
Hari ini Ceri mengajak Regan ke swalayan untuk membeli kebutuhan rumah tangga serta sayur dan buah. Masih dengan seragam sekolahnya ia memilih beberapa jajanan dan susu kemasan.
"Mah, kalo Rayya jajanannya apa Mah?" anak itu berniat memilihkan jajanan untuk adiknya.
"Rayya belum boleh makan donk sayang, nanti ya sekitar dua bulanan lagi baru boleh makan."
"Gitu ya Mah, jadi Abang yang makan banyak. Ini jajanan semuanya buat Abang ya Mah," ucapnya dengan mata berbinar.
"Iya sayang, nanti Rayya kita belikan gigit-gigitan saja ya, sepertinya gusinya mulai gatal."
Keduanya berkeliling membeli apa yang sudah habis di rumah hingga troli terisi penuh. Kemudian segera menuju kasir untuk melakukan pembayaran.
"Mamah Regan mau eskrim boleh?" tanya Regan saat sudah sampai di depan meja kasir dan melihat beraneka macam eskrim di dalam flizer.
"Boleh sayang, mbak sekalian es krim itu ya."Ceri menunjuk ke arah Regan dan dianggukki oleh kasir setelahnya kembali melanjutkan pembayaran.
"Masuk ke mobil sayang, mamah mau masukin belanjaan mamah dulu!" seru Ceri saat sudah berada di parkiran dan Regan pun segera melangkah menuju pintu samping kemudi.
"Papah..." langkah Regan terhenti saat melihat Tio keluar dari mobilnya bersama dengan seorang wanita dengan pakaian kerja sexy.
"Papah....." seru Regan.
Mendengar Regan memanggil Tio, Ceri segera menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah dimana Regan kini berlari mendekati Tio. Ceri menatap nanar wanita yang tidak ia kenal ada di samping Tio, kemudian melangkah mendekati mobilnya dengan Regan yang sudah dalam gendongan.
Ceri segera memasukkan kembali semua barang belanjaan yang masih tersisa dan segera menutup pintu belakang. Berniat segera mengajak Regan untuk pulang.
"Mah, ada Papah...." seru Regan sangat bahagia.
Ceri menoleh ke samping, menatap Tio sekilas kemudian meraih tubuh Regan.
"Kita pulang ya nak, jangan ganggu Papah. Papah masih banyak pekerjaan." Ceri berusaha memberi pengertian dan beruntungnya Regan tak membantah.
"Ini anak bapak?" tanya wanita itu.
"Iya, ini anak saya dan ini_"
"Saya adiknya."
deg
__ADS_1
Tio mengeratkan rahangnya dengan tangan terkepal, sedangkan Regan yang sibuk memasukkan mainannya tak mendengar ucapan sang Mamah.
"Oh adiknya, saya pikir istrinya tapi kapan Pak Tio menikah. Bukannya kemarin membatalkan pernikahan dengan Bu Tiwi ya Pak," ucap wanita itu dengan tertawa kecil.
Tio tak menanggapi, pandangannya saat ini lurus ke arah wanita bergamis di depannya. Dia tak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Ceri hingga tak mengakui statusnya.
"Ayo pamit nak!"
"Papah Regan pulang dulu ya!" Regan segera meraih tangan Tio dan menciumnya kemudian masuk kedalam mobil tanpa pamit terlebih dahulu pada wanita yang berdiri di samping papahnya.
Begitupun dengan Ceri, ia juga segera pamit. Tapi bukan dengan Tio, melainkan dengan wanita yang ada di sebelah Tio.
"Mbak saya pamit pulang dulu ya .." Ceri sedikit menganggukkan kepala kemudian masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arah Tio.
Tio menatap kepergian mobil putih dengan perasaan tak karuan. Wajahnya memerah menahan amarah dan meredam perasaan yang ingin meledak.
"Pak bapak kenapa? bapak sakit?" tanya wanita itu yang ternyata adalah sekertaris Tio yang ia ajak mampir sebentar untuk membeli pesanan Mamah yang tadi tiba-tiba menelpon setelah ia meeting.
