
"Anak mamah ..." Ceri terharu saat Regan berlari memeluknya di ambang pintu. Hampir setahun tak bertemu membuat mereka sangat merindu. Bahkan tangis haru terdengar di awal perjumpaan.
"Mamah, Regan senang mamah pulang." Keduanya saling memeluk erat, Ceri pun menghujani Regan dengan kecupan. Rasa syukur pun terucap karena bisa kembali ke rumah yang begitu banyak kenangan.
"Iya nak, maaf ya jika mamah tidak bisa menemani Regan di awal pendaftaran sekolah. Pasti banyak yang di tunggu oleh ibunya ya nak?"
"Iya mah dan hanya Regan yang tidak karena papah harus bekerja."
Ceri tersenyum bangga, di usianya yang baru menginjak 7 tahun Regan begitu mengerti akan situasi. Kini ia pun lebih terlihat dewasa dari umurnya, sudah bisa menjaga Rayya, mengajak bermain dan terkadang menyuapi Rayya makan.
Adanya kejadian yang menimpa keluarga mereka tentunya terdapat hikmah yang begitu besar. Tak ada penyesalan yang ada hanya rasa syukur yang mendalam.
Ceri melihat ke arah Tio yang datang bersama Rayya, senyumnya kembali mengembang melihat Rayya begitu menggemaskan. Rambut di kuncir dua dengan dress pink dan pipi chubby yang menarik hati.
"Anak mamah....."
"Itu mamah sayang," ucap Tio dengan mendekatkan Rayya pada Ceri.
Rayya hanya diam memperhatikan hingga wajahnya nampak ingin menangis ketakutan karena merasa asing dengan Ceri. Bahkan Ceri pun sempat ragu untuk kembali mendekat. Tetapi setelah Ceri merentangkan kedua tangannya, Rayya pun melakukan hal yang sama.
"Owh minta di gendong mamah ya, sayang udah kuat belum? kalo belum mending nanti saja jika sudah lebih baik. Kasian nanti kena lukanya."
"Kan sudah kering, sudah sembuh kok..nggak apa-apa nanti jika terasa sakit aku turunkan." Ceri benar-benar ingin menimang Rayya, bayi yang kini tumbuh sehat dan semakin bulat.
"Lucu banget sich anak mamah!" Ceri begitu bahagia, mereka berkumpul di ruang keluarga, bercanda dan tertawa. Moments yang sudah sangat Tio nantikan, apa lagi bisa kembali melihat senyum bahagia dari orang sangat ia cinta.
Makan malam kali ini pun dengan formasi yang lengkap, Tio merasakan kembali di layani oleh sang istri. Rayya pun sudah bisa duduk di baby chair dengan menggenggam makannya dan Regan sangat lahap bisa kembali menikmati masakan sang mamah.
"Bahagianya aku sayang, bisa kembali berkumpul seperti ini. Dan bisa kembali memelukmu seperti dulu." Tio memeluk Ceri di bawa sinar rembulan, kini keduanya sedang berdiri di balkon kamar.
"Terimakasih untuk semuanya, anak-anak sehat bahkan kamu dengan sabar merawatku mas. Aku beruntung memiliki suami sepertimu. Dan aku..."
"Apa sayang?" Tio membalikkan tubuh Ceri agar menghadapnya.
"Aku...."
"Aku_" Tio menunggu kata-kata yang akan terucap dari bibir Ceri, menatap lekat hingga mengikis jarak karena begitu penasaran.
"Aku mencintaimu.." bisiknya, kemudian berlari masuk ke dalam kamar. Tio tercengang mendengarnya, seketika senyum terbit dan segera berlari menyusul Ceri. Tidak lupa ia menutup pintu balkon karena ingin menagih janji agar si Beno kembali aktif kembali.
"Sayang....sayang...kemana dia, apa keluar kamar." Tio mencari Ceri yang tak terlihat di kamar, ia mencari ke kamar kedua anaknya dan turun kebawah tetapi tak juga menemukan. Kemudian kembali ke kamar dan betapa terkejutnya dia melihat bidadari memakai baju seksi terduduk di atas ranjang dengan pose aduhai.
"Kamu menggodaku sayang? lampu hijau sudah berlaku?" Tio melangkah mendekati dengan perlahan membuka kaos dan celana bokser. Yang tersisa kini hanyalah sehelai kain yang masih menutupi si Beno.
Ceri tampak merona di atas ranjang, lingerie tipis bahkan dapat menembus kedua kain yang membungkus bagian dalamnya dengan warna senada. Warna hitam yang kontras dengan kulit tubuhnya.
__ADS_1
"Mau slow atau faster baby?" lirihnya dengan seringai nakal merangkak mendekati tubuh Ceri yang tiba-tiba mundur karena cukup ngeri dengan ekspresi Tio yang begitu ingin hingga membuat Ceri bergidik .
"Medium bisa?"
"Mau gaya apa sayang?" tanya Tio lagi.
"Semua gaya bisa asal jangan gaya kodok!"
"Tapi aku mau gaya cicak sayang."
