Menikahi Janda

Menikahi Janda
Lepas


__ADS_3

Langit seakan mendung dan tak mau lagi bersinar saat kepergian Rayya menjadi musibah terbesar bagi seorang ibu yang baru merasakan kebahagiaan. Tak ada lagi kata yang bisa membuatnya tersenyum, hanya Rayya yang ia inginkan dan berharap Tio bisa membawanya pulang dengan selamat.


Kabar hilangnya Rayya pun sudah sampai ke telinga Sella dan suami. Mereka datang kerumah Ceri untuk menenangkan dan memberi semangat pada Ceri yang tampak sedih, lemas dan hanya bisa menangisi keadaan.


Mertuanya pun mendampingi apa lagi sang mamah yang selalu membujuknya untuk makan hingga berniat untuk menyuapi tapi di tolak oleh Ceri. Papah sejak tadi sibuk mencari Tio dan keberadaan teman-temannya yang di duga sudah menemukan letak dimana pencuri itu menyembunyikan Rayya.


Papah Juna pun tak sendiri, ia meminta asistennya untuk melacak keberadaan Tio dan berniat menyusul untuk membantu. Beliau merasa jika Tio dalam bahaya apa lagi ponselnya yang tak bisa di hubungi. Kemungkinan tempatnya pun sangat jauh hingga jaringan hilang.


Sedangkan Regan terhibur dengan adanya kembar yang dapat membuatnya tersenyum dan sedikit melupakan kesedihannya.


"Ceri yang kuat ya, Tio pasti menemukan Rayya. Kamu percayakan semua pada yang di atas jika ini semua sudah jalannya yang harus kamu lewati dalam pernikahan kalian. Insyaallah semakin di beri kekuatan dan kesabaran lagi."


Ceri hanya bisa menghela nafas berat, menyambut genggaman tangan Sella dan mengusap air matanya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


.


.


.


Selamat malam Tio...."


"Tiwi..." Tio tak menyangka jika dalang dari semua itu adalah Tiwi.


Tio menggelengkan kepala, Tiwi benar-benar terobsesi dengan dirinya hingga berbuat nekat. Tio tak bisa sembarangan, lawannya memang wanita tapi justru itu yang tak bisa di anggap remeh. Dia cewek psikopat, cewek gila....


"Jangan kaget Tio, gue tau loe nggak nyangka kalo ini karena gue. Tapi siapa lagi kalo bukan gue? toh orang yang benci sama bini loe cuma gue kan?" Tiwi berdecih.."Gue nggak suka orang yang sudah merebut kebahagiaan gue bakal bahagia gitu aja tanpa kendala. Dia bisa ngerebut loe dan gue akan ambil yang ia punya. So...ada satu pilihan buat loe!"

__ADS_1


"Licik, apa mau loe?"


"Nikahin gue dan gue akan kembalikan anak ini ke ibunya! bagaimana, hhmm?" Tiwi tersenyum licik. Satu langkah lagi ia akan mendapatkan Tio, Tiwi yakin Tio tidak akan membiarkan Ceri menderita. Dan sudah dapat di pastikan dia akan menyerah. Tidak apa di awal menjadi istri kedua, tapi setelahnya Ceri akan ia tendang.


"Konyol! pilihan yang konyol! loe pikir gue dengan mudah nikahin loe! itu sama aja gue bunuh diri. Jangan loe pikir gue bisa loe ancam dengan mudah!" Tio berusaha tenang walaupun sebenarnya ia tak tega melihat Rayya yang terus menangis. Dia mencoba mengulur waktu untuk bisa berpikir mencari cara agar nyawa Rayya tidak dalam bahaya.


"Terserah loe mau atau nggak, yang jelas konsekuensinya loe pasti paham kan! kita lihat aja bagaimana anak ini hidup bersama gue dengan penuh drama hingga suara tangisnya melemah."


Rayya semakin menangis saat Tiwi dengan sengaja mencubitnya. Sedangkan tubuh anak itu sudah semakin pucat karena tak henti menangis sejak semalam. Bibirnya sudah membiru dan suara tangisnya semakin pilu.


