
Sejak sore Ceri di pusingkan dengan rengekan Regan yang menunggu Papahnya belum kunjung pulang, sedangkan Tio lupa untuk memberi kabar. Jadilah Ceri bingung sendiri, hingga makan malam tiba Regan tidak mau makan.
"Sayang, memang harus banget belajarnya sama Papah? sama mamah kan bisa. Papah itu kerja, kasian kalo di ganggu."
Tak henti Ceri berusaha untuk membujuk Regan tapi tak kunjung ada hasil. Hingga dia memutuskan untuk menelpon Tio, padahal hati ragu karena masih canggung.
"Ya udah tunggu, mamah telpon Papah dulu ya..." Ceri segera mengambil ponselnya dan menghubungi Tio. Panggilan pertama belum di jawab, kemudian Ceri berusaha menghubungi kembali karena melihat Regan yang terus merengut tak mau makan dan belajar. Hingga panggilan yang ketiga, Tio baru menerimanya.
"Hallo.."
"Ha...hallo..." ucapnya ragu.
"Kenapa?"
"Pulang jam berapa?"
"Aduuuhhhh berasa di posesifin bini. Gue masih di jalan, ada apa?"
"Regan ngambek, nggak mau belajar sama makan malam. Dia nungguin Papahnya pulang." Ceri lega bisa memberitahu Tio, Regan betul-betul menguji dirinya.
Tio menarik nafas dalam, apa yang ia khawatirkan terjadi, Regan merajuk karena dia pulang telat.
"Setengah jam lagi sampai, suruh makan dulu aja."
"Hhmm...ya udah hati-hati."
"Iya."
Ceri menghela nafas panjang, kemudian melangkah mendekati Regan. Mencoba membujuknya untuk makan malam dengan mengatasnamakan Tio.
"Sayang, sebentar lagi papah pulang. Kata papah, Regan di suruh makan dulu. Nanti baru belajarnya sama papah."
"Beneran mah?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Benar sayang, ayo kita makan dulu! keburu papah pulang. Atau mau makan bareng papah aja? tapi Regan sekarang belajarnya sama mamah." Ceri terus membujuk hingga memberi penawaran agar Regan memilih salah satunya. Karena ia pun tidak tega jika Tio pulang kemudian menemani Regan belajar. Sedangkan ia tau jika Tio sendiri lelah setelah bekerja.
__ADS_1
"Mau belajar sama mamah aja dech, nanti makannya bareng papah."
"Nah, pinter anak mamah. Yuk kita belajar!" ajak Ceri dengan semangat. Akhirnya Regan mau di ajak belajar bersamanya.
Hampir satu jam Regan belajar dan Tio pun sudah sampai rumah sepuluh menit yang lalu. Pria itu segera membersihkan diri sebelum mendekati istri dan anaknya.
"Regan.."
"Papah, ayo makan Pah! Regan sudah selesai belajarnya."
"Pintar anak Papah, ayo kita makan boy! Papah juga sudah lapar sekali. Tapi di beresin dulu itu bukunya!"
"Oke Pah!" Regan segera membereskan buku-bukunya sedangkan Ceri membantu Bibi menyiapkan makan malam.
"Biar saya aja Bi, bibi tolong temani Rayya dulu ya!" Ceri mengambil alih piring serta lauk pauk yang sudah tersedia dan memindahkannya di meja makan.
"Saya ke atas dulu ya non," ucap Bibi kemudian menuju kamar Regan, karena Rayya di tidurkan di sana.
"Iya Bi."
Ketiganya makan dengan khidmat dan di selingi oleh obrolan kecil. Lebih tepatnya Tio dan Regan yang asik mengobrol sedangkan Ceri hanya fokus dengan makanannya.
"Papah, Regan mau di bacain cerita sama Papah!" ucap Regan sesaat setelah menyelesaikan makannya.
"Regan sayang, Papah capek loh nak! sama mamah aja ya." Ceri tak ingin Tio merasa di bebani, apa lagi Regan hanyalah anak tiri bagi Tio. Dia tak ingin Tio merasa terganggu walaupun pada dasarnya menikahinya karena Regan.
