidak bagi mereka yang menatap nyalang, mereka menganggap Ceri wanita perusak.
__ADS_1
"Jangan takut, tersenyumlah! ingat, kamu istri Tio saat ini. Jangan mau di rendahkan orang lain. Aku milih kamu bukan semata-mata karena alasan Regan, tapi kamu wanita terbaik dari pada dia."