
"Aku bersedia menjadi istri kedua."
Semua yang di sana tampak tertegun mendengar suara Tiwi yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki Tio dan kedua orangtuanya.
Tio pun tak menyangka Tiwi rela di poligami dan memiliki pikiran sedangkal itu. Tio membuang nafas kasar. Ini bukan angin segar tapi merupakan masalah baru baginya.
Papah Tiwi segera melangkah mendekati putrinya untuk memastikan ucapannya yang baru saja keluar dari bibir sang putri.
"Kamu serius nak?" tanyanya menatap iba putrinya yang rela menjadi istri kedua.
"Iya Pah, Tiwi mau jadi istri ke dua Tio. Tidak apa jika harus di madu, Tiwi yakin Tio bisa berlaku adil." Tatapan mata Tiwi terpusat pada wajah Tio yang lebam dengan pandangan tajam. Wanita itu tak perduli dengan pemikiran Tio sekarang, yang ia mau Tio tetap menjadi miliknya. Sekalipun harus menjadi yang kedua, tapi setelah dinikahi ia akan menjadi yang pertama dan tak terkalahkan.
Pandangan papah Tiwi kembali ke arah Tio, menatap nyalang pria yang masih gagah berdiri di ambang pintu.
"Kamu dengar? putriku rela menjadi istri kedua, seharusnya kamu berterima kasih padanya. Karena dia sangat mencintaimu, hingga ia rela merendahkan dirinya di depanmu! dan saya pun akan tetap melanjutkan kerja sama bahkan memberikanmu sebagian dari aset yang saya miliki jika kamu mau kembali dan tetap menikah dengan putriku Tiwi.."
Tio mendengus kesal, Tiwi betul-betul gila. Seribu satu perempuan yang rela menjadi istri kedua, tapi Tiwi rela dan mengajukan tanpa beban.
Tio menatap kedua orangtuanya terlebih Papah, karena sejak awal hubungan meraka bermula dari hubungan kerja sama bisnis beliau.
"Papah serahkan semua padamu Tio, kamu yang lebih berhak menentukan dan tau apa yang terbaik untukmu," ucap papah yang tau arti dari tatapan putranya.
Kemudian Tio memandang mamahnya yang tampak sedih melihat putranya dengan wajah lebam. Beliau meraih tangan Tio dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Pikirkan baik-baik nak, putra mamah pria yang baik. Mamah yakin atas semua keputusanmu."
Tio menganggukkan kepalanya kemudian menatap nyalang Tiwi yang tersenyum manis. Kemudian maju beberapa langkah mendekati Tiwi yang ikut mendekat menyambut Tio dangan perasaan lega.
Keduanya saling menatap begitu dalam, dapat Tio dengar detakan jantung Tiwi yang begitu berdebar hingga terdengar di telinga.
__ADS_1
"Loe ikhlas jadi istri ke dua?" tanyanya dengan terus menatap mata.
"Iya Tio, gue ikhlas....." ucapnya dengan senyum mengembang.
"Loe tau kan konsekuensinya? itu nggak semudah teori yang ada."
"Iya Tio, akan gue terima dengan lapang dada. Gue percaya kalo loe itu pria yang adil dalam bersikap. Loe pria baik yang gue kenal sejak lama."
Tio mengembangkan senyuman membuat Tiwi bernafas lega, lampu hijau mulai terlihat. Tiwi yakin Tio akan menerimanya dan tak mungkin menolak. Pria bodoh jika di beri istri dua dan menolak begitu saja.
"Gue nggak munafik Wi, sebagai pria gue tergoda. Apa lagi memiliki istri dua, nggak akan ada yang mau menolak. Begitu pun dengan naluri kelakian gue."
"Kalo gitu jangan batalkan pernikahan kita Tio, kita bisa segera menikah. Gue akan berbaik hati menerima Ceri sebagai saudara gue," bujuknya menyakinkan.
Tio tersenyum tipis, ia mengusap lembut pipi Tiwi membuat hati wanita itu melambung tinggi. Selama beberapa bulan tak pernah Tio mau menyentuhnya dalam keadaan sadar tapi hari ini pesona Tio berubah.
