Menikahi Janda

Menikahi Janda
Mumi


__ADS_3

Tiga bulan kemudian


"Sayang.....sayang.....aku pulang...." Tio berlari menuju kamarnya mencari sang istri yang seharian belum ia lihat batang hidungnya karena harus berangkat pagi-pagi dan pulang cukup larut.


Sempat masuk ke kamar kedua anaknya, meninggalkan jejak sayang di kening keduanya dan memastikan mereka tidur nyenyak.


"Papah sayang kalian..." Ya, sesuai kesepakatan baru semenjak Ceri hamil mereka memanggil Tio dengan panggilan Papah karena mengimbangi Ceri yang di panggil dengan sebutan Mamah.


"Assalamualaikum.... ALLAHUAKBAR....sayang!" pekik Tio. Betapa terkejutnya dia melihat sang istri dengan wajah putih sedang tertidur di ranjang.


Ceri yang mendengar teriakan dari Tio segera bangun dan mengusap wajahnya dengan bibir mengerucut. Membersihkan masker yang masih tersisa dengan gemas.


"Maaaasssss masker aku!" rengeknya.


"Astaghfirullah aku pikir mumi dari mana tiba-tiba ada di singgasana cinta kita. Jantung aku hampir copot tau nggak Yang. Kamu nich ngagetin aja!"


Tio berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan, menguasai diri agar kembali normal dan berjalan menuju sang istri yang merajuk.


"Hhmm ini bibir.... cup....ngambek iya? jangan donk sayang, maaf ya ngerusak masker kamu. Pakai lagi dech, aku bantu ya." Tio mengambil masker Ceri yang baru tetapi segera di tolak olehnya.


"Nggak mau!" rengek Ceri manja.

__ADS_1


"Terus maunya apa sayang, hhm? moontok aku ini!" Tio membelai pipi Ceri, rasa lelah seharian di kantor seakan sirna setelah melihat tiga harta berharga dalam hidupnya.


Vero merentangkan kedua tangannya dan segera di sambut oleh Tio. "Kangen mas," ntah mengapa kehamilannya yang ini membuat Ceri begitu manja pada Tio. Bahkan dia tidak segan-segan minta Tio untuk menggendongnya dan tentu Tio harus memiliki kekuatan super untuk menghadapi bumil yang semakin berisi ini.


"Aku juga kangen sayang, maaf ya pagi-pagi aku nggak bangunin kamu. Aku nggak tega lihat kamu habis subuh ngantuk banget."


Keduanya saling berpelukan di atas ranjang dengan sama-sama saling merindukan. Hubungan yang semakin hangat di antara keduanya semakin menambah syahdu rumah tangga yang begitu harmonis.


"Mas...." lirih Ceri dengan mendekatkan bibirnya di telinga Tio membuat tubuh pria itu meremang dan mengecup leher sang istri dengan spontan dan sedikit kasar.


"Kenapa sayang, hmm?" bisiknya dengan terus mengecup leher Ceri hingga ke telinganya. Desahaaan pun lolos dari bibir sang istri apa lagi Ceri semakin nakal dan mulai naik ke pangkuannya.


"Dedeknya minta main sama Beno," lirihnya lagi dengan suara yang begitu berat. Ceri mengungkapkan keinginannya tetapi sudah mulai tak bisa diam dengan bergerak di pangkuan Tio menarik perhatian beno.


"Kenapa bertanya sedangkan Beno sudah berdiri tegak sayang." Tio semakin tak tahan, ia tak berdaya menahan setiap kali Ceri mulai agresif meminta jatah duluan. Dan hatinya begitu senang mendapat sambutan dari sang istri yang tak pernah ia lewatkan.


Tio semakin berjelajah menyusuri leher jenjang Ceri dan memberikan tanda cinta si setiap centinya.


"Mas!" Ceri menjauhkan tubuh Tio tiba-tiba dan menatapnya dengan tatapan sulit di artikan.


"Kenapa sayang? nggak jadi?" tanya Tio dengan wajah memerah dan perasaan heran. Sedang asyik-asyiknya di buat terkejut. Seperti sedang terlelap tidur di bangunkan mendadak.

__ADS_1


"Beno belum mandi! aku mau mut-mut nggak bisa! dia seharian di bungkus rapat bahkan begitu sesak pasti berkeringat. Mandikan dulu dia mas baru lanjut lagi agar lebih segar!"


Tio tercengang mendengar ucapan sang istri, sudah berdiri dan di guyur air dingin apa tidak kembali ke posisi semula. Dan begitu gemas dengannya kenapa tidak sejak awal dan ketika sudah on baru ingat. Rasanya Tio ingin menggigit bibir Ceri melampiaskan rasa gemasnya yang sudah berada di ubun-ubun.


"Harus banget sayang?"


"Hhmm.....kamu juga baru pulang mas, bersih-bersih dulu!" Ceri turun dari pangkuan Tio dan menarik tubuhnya agar bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Nanti bobo lagi loh benonya!" Tio mencoba bertahan tetapi tidak sang ratu tak bisa terbantahkan.


"Nanti aku bangunin lagi!"


Tio mengusap kasar wajahnya dan segera melangkah menuju kamar mandi dengan langkah gontai.


"Dingin Yang!"


"Nanti aku panasin lagi mas!" seru Ceri dari luar kamar mandi. "Microwave nganggur!"


"Haish....dia pikir sosis!" gumam Tio memandikan Beno dengan mengelusnya perlahan. "Anjir nggak kuat gue, enak....eh dingin.....udah akh nggak tahan!" Tio segera membersihkan diri dan segera keluar dari kamar mandi.


...****************...

__ADS_1


Ini yang minta extra part keromantisan keduanya, aku kasih tipis-tipis ya..


__ADS_2