"Hentikan Tiwi! loe nggak punya hati, dimana nurani loe hah? Kayak gini loe minta gue buat nikahin loe, sedangkan loe sama sekali nggak punya rasa kasih sayang. Gue juga mikir bagaimana nasib anak gue nanti kalo punya ibu modelan loe begini. Seharusnya loe tuh baik-baikin gue, ambil perhatian gue, bukan malah loe berbuat buruk di depan gue. Apa lagi loe nyelakain anak di bawah umur. Otak loe jalan nggak sich?"


Tiwi tampak berpikir, benar yang di katakan Tio tapi itu tak akan berjalan mulus karena Tio sudah menolak bahkan menghinanya saat acara reuni tempo hari. Tiwi tersenyum getir, bodoh jika ia mengikuti apa yang Tio ucapkan, tidak akan ada hasilnya dan hanya akan ada penolakan terus menerus.


"Loe mau gue nyerahin anak ini gitu aja setelah apa yang udah gue lakuin? loe mau nego sama gue? gue nggak akan kejebak dengan kata-kata loe Tio, sekarang loe pilih nikahin gue atau nyawa anak ini jadi taruhannya?" Tiwi mengarahkan pistol ke arah Rayya. Dia tidak segan-segan membunuh anak itu jika Tio kembali menolak, baginya tidak apa kehilangan Tio asal Ceri pun merasakan hal yang sama. Kehilangan......


"Jangan gila Tiwi!"


Tio ingin berlari meraih Rayya tapi dengan cepat Seto menariknya, "tunggu, loe bakal nyakitin Rayya kalo loe nekat Tio! Tiwi bisa aja nembak Rayya beneran!"


"Terus gue harus gimana anjing? anak gue dalam bahaya! loe nggak ngerti ada di posisi gue!" Tio benar-benar sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya. Hatinya tak tega melihat Rayya semakin lemah, ia gagal andai Rayya tak bisa tertolong lagi. Bukan hanya gagal menjadi ayah, dia juga gagal menjadi suami untuk Ceri.


Tiwi tertawa melihat kecemasan Tio, langkahnya semakin mendekati Rayya dengan terus mengarahkan pistol itu ke kepala Rayya. Sedangkan Tio tak dapat menahan, dia meminta semua temannya menyerang anak buah Tiwi agar dia bisa melawan Tiwi.


Perkelahian tak terelakkan dan sudah pasti akan terjadi, dengan tiba-tiba keempat teman Tio menendang lengan semua anak buah Tiwi hingga senjata mereka terjatuh.


"Jangan beraninya pakai senjata!"

__ADS_1


"Brengs3k! serang mereka!" sentak salah satu anak buah Tio, mereka maju dan saling menyerang dengan tangan kosong.


Tio menatap Tiwi yang hampir saja mendekati Rayya tetapi dengan cepat Tio mendorong tubuh Tiwi hingga terjatuh dan secepat mungkin ia berlari meraih Rayya yang masih tergeletak di atas meja.


"Sial!" Tiwi mengambil kembali senjatanya yang terjatuh tetapi dengan cepat Tio menginjak tangan Tiwi hingga wanita itu meringis kesakitan.


"Auwwhhh.......sakit Tio!"


"Lepas pistol itu! gue nggak akan ngebiarin loe nyakitin siapapun Tiwi!" sentak Tio yang kini berdiri di hadapan Tiwi dengan menggendong Rayya.


Tiwi tak menghiraukan hingga injakan di kaki Tio semakin kuat, "Sakit!" rintih Tiwi dengan mata yang sudah basah.


"Lepas!" bentak Tio.


Tiwi melepaskan pistol tersebut dan dengan cepat Tio menendangnya hingga tak terjangkau oleh Tiwi. Dia ingin segera meninggalkan tempat itu agar Rayya bisa cepat mendapatkan pertolongan.


"Gue nggak akan biarin loe nyakitin Rayya dan gue nggak akan mau nikahin wanita gila seperti loe! inget itu!" sentak Tio. "Dan satu lagi, berani loe ngusik keluarga gue lagi, gue nggak akan segan-segan masukin loe ke penjara!"


Tio segera berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu, ia harus segera mencari susu untuk Rayya atau setidaknya minum untuk anak itu yang mengalami dehidrasi. Tio berlari keluar bangunan itu dengan wajah cemas.


"Tio..."


"Papah..."


Langkah Tio terhenti melihat siapa yang memanggil, tetapi setelah itu ia segera berlari mendekati. Senyumnya mengembang dengan air mata haru.


"Tio awas!"

__ADS_1


dor


dor


__ADS_2