Menikahi Janda

Menikahi Janda
Gangguan


__ADS_3

Mata keduanya saling terkunci dengan tubuh rapat dan bibir sedikit terbuka. Dentuman jantung pun begitu terasa hingga saling bersahutan.


Tak di rencanakan dan tak juga diniatkan, keduanya saling menyelami perasaan yang masih jauh akan kata cinta tapi cukup nyaman saat berdekatan.


Cekalan Tio di pinggul Ceri pun semakin erat hingga begitu terasa semakin dekat, bahkan dada Ceri sudah menempel di dada bidang Tio yang masih berbalut kemeja kerja.


Respon tubuh keduanya mengingkari hati yang belum ingin menyapa. Tapi apalah daya bahkan Ceri bisa merasakan ada yang mengganjal dari balik celana Tio. Dan sialnya hati ingin menghindar tapi tubuh tak ingin memberi jarak.


Hingga entah siapa yang memulai, kedua bibir ingin saling berkenalan dan memberi kesan manis di awal sapaan. Nafas keduanya pun ikut berperan di antara bibir yang akan bertemu.


Tok


tok


tok


"Mah...."


Teriakan Regan membuat keduanya saling berpaling, hampir saja sampai tapi gangguan tiba-tiba datang. Dan Ceri pun segera melesat ke dalam kamar mandi dengan wajah merona dan pipi yang terasa panas. Membiarkan Tio yang membuka pintu karena dirinya masih memakai handuk.


"Ngapa jadi tiba-tiba pengen nyicipin sich! ini pasti gara-gara si Beno nich! haduuuuhh...."


Tio mengusap kasar wajahnya kemudian segera membuka pintu setelah berkali-kali menarik nafas dan mengendalikan diri, walaupun si Beno bagai tombak yang tak kunjung turun tapi sebisa mungkin ia mencoba untuk tenang.


"Papah..."


"Hay boy, kenapa sayang?" Tio segera bersimpuh di depan Regan dan memegang kedua pundaknya.


"Mamah mana Pah?" tanyanya dengan wajah polos.


"Mamah? ada....sedang berganti pakaian. Ada apa hhmm? dedek Rayya rewel?" karna sejak ditinggal Ceri, Rayya bersama dengan Bibi.

__ADS_1


"Ada Oma Tina datang Pah, sedang di bawah menggendong Rayya."


Tio mengerutkan dahi, ia lupa siapa yang Regan maksud tetapi cukup familiar dengan nama yang Regan sebut.


"Sebentar lagi mamah selesai nak, nanti papah kasih tau mamah ya!" ucapnya kemudian berdiri kembali.


"Oke Pah, ya sudah Regan turun dulu ya Pah. Mau main dengan oma." Dengan riang Regan turun kebawah.


"Hati-hati boy, jangan lari-lari turunnya!" seru Tio kemudian masuk kembali ke dalam kamar setelah memastikan Regan sudah sampai di bawah.


Tio menoleh ke arah pintu kamar mandi yang terbuka, memperlihatkan Ceri dengan hijab yang menutupi kepala. Tio mengulum senyum saat Ceri terlihat salah tingkah setelah beberapa detik bersinggungan mata.


"Regan bilang loe di tunggu di bawah, ada Oma Tina katanya."


Dengan pandangan mata ke arah cermin, Ceri sempat diam memikirkan ada apa gerangan Tante Tina datang. Tapi sesaat kemudian dia memilih untuk segera keluar dari sana dan bergegas turun ke bawah untuk menemui beliau.


"Ada apa sich...." gumam Tio melihat kepergian Ceri. Tio mengangkat kedua bahunya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Wa'allaikumsalam nak, makin cantik saja kamu...." Ceri mengecup punggung tangan Tante Tina kemudian menatap beliau dengan perasaan ingin tau.


"Pasti kamu bertanya-tanya kan kenapa Tante datang kesini sendiri?" tanyanya setelah Ceri meminta Bibi kembali mengajak Rayya dan Regan bermain.


