Menikahi Janda

Menikahi Janda
Gue ingin.....


__ADS_3

Jadwal Tio hari ini cukup padat, sejak pagi ia sudah bolak balik dari ruangannya ke ruang meeting lalu menemui klien dan kembali lagi keruangannya dengan membawa penat.


Masih ada meeting dengan perusahaan baru di bidang properti yang mendukung perusahaannya untuk melengkapi projects baru yang sedang berjalan di kota B.


Sejenak Tio mengistirahatkan diri dengan menyandarkan tubuhnya, mata terpejam dengan gurat kelelahan yang begitu ketara. Sepintas kejadian semalam kembali teringat, wajah Ceri pun begitu nyata di ingatan.


Tio meraih ponselnya, ia mencari nomor Ceri tapi tak kunjung menghubungi. Entah mengapa ingin sekali menanyakan sedang apa? sudah makan? anak-anak gimana? Di awali dengan pertanyaan klasik agar percakapan menjadi asik.


"Nggak jadi dech..." Tio kembali meletakkan ponselnya di meja kemudian melanjutkan pekerjaan.


Sorenya ia bersama dengan Seto menuju cafe untuk mengadakan meeting terakhir di hari ini. Wajah Tio masih fresh setelah tadi mencuci muka sebelum pergi. Tapi tubuhnya sudah lelah dan ingin segera beristirahat, maka dari itu ia berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya agar bisa segera pulang.


"Masih lama Set?" tanya Tio, ia mulai bosan menunggu kedatangan klien barunya yang sudah hampir setengah jam terlambat dari jadwal yang telah di tentukan.


"Masih di jalan kali sabar lah. Sambil ngopi-ngopi dulu. Udah kebelet pulang loe ya, perasaan kemarin-kemarin biasa aja. Pulang malem-malem nyantai, ada apakah gerangan?" tanya Seto ingin tau.


"Capek gue, pengen rebahan rasanya. Loe nggak ngerti banget." Keluh Tio, tapi memang rasanya ia ingin cepat pulang.


Keduanya menyibukkan diri dengan membahas pekerjaan mereka yang belum selesai, hingga hampir satu jam menunggu dan datanglah wanita cantik dengan rok span di atas lutut yang pas di body dan kemeja dengan mencetak dada.


"Selamat sore Pak Tio ..."


"So....Tiwi! ngapain loe disini?" tanya Tio heran. Tiwi datang dengan pakaian formal dan duduk di depan mejanya setelah berjabat tangan. Kemudian di susul oleh wanita muda yang kira-kira umurnya di bawah mereka mengaku sebagai sekertaris.


"Mau membahas tentang kerja sama yang baru akan kita mulai Pak Tio. Perkenalkan saya CEO dari PT Triniti." Tiwi tersenyum tipis melihat keterkejutan di wajah Tio.


Tio tercengang mendengarkan penuturan dari Tiwi kemudian dia beralih menatap Seto yang kini menggelengkan kepala melihatnya.


"Ehemm.....baik, mari kita mulai meetingnya. Silahkan jelaskan produk anda yang menarik agar saya dapat menyetujui kerja sama kita." Tio berusaha bersikap tegas dan bijak. Ia menganggap baru kenal tapi cukup waspada.


Tio benar-benar tidak tau jika klien barunya itu adalah Tiwi, dia cukup awas mengamati gerak gerik Tiwi. Mereka membahas tentang pekerjaan, produk, tanpa ada pembahasan yang melenceng ke arah pribadi.


Hingga di penghujung pembahasan, dengan pertimbangan yang matang Tio menandatangani kontrak tersebut dan menyetujui kerja sama dengan Tiwi.


Selama masih bisa profesional dan tidak menyulitkan, Tio masih bisa menerima dengan baik. Tapi ia pun tak lengah begitu saja. Ia tau Tiwi dan ia tidak ingin apa yang menjadi keputusannya akan berpengaruh pada hubungan dia dengan Ceri.


"Terimakasih atas kerjasamanya Pak Tio, kalo begitu saya permisi dulu!" pamit Tiwi lalu pergi begitu saja dengan gaya anggun yang ia tunjukkan.


"Sama-sama...."


Tio menatap punggung kedua wanita itu yang kini melangkah pergi. Kemudian Seto menyenggol lengan Tio.


"Udah liatnya, inget sama yang di rumah!" ucap Seto memperingati membuat Tio berdecak.

__ADS_1


Tio menghela nafas lega kemudian menatap Seto. "Menurut loe gimana?"


"Bagus, menarik, tapi gue harap nggak ada udang di balik tahu!" celetuk Seto, ada rasa khawatir apa lagi setelah Tio dan Tiwi memiliki masalah pribadi.


