
Kini keduanya sudah saling berpelukan, ntah kapan Tio membalikkan tubuh Ceri menghadapnya. Mencium aroma tubuh yang setiap malam menenangkan pikiran.
Tak ada yang berniat ingin melepas, suasana membawa keduanya untuk saling menyapa dengan tubuh yang semakin rapat. Bahkan mereka melupakan jantung yang saling berlompatan.
Malam ini mereka hanya ingin berdamai dengan keadaan bukan untuk berdebat dengan hati yang belum seutuhnya menerima.
Hampir dua puluh menit mereka saling mengeratkan hingga Tio merenggangkan pelukannya dan menatap wajah sendu Ceri yang sejak pagi di buat gelisah dengan segala pemikirannya.
"Kenapa? kangen sama gue?" tanyanya Tio lembut. Ceri ingin membuang muka tapi Tio menahannya.
"Kalo di tanya tuh liat orangnya!" ucapnya begitu gemas melihat wajah Ceri yang tampak merona.
"Gue cuma mau minta maaf buat kesalahan gue tempo hari. Gue terpaksa kesana karena Tante Tina bilang Romi makin lemas badannya gara-gara susah makan. Mau pamit tapi nggak tega buat bangunin." Cari tampak lega akhirnya bisa menjelaskan, tak perduli bagaimana tanggapan Tio. Yang penting dia sudah berusaha mengakhiri kesalahpahaman yang terus menerus terjadi.
Tio tersenyum miring, kemudian mencolek hidung Ceri. "Ngerasa bersalah ya?"
"Apa sich, gimana nggak. Gue di cuekin udah kayak istri beneran, terus loe nggak kasih kesempatan buat gue bicara. Di tambah lagi makin jarang dirumah. Kayaknya gue durhaka banget jadi istri padahal kan nggak gitu seharusnya."
"Seharusnya?"
"Seharusnya ya biasa aja, kan loe bilang sendiri kita nggak saling cinta dan menikah karena Regan. Loe juga nggak cinta kan sama gue? terus kenapa marah banget sama gue?"
Tio masih diam, dia berusaha mendengarkan semua keluhan dengan segala pertanyaan yang ada di kepala Ceri.
"Terus?"
"Ya harusnya nggak begini, gue yang bersalah sendiri kalo gini. Gue berasa kayak mencintai sendirian. Padahal kan nggak gitu, loe marah sama gue tapi hari itu loe datang ke rumah Sella. Loe egois tau nggak, loe bisa datang sesuka hati loe ke rumah wanita yang loe cinta tapi giliran gue yang nggak ada hati apa-apa sama Romi, malah loe curigai. Loe jahat tau nggak!"
"Loe abaikan semuanya, gue masak capek-capek tapi cuma loe liat aja. Loe abaikan gue, loe nggak perduli sama gue, terus mau loe tuh apa sich Tio! loe bilang kita bisa berteman tapi teman macam apa yang seperti itu!"
__ADS_1
Tio membiarkan Ceri menumpahkan semua emosi yang ada. Membiarkan dadanya menjadi sasaran empuk untuk Ceri sesuka hati memukulnya dengan segenap kekuatan yang ia punya. Bahkan ia tak peduli jika itu menyakitkan. Biarlah, mungkin ini balasan karena sikapnya yang terlalu menyakiti.
"Teman tuh nggak kayak orang musuhan Tio, teman tuh harusnya saling terbuka, kalo perlu nggak usah sekamar seka_mmpppprttttt......"
Tio membungkam bibir Ceri yang ucapannya semakin tak terkendali hingga membuat mata Ceri membola mendapatkan serangan mendadak dari pria yang sejak tadi hanya diam.
Tio tergoda, niat hati hanya ingin menghentikan ucapan Ceri tapi apalah daya ternyata rasanya begitu manis dan membuatnya menginginkan lebih. Hingga lumaataan dan isaapan tak bisa terelakan.
Bahkan Tio sudah memperdalam ciumannya ketika Ceri membuka akses untuk Tio merasakan lebih rasa yang baru ia kenal.