Ceri menganggukkan kepala, karena tak biasanya beliau datang tanpa Romi. Tapi tak lama Ceri tercengang melihat Tante Tina menggenggam tangannya dengan erat.


"Romi kecelakaan nak," lirih Tante Tina dengan wajah sendu mata berkaca-kaca.


"Ro..Romi ke... kecelakaan Tante? kenapa nggak ngabarin Ceri Tan?" Ceri begitu terkejut mendengar ucapan Tante Tina. Jantungnya seketika berdebar mendengar jika sahabatnya kecelakaan.


Tante Tina meneteskan air mata, ia menganggukkan kepala kemudian meminta Ceri untuk datang menjenguk karena Romi selalu menanyakannya.


"Datanglah nak, Romi selalu menanyakanmu. Ia berharap kamu bisa menjenguknya. Bahkan selama di rumah sakit ia tidak mau makan. Tante sampai bingung harus bagaimana dan meminta tolong pada siapa. Sedangkan pekerjaan juga sudah terbengkalai dan harus segera ada yang menghandlenya."

__ADS_1


Tante Tina menghela nafas berat. Tak ada jalan lain selain mendatangkan Ceri untuk penyemangat bagi Romi agar lekas sembuh.


"InsyaAllah Ceri datang ya Tante. Tapi maaf jika Ceri tidak bisa lama nanti di sana," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan. Karena dia pun harus meminta ijin pada Tio dan menjaga diri karena statusnya yang sudah bersuami walaupun tak banyak yang tau akan itu.


"Tidak apa nak, semoga dengan adanya kamu Romi kembali bersemangat untuk sembuh. Sebenarnya luka-luka di sekitar kaki, tangan, dan kening sudah sembuh. Tapi entah kenapa ia seperti tak ada gairah hidup. Setiap Tante tanya ia hanya bilang tidak apa-apa. Sampai Tante bingung harus bagaimana."


Sebagai ibu ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya yang sedang semangat dalam berkarier dan bekerja dengan tekun tapi tiba-tiba seperti kehilangan arah dan tak punya semangat hidup sama sekali.


"Tante sabar ya, mudah-mudahan setelah ini Romi bisa kembali pulih."


"Aamiin....ya sudah kalo gitu Tante pamit ya nak. Maaf jika kedatangan Tante merepotkanmu nak. Karena terlalu sibuk mengurus Romi sampai Tante tak sempat melihat cucu tante."


"Tidak merepotkan Tante, Tante sudah seperti ibu bagi Ceri. Sebisa mungkin ceri berusaha untuk membantu, tapi jika Ceri terbatas dalam bertindak harap di maklumi Tante."


"Iya nak, Tante mengerti kamu juga sedang repot mengurus anak-anak....Ya sudah Tante kembali ke rumah sakit dulu ya nak. Takut Romi mencari." Tante Tina beranjak dari sofa dengan Ceri mengantarnya sampai ke halaman depan.


"Hati-hati ya tante, sampaikan salam pada Romi Tante.."


"Iya sayang nanti Tante sampaikan. Assalamualaikum......"


"Wa'allaikumsalam..."


Ceri masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di kendarai Tante Tina telah pergi dan tak terlihat. Tapi betapa terkejutnya dia saat melihat Tio yang sudah ada di belakangnya sedang bersedekap dada menatapnya dengan tatapan tajam menyelidik.


"Tio, ngagetin aja!"


"Emang yakin bakal diijinin suami buat datang mengurus sahabat yang ngarepin loe?" tanyanya kemudian berbalik dan masuk kembali ke kamar.


Ceri hanya diam tercengang dengan pertanyaan yang berkesan peringatan.


"Jangan-jangan dari tadi dia menguping....." Ceri menarik nafas panjang kemudian segera menutup pintu dan menyusul Tio ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2