"Gue harap dia profesional dan tidak mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Dan loe tau apa tugas loe jika sampai itu terjadi."


Seto menganggukkan kepala, diapun berharap demikian. Setelahnya mereka memutuskan untuk segera pulang.


...🍀🍀🍀...


Ceri membuka mukenah setelah selesai menjalani kewajiban 3 rakaat. Kemudian membereskannya.


"Astagfirullah...." Ceri mengusap dada melihat Tio yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya. "Ngagetin ikh!" kesal Ceri.


Tio terkekeh, pulang di sambut dengan pemandangan yang menyejukkan hati. "Sorry..."


Ceri menyalami Tio kemudian segera menyimpan peralatan sholatnya. Meraih tas kerja Tio dan meletakkan juga sepatu pria itu di tempat semestinya.


"Mau langsung mandi?" tanyanya mengambil jas yang telah tergeletak di atas sofa.


"Eh buka kemejanya di kamar mandi aja!" ucap Ceri memperingati, tapi Tio seolah polos tidak mengerti.


"Emang ada yang salah? buka celana di sini juga nggak apa-apa!" celetuknya.


"Tio!"


Lagi-lagi Tio membuatnya terkejut, Ceri berbalik hendak keluar kamar mandi tapi tertahan langkahnya karena Tio telah berdiri di hadapannya menghadang dengan kancing kemeja yang telah terbuka.


Ceri salah tingkah melihat dada bidang dengan roti sobek terpampang begitu Indah, bahkan kini Tio dengan sengaja melempar kemejanya dengan wajah menggoda.


"Airnya sudah siap, minggir gue mau lewat!" lirihnya dengan wajah memerah seperti tomat. Tio mengulum senyum melihat Ceri masuk ke dalam perangkap.


Melihat pemandangan yang membuat gerah memang bukan pertama kalinya bagi Ceri. Tapi sekarang ia sedang berdiri di hadapan Tio, pria yang baru beberapa Minggu menikahinya. Bahkan baru semalam ia berani membuka hijab di hadapan pria itu.


"Kalo suami bicara harus gimana?" tanyanya dengan mengikis jarak.


"Di dengarkan." Ceri dengan gugup masih bisa menjawab walaupun lirih terdengar.


"Jika di perintah?"


"Wajib di laksanakan."


"Kalo sudah meminta?"

__ADS_1


"Harus menuruti dengan suka rela." Seketika Ceri menatap wajah Tio yang kini hanya berjarak beberapa centi.


"Maksudnya minta apa?" tanya Ceri tak mengerti.


"Minta suatu hal yang wajib istri penuhi," bisiknya.


Ceri menundukkan kepala, ia tak berani lagi menatap mata Tio yang sudah mulai sayu.


"Bagaimana?"


"Tapi ..."


"Kalo nolak?"


"Dosa," jawabnya lagi.


"Mau dosa?"


"Nggak!" dengan cepat Ceri menggelengkan kepalanya membuat Tio tersenyum tipis melihatnya.


"Kalo gitu turuti keinginan gue!"


Deg


Jantung Ceri berdetak kencang, Tio semakin memajukan wajahnya membuat ia memejamkan mata dan tak sanggup melihat tindakan Tio selanjutnya atau memang Ceri sudah siap menerima apa yang akan Tio lakukan.


"Bagaimana?" tanyanya lagi dengan hembusan nafas yang begitu hangat.


Ceri menganggukkan kepala masih dengan mata terpejam, ia memilih pasrah karena apa yang Tio ucapkan benar adanya.


"Gue ingin....." bisiknya tepat di telinga Ceri membuat tubuh wanita itu meremang. Dia menunggu kata-kata Tio selanjutnya tapi dirinya seakan sudah tau jalan pikiran Tio.


"Gue mau loe....."


Ceri semakin di buat tegang, nafas Tio menembus leher jenjangnya di balik rambut panjang.


"Gue mau loe buatkan gue kopi."


jeduar


Mata Ceri terbuka lebar dan membola, ia merutuki otaknya yang dengan mudah berpikir mesum. Bahkan ia semakin malu dan wajahnya semakin menunduk.


Tio menahan tawa, ia tau apa yang Ceri pikirkan. "Cepet bikin Cer, atau loe mau mandiin gue dulu? atau nunggu gue minta loe buat nemenin gue di sini?"

__ADS_1


Dengan cepat Ceri mendorong tubuh Tio dan keluar dari dalam sana dengan menutup pintu kamar mandi begitu keras membuat tawa Tio seketika pecah.


__ADS_2