Ceri pun terbuai dan melawan hingga saling membelit dengan hati yang tak karuan. Hati mereka menolak tapi tubuh mengingkarinya. Saling menyelami peran hingga tanpa sadar keduanya sudah berakhir di atas ranjang. Masih saling menikmati hingga menimbulkan suara decapan yang mengudara. Sebagai pria Tio sudah sangat tergoda tapi akal sehatnya masih waras dan segera melepas.
"Ini first kiss gue!" bisiknya, Ceri yang masih tersengal dengan dada naik turun seketika terdiam.
Ceri berpikir betapa cintanya Tio dengan Sella, hingga bisa menjaga dirinya dan tidak berhubungan lebih dengan wanita lain.
"Nggak usah kebanyakan mikir, emang gue nggak pernah pacaran. Hati gue dari dulu cuma terpaut sama satu wanita, sama kayak loe. Tapi sekarang loe istri gue, kita tetap berteman. Teman hidup yang saling membuka hati. Dan kalo loe bilang harusnya gue biasa aja, ya memang seharusnya seperti itu. Tapi gue berhak atas loe!"
Masih dengan posisi di atas tubuh Ceri, Tio mulai menjelaskan setelah tadi memberi kesempatan untuk Ceri mengungkapkan isi hati.
"Seharusnya loe nggak main pergi aja! Dan gue main kerumah Sella karena kangen kembar, bukan niat mau ketemu emaknya, walaupun pasti ketemu tapi anggaplah bonus bisa ketemu dan ngobrol sama dia. Kenapa? loe mulai ada rasa sama gue? cemburu kan tau gue kesana?"
Ceri yang sejak tadi diam mendengarkan tiba-tiba di buat menganga mendapatkan pertanyaan di akhir kalimat yang Tio ucapkan.
Sumpah demi apapun Ceri ingin sekali memukul mulut Tio, tapi dia rasa tak sopan jika kasar pada suami.
"Nggak usah di jawab, gue tau kok! makasih ya udah mau buka hati buat gue!"
"Loe nggak salah ngomong Tio? bukannya loe yang marah dan nggak terima gue ketemu sama Romi sampe berusaha segala cara buat ngebatalin rencana gue mau ke sana? Berarti yang cemburu itu_mmmpppttt....."
__ADS_1
Tio kembali membungkam bibir Ceri dengan bibirnya bahkan begitu lihai menyesaap dalam waktu singkat.
"Yang cemburu itu lo_mmmmpppttt..."
Lagi dan lagi Tio melakukan hal yang sama, hingga bibir Ceri terasa kebas.
"Loe ya_mmppppttt...."
"Tio!" kesal Ceri. Setiap kata yang ingin terlontar selalu saja Tio gagalkan hingga ia di buat kewalahan karena serangan yang begitu kuat. Walaupun kekesalan nya tak sejalan dengan wajahnya yang merona.
"Apa? mau ngomong apa lagi, hhmm?"
Ceri mendengus kesal lalu membuang muka, dengan bibir merengut membuat Tio semakin gemas.
"Nggak ada, awas ikh berat tau!" sewot Ceri.
"Ntar gue tinggal nyesel loe!" Tio segera beranjak dari atas tubuh Ceri dan Ceri pun segera duduk. Menatap Tio yang kemudian melangkah menuju kamar mandi.
Ceri mulai mencerna kata-kata Tio, namun dirinya seperti membenci kata-kata itu. Seperti ada isyarat lain yang mengartikan hal yang tak diinginkan.
"Tio!" seru Ceri.
"Eh loe mau ngapain?" Tio begitu terkejut saat ingin menutup pintu kamar mandi tapi dengan cepat Ceri masuk dan berdiri dengan wajah sendu.
"Tarik kata-kata itu!" lirihnya.
Tio mengernyitkan dahi, ia mencoba mengingat lagi, kata-kata apa yang tiba-tiba membuat Ceri nekat ikut masuk ke dalam kamar mandi.
"Kebiasaan! mikir tuh yang baik-baik, sana keluar! atau loe mau mandiin gue?" tanyanya kemudian menutup pintu kamar mandi dengan wajah mesum.
__ADS_1
"Nggak Tio! awas gue mau keluar!"
"Tio!"