"Nanti kita coba di kamar mandi," jawab Ceri singkat. Dan tanpa bertanya lagi Tio segera meraih manisnya benda kenyal yang menjadi awal pertempuran. Menyesap, melumaaat dan membelit saat lawan sudah membuka akses pertahanan.
Bahkan Ceri mulai membusungkan dada saat tangan Tio bergerilya turun perlahan ke kedua benda yang sangat menggemaskan untuk di sesap, memiilin hingga suara yang ia rindukan kembali terdengar. Kamar yang akhir-akhir ini begitu hening dan sepi kini kembali ramai dengan suara merdu dari kedua insan yang menyatu. Tio begitu lembut memperlakukan Ceri seperti barang pecah belah dengan harga mahal. Bergerak perlahan hingga cepat dengan tempo yang begitu melenakkan.
Tak cukup satu malam, hampir setiap malam si Beno masuk ke dalam sarang basah yang begitu hangat. Hingga dua bulan ini selalu bekerja tiap malam dan selalu menyemburkan bisa yang menghangatkan. Membunuh lelah seharian beraktivitas, melepas penat di ranjang yang kini menjadi singgasana penuh cinta.
Hingga benih yang di sebar setiap malam akhirnya tumbuh dan berkembang, tanpa mereka sadar kegiatan panas dua bulan ini menghasilkan buah cinta.
Huwek
Huwek
Huwek
"Mamah sakit?"
"Nggak tau sayang, ini bawangnya kok bau banget ya. Mamah pusing jadinya." Ceri membasuh mulutnya dan segera kembali mendekati sayuran yang akan ia masak. Tetapi bau bawang kembali menyeruak hingga ia pusing dan tak sadarkan diri.
"Mamah!"
"Bibi tolong mamah Bi!" teriak Regan memanggil Bibi yang sedang menyirami tanaman.
"Ada apa den?" Bibi tergopoh-gopoh berlari masuk kedalam rumah.
"Mamah pingsan Bi, tolong Bi..."
.
.
Tio berlari keluar dari ruangannya, setelah mendapat kabar dari Regan ia segera meninggalkan pekerjaannya bahkan tak memperdulikan panggilan dari sekretarisnya yang mengingatkan jika satu jam lagi ada meeting penting.
Tujuannya kali ini adalah pulang kerumah untuk melihat kondisi istrinya. Tio pun telah meminta dokter segera mendatangi rumahnya agar memeriksa keadaan Ceri. Ia takut jika jantung Ceri kembali bermasalah. Dan dapat berpengaruh buruk dengan kesehatannya.
Tio berlari menuju kamar, tampak dokter keluar bersama dengan Bibi setelah memeriksa keadaan Ceri.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istri saya Dok?" Tio yang tidak sabar segera menghampiri.
"Istri anda baik-baik saja."
"Lalu kenapa istri saya bisa pingsan Dok? sedangkan tadi pagi masih baik-baik saja." Tio benar-benar cemas bahkan ia sudah tidak sabar ingin masuk kamar dan melihat keadaan Ceri tapi ia tunda karena butuh penjelasan dari Dokter.
"Karena istri anda sedang hamil, selamat ya Pak Tio. Saya ikut senang dan Pak Tio bisa membawa istri bapak ke dokter kandungan untuk memastikan."
"Hamil? serius Dok?" tanyanya lagi dan di angguki oleh dokter tersebut. Dokter yang selama ini menangani Ceri, beliau pun ikut terharu bahkan senang melihat Tio begitu bahagia.
"Makasih Dok.."
"Sama-sama Pak Tio, kalo begitu saya permisi dulu."
"Iya."
Tio segera masuk ke kamar membuka pintu dengan kasar karena sudah tak sabar. Melihat sang istri sudah kembali bermain dengan Rayya dan Regan. Bahkan tersenyum menyambut kedatangannya.
"Sayang kamu..."
Ceri menganggukkan kepala, Tio segera menghampiri dan memeluk Ceri dengan erat.
"Alhamdulillah Ya Allah aku akan mendapatkan anak lagi. Rumah kita akan semakin ramai sayang."
"Iya Mas.." keduanya menangis bahagia, bahkan Regan pun begitu senang akan memiliki adik lagi.
"Papah Regan akan punya adik lagi....yeeeee...." Regan begitu bahagia dengan berloncatan di atas ranjang dan di ikuti dengan Rayya yang tak paham tapi ikut merasa senang.
Tio pun mengecup kening Ceri dengan perasaan bahagia. "Makasih telah memberi kebahagiaan untukku.."
"Terimakasih juga telah menjadi imam yang baik untukku dan anak-anak."
-tamat-
...****************...
Akhirnya tiba di penghujung cerita ya, Tio dan Ceri berakhir bahagia. Maaf jika ending tak sesuai dengan yang kalian harapkan. 🙏🙏🙏
Dan terimakasih selama ini sudah menyempatkan untuk membaca cerita yang seberapa ini.
Sayang banget sama kalian♥️♥️
Setelah ini akan ada judul baru tapi sambil menunggu kalian bisa baca yang ini dulu.
__ADS_1