"Kamu pesan taksi dan segera kembali ke kantor, ada urusan yang harus saya selesaikan. Urus juga meeting selanjutnya dengan Seto!" Tio tak perduli seruan sekretarisnya, ia segera berlari dan masuk ke dalam mobil.
BRAK
"Tio."
Tio diam berdiri di ambang pintu kamar, setelah itu menutup pintu dengan kasar dengan menyorot mata Ceri dengan tatapan tajam yang membuat nyali Ceri menciut.
Tio melangkah perlahan dengan tangan terkepal, terus mengikis jarak dengan Ceri yang semakin mundur kebelakang. Bayangan atas perkataan Ceri tadi yang mengaku sebagai adik membuatnya naik darah.
Tio rela meninggalkan semua pekerjaannya hari ini dan meeting penting dengan orang Singapura hanya untuk pulang ke rumah istri yang sudah hampir dua Minggu tidak ia singgahi.
Jantung Ceri berdetak semakin tak beraturan saat punggungnya menabrak dinding dan ia tak bisa lagi menghindar. Di tambah lagi jaraknya dengan Tio semakin dekat. Hingga langkah pria itu terhenti tepat di depannya.
"Mau apa Tio?" tanyanya dengan menatap awas Tio yang kini semakin merapat.
"Justru gue yang harusnya nanya mau loe apa mengaku sebagai adik gue?"
"Jadi itu alasan loe datang? setelah loe memilih untuk pulang dan ninggalin gue, sekarang loe nggak terima gue mengaku adik loe! terus gue harus mengaku apa Tio? istri loe? emang ada suami yang sengaja ninggalin istri hampir sebulan dan sama sekali nggak niat pulang? suami yang gimana? sedangkan gue berasa menjanda!"
"Loe yang nggak mau gue publish, loe yang nggak mau datang ke kantor gue, dan sekarang loe yang ngaku kalo adik gue, emang sejak awal loe nggak terima jadi istri gue!" ucap Tio dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Seharusnya loe paham mau gue Tio! gue nggak mau hanya status, gue capek bergelar istri tapi nggak di cintai! gue nggak mau kejadian dulu terulang lagi! tapi loe nggak peka, loe egois Tio! jika hanya gelar istri gue bisa minta nikahin siapapun yang penting status gue berubah, tanpa cinta yang penting gue punya suami kaya!"
"Sekarang apa gue harus mengaku-ngaku menjadi istri loe kalo kita aja jauh? kita semakin berjarak, dan loe nggak pernah ada. Apa masih ada gelar istri di diri gue kalo tidur aja gue sendiri? apa bedanya gue dengan jan_"
"Stop Ceri! Stop!"
Tio merangkum kedua pipi Ceri, menatap wajah wanita dengan mata penuh luka.
"Loe istri gue!"
bugh
Ceri memejamkan mata saat tangan Tio tiba-tiba menghantam dinding tepat di sebelah wajahnya.
"Loe milik gue!"
bugh
Lagi, Tio menghantam lagi hingga buku-buku tangannya terluka bahkan darah segar sudah menetes kelantai.
"Dan gue cinta sama loe!" lirih Tio.
deg
Mata Ceri terbuka, ia menatap tak percaya. Tapi di mata Tio ia melihat kesungguhan. Hingga tubuhnya kini di tarik oleh Tio masuk kedalam dekapan.
Tangis Ceri pecah, ini yang ia inginkan, ini yang ia harapkan, bukan sekedar status, dan pengakuan dari siapapun.
Tapi cinta yang tulus yang ia dapat dari orang yang tepat.
"Maaf....."
Ceri menganggukkan kepala, dia tak butuh ucapan maaf, dia hanya butuh kasih sayang.
"Gue cinta sama loe, maaf telat. Tapi gue pergi dari sini untuk hubungan ini. Dan setelah kita jauh gue sadar kalo loe bararti di hidup gue! Loe istri gue, jangan pernah mengaku sebagai adik lagi, loe bikin gue gila tau nggak!"
"Maaf...." lirih Ceri.
"Kali ini loe gue maafin, tapi nggak akan gue bebasin tanpa hukuman dari gue!" bisik Tio membuat tubuh Ceri menegang.
__ADS_1