"Nggak apa-apa, biar Regan sama Papah ya. Nanti Papah temani tidur. Oke!" Tio paham jika Ceri merasa tidak enak. Sedangkan Regan Ceri anggap selalu merepotkan. Tapi dia tulus menyayanginya, bukan hanya ia anggap sebagai anak angkat atau anak tiri. Tapi Regan telah Tio anggap sebagai anak kandung sendiri. Walaupun masih geli sendiri langsung di beri dua anak padahal tak merasa membuatnya.
"Tapi Tio_"
"Sssttt udah nggak apa-apa, gue suka kok begini." Tio meletakkan jari telunjuknya di bibir Ceri membuat wanita itu diam tercengang. Pipinya terasa panas apa lagi posisi yang begitu dekat hingga hembusan nafas Tio begitu terasa.
Ceri mengangguk dan menundukkan kepalanya, hingga Tio menjauh bersama dengan Regan barulah ia bernafas lega. Ceri menyentuh dadanya, Jantungnya berpacu hingga terasa lelah. Kemudian ia naik ke kamar untuk memindahkan Rayya ke kamarnya.
Setelah memindahkan Rayya dan meminta Bibi untuk istirahat, kini Ceri segera berganti pakaian tidur dan hijab simpel. Dia merebahkan tubuhnya setelah menyusui Rayya agar tertidur nyenyak.
__ADS_1
Belum sampai ia terlelap pulas, matanya kembali terbuka saat mendengar pintu terbuka dan menampilkan sosok Tio yang masuk ke dalam kamar dengan wajah lelah.
Ceri kembali memejamkan mata karna dirinya pun sudah sangat mengantuk, tapi pergerakan di kasurnya lumayan mengganggu.
"Belum tidur?"
Ceri tak membuka mata, ia tetap menjawab walau dengan mata terpejam.
"Ini mau tidur, makasih ya udah nemenin Regan tidur."
"Hhmm...." Tio pun memejamkan mata setelah menarik selimut yang sama. "Nggak usah merasa bersalah sama gue, Regan dan Rayya anak gue!"
Ceri tak menjawab, ia diam dengan pikirannya hingga meraih mimpi. Begitupun dengan Tio, ia pun segera menyusul Ceri menemukan mimpinya. Hingga pagi hari Ceri mulai terjaga dalam keadaan yang sama.
Malam ini Rayya anteng hingga Ceri pun dapat tertidur pulas dan wanita itu cukup lega karena terbangun tanpa ada masalah. Posisi tidur nya dan Tio tampak sama ketika ia terjaga. Mungkin karena begitu lelah hingga tubuh tak banyak ulah.
Setelah melaksanakan kewajibannya dan sekarang sudah rapi dengan gamis maroon serta Rayya yang sudah wangi di dalam boks bayinya. Ceri kembali ke ranjang untuk membangunkan Tio.
Sedikit bingung bagaimana membangunkannya, kemudian Ceri duduk di pinggir ranjang dan menggoyangkan lengan Tio hingga matanya terbuka.
"Tio bangun!"
"Tio!"
"Hhm......." Tio yang merasa terganggu dengan pergerakan di lengannya segera membuka mata, mulai menyipitkan matanya hingga mampu terbuka dengan sempurna.
"MasyaAllah...bidadari surga dari mana ini ada di depan mata gue?" tanyanya membuat Ceri menganga tapi tak lama ia segera beranjak untuk menghindari ke gombalan Tio di pagi ini.
"Loh kok ngejauh?" tanyanya lagi, "Udah bosen ya liat Abang ganteng?"
"Tio! ngomong apaan sich! cepat bangun udah siang! gue mau ke kamar Regan." Ceri memilih menghindar dari pada terus mendengar ucapan Tio yang membuat jantungnya kembali berdebar, kesal tapi lumayan memberi warna di hidupnya yang selama ini datar.
"Jangan deg-degan Cer kalo di dekat gue. Sampe kedengaran gitu suaranya, gue nggak punya stok jantung punyanya stok hati soalnya belum terbagi."
Ceri tak memperdulikan ocehan Tio, dia segera berjalan keluar pintu tanpa menoleh kebelakang lagi.
__ADS_1
"Salam ya sama bidadara, bilangin yang gamis merah udah punya suami!" seru Tio membuat Ceri yang sudah di luar kamar menyentuh dadanya dengan pipi merona.