Pria bertubuh atletis dengan rahang tegas dan mata tajam, tampan dan mapan. Kini begitu lembut dengan tatapan teduh yang mampu membuatnya begitu jatuh cinta.
Papah Tio pun tak menyangka jika akan berakhir seperti ini, beliau seorang pria. Beliau yakin Tio tergoda, tapi jika putranya bisa berpikir dengan sehat. Semua akan kalah dengan kewarasan yang Tio punya.
Sedangkan papah Tiwi sudah kembali tersenyum melihat putrinya kembali memancarkan kebahagiaan. Apapun untuk putrinya jika itu yang membuatnya bahagia ia akan menyetujui keinginannya.
Tio masih menatap dalam mata Tiwi, membuat Tiwi salah tingkah sendiri. Sikap Tio yang sangat Tiwi sukai, cuek tapi penuh cinta membuat hatinya bergetar.
"Gimana Tio, gue akan menerima Ceri dan kedua anaknya juga, sama halnya loe menyayangi mereka." Tiwi sangat menunggu jawaban dari Tio, ia begitu berharap dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
Mata Tiwi sempat terpejam kala usapan lembut di pipinya begitu dalam, merasakan kasih sayang yang Tio berikan hingga lupa jika dirinya tengah di perhatikan.
"Loe cantik!"
__ADS_1
Mata Tiwi terbuka mendengar pujian yang terlontar dari mulut Tio, pujian pertama yang membuatnya sangat berkesan.
"Makasih Tio, loe juga tampan dan gue suka."
"Loe pintar, kaya dan memiliki segalanya. Nggak mungkin ada pria yang menolak pesona loe Tiwi termasuk gue yang langsung menerima setelah papah menawarkan perjodohan. Padahal di hati gue masih ada nama wanita yang sama dan belum ada niat menggantinya sampai sekarang."
"Gue tau, tapi gue yakin setelah kita menikah loe bisa buka hati loe buat kedua istri loe!"
Tio tersenyum mendengar kata istri dua, hatinya tergelitik tak menyangka kesempatan emas sebagai seorang pria sudah di depan mata.
"Dan loe serius bakal sayang sama Ceri dan kedua anak gue?" tanyanya lagi.
"Hhmm....gue janji," jawab Tiwi mantap, semua demi mendapatkan Tio. Dia bisa berpura-pura menerima dan itu tak jadi masalah. Toh baginya jika ingin mendapatkan sesuatu harus ada yang di korbankan. Dan ia yakin Tio membutuhkannya.
Apa lagi setelah tau Ceri mengidap penyakit menular, tak mungkin sudi Tio meniduri Ceri. Dan di situ kesempatan besar untuknya. Dia akan membuat Tio tergila-gila di ranjang panas dan membuat Tio tak ada waktu untuk Ceri.
"Gue percaya sama loe, loe wanita baik. Tapi gue nggak percaya kalo istri gue mau terima di madu. Jadi sebagai suami yang baik gue nggak mau menyakiti hati istri." Senyum di wajah Tiwi seketika pudar setelah mendengar ucapan Tio dan usapan di pipinya terhenti begitu saja.
"Apa maksudnya Tio, gue akan menemui Ceri sekarang juga dan meminta ijin padanya. Gue tau kalian nggak saling cinta dan Ceri pasti bersedia menjadikan gue madunya."
Tiwi mulai tampak panik, Ia tak mau Tio sampai menolaknya begitu saja. Jika pun hari ini ia harus bersujud di depan Ceri, pasti akan ia lakukan.
"Tapi hati gue yang nggak akan sanggup nyakitin dia. Benar kata loe, gue pria baik. Dan pria baik nggak akan menyakiti istrinya sendiri." Tegas Tio kemudian melangkah mundur dan mengajak kedua orangtuanya untuk segera pergi.
...🍃...
Untuk yang ini aku ganti judul ya, kalian jangan terkejut jika menemukan judul yang berbeda.
Judulnya aku ganti "Menikahi Janda"
__ADS_1
makasih semua yang sudah pantengin terus, like n coment. Jangan lupa vote 🤗