Menikahi Janda

Menikahi Janda
Gagal


__ADS_3

Di saat Ceri terkesiap dengan mulut menganga di saat itu juga Tio mencari kesempatan. Ia meraup candu yang selama hampir dua Minggu tak lagi bertemu. Hingga rasanya begitu rindu belitan dan sesaapan yang menggiurkan.


Mereka sudah dewasa, tentu ada keinginan lebih yang selama ini urung di salurkan. Sama-sama saling tergoda dan menggoda dengan lidah membelit di dalam sana. Hukuman yang berujung kenikmatan bukan hal masalah hanya Ceri sempat kewalahan saat gerakan Tio semakin menuntut dengan nafas memburu.


Hingga kini keduanya berakhir di atas ranjang dengan Tio yang mulai menindih tubuh Ceri dengan hasrat menggebu. Semangatnya mulai berkobar saat tangan mulai nakal dan jalannya cukup lancar karena resleting yang sudah Ceri buka sebelumnya.


Masih terus menyesap tanpa melepas dan tangan mulai lihai mencari titik di mana rasa penasaran tumbuh untuk sekedar menyentuh. Ceri pun mulai terbuai dengan setiap gerakan tangan Tio yang melenakkan hingga mampu memicu keluarnya suara khas yang membuat Tio semakin aktif.


Mereka tau tujuan mereka ingin kemana, mereka tau setelah ini ingin apa, dan mereka tau gejolak itu ingin lepas. Hingga bagian atas Ceri sudah turun sampai di pinggul dan menampakkan keindahan dua buah bukit kenyal yang membuat mata Tio melebar.


"Pantes Rayya lahap, asli gede Cer. Rayya Papah mau icip boleh ya, tangan Papah nggak cukup buat nampung, tapi lidah Papah nggak kalah sama kamu!"


"Tio!"


Di tengah kesibukan mereka Tio masih sempat meminta ijin pada Rayya, padahal Ceri sudah membuang muka karena masih risih tubuhnya di lihat oleh Tio.


"Nggak apa-apa biar nggak selek!"


Tio kembali melanjutkan hingga Ceri tak lagi dapat berkomentar, menyicipi sumber kehidupan Rayya dengan sentuhan lembut agar tak mancur.


"Cer," seketika pergerakan Tio terhenti kala mengingat sesuatu akan masa lalu Ceri.


"Ya..."


"Reno...."


"Jangan lakuin jika ragu Tio!" ada rasa sesak di hati Ceri saat Tio kembali bertanya tantang penyakit Reno, setidaknya Tio mengkhawatirkan dan Ceri siap jika Tio tak melanjutkan.


"Loe pikir gue perduli! di saat gue udah bilang cinta berarti di saat itu juga gue nggak perduli dengan apapun kekurangan loe! yang mau gue tanya, Reno udah ngajarin loe sampe mana?"


Hah!


Ceri tercengang mendapatkan pertanyaan dari Tio di luar pemikirannya, seketika Ceri kembali membuang muka. Haruskah membahas ini saat tubuh sudah menginginkan, sungguh merusak mood dan membuat Ceri ingin mendorong tubuh Tio agar menjauh.

__ADS_1


Tio terkekeh melihat wajah kesal Ceri kemudian kembali menyerang hingga Ceri tak bisa diam. Kamar yang sudah lama sunyi, kini telah di warnai suara merdu dari keduanya hingga suhu ruangan pun menjadi panas.


Keduanya sudah sama-sama polos, siap memulai dan cukup bangga dengan si Beno yang berdiri tegap hingga Ceri di buat menganga.


"Jangan kaget! di jamin ajib rasanya!"


Wajah Ceri sudah merona, ia benar-benar kesal dengan Tio yang terus meledeknya. Padahal semua hanya untuk mengalihkan pandangan Tio karena terlalu terkesima melihat keindahan yang terpampang nyata di depan mata. Tak menyangka Ceri yang notabene janda anak dua memiliki bentuk yang aduhai.


Tio kembali menyatukan Indra perasa dan mulai mengarahkan si Beno ke sarangnya.


tok


tok


tok


Suara ketukan disertai tangisan anak kecil terdengar dari luar kamar. Gerakan Tio pun terhenti dengan mata saling memandang.


"Anak gue!" kesal Tio dengan mengerang menahan si beno yang siap masuk tapi gagal karena suara kedua bocil di depan pintu.


"Kentang Cer, si Beno ngambek loe PHPin!" seru Tio dengan menyorot tubuh Ceri.


"Nanti malem lagi Tio!"


Tio menghela nafas panjang, sepanjang Beno yang meminta di tuntaskan. Percobaan pertama gagal, mungkin memang salah jadwal secara ini masih siang tapi Tio sudah tak sabar.


"Maaf ya non mengganggu, tadi Bibi sudah bilang jangan di bawa ke atas adiknya tapi den Regan ingin memberikan Rayya langsung pada non Ceri," ucap bibi tak enak hati karena telah mengganggu majikannya yang baru saja di kunjungi oleh suaminya setelah lama tak pulang.


"Iya nggak apa-apa Bi, sini sayang Rayya nya," Cari mengambil Rayya yang sejak tadi berada dalam gendongan Regan.


"Lain kali Regan jangan menggendong Rayya naik ke atas ya, tunggu mamah di bawah saja. Kalo tidak Abang saja yang naik, adiknya jangan di ajak berbahaya nak!"


"Maaf ya Mah, Abang kasian sama Rayya udah kehausan mah." Regan meminta maaf atas kecerobohannya, tapi Ceri paham jika Regan hanya kasian pada adiknya.

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa Abang, mamah mau menyusui Rayya, Abang mau ikut masuk?"


"Nggak mah, Abang mau main mobil-mobilan baru di bawah!" tolaknya dan segera turun ke bawah di dampingi Bibi.


Ceri menidurkan Rayya ke dalam boks bayi setelah kenyang dan terlelap. Dan tak lama Tio keluar dari kamar mandi dengan wajah fresh dan rambut basah. Pria itu berlenggang dengan pakaian rumahan yang telah menempel di tubuhnya dan duduk di pinggir ranjang dengan seraya mengeringkan rambutnya.


"Enak benar si Rayya, kenyang langsung tidur. Si Beno malah minta muntah dulu baru tidur!" celetuk Tio. Mendengar itu Ceri mengulum senyum dengan wajah merah merona. Ia sudah berkenalan dengan Beno jadi cukup paham nyawa mana yang Tio sebutkan.


"Sini tangannya di obati dulu!" Ceri duduk di samping Tio dengan membawa kotak obat. Kemudian meraih tangan Tio yang terluka yang kini sudah bengkak dan membiru.


"Pelan-pelan....sakit!" Tio meringis saat kapas dengan Betadine Ceri tempelkan di buku-buku tangan Tio.


"Ini udah pelan, tahan sedikit! tadi pas marah nggak kesakitan." Ceri terus mengobati dengan gerakan perlahan.


"Kan ceritanya kayak masih perawan!"


"Tio!"


Tio terkekeh melihat wajah kesal Ceri, kemudian menarik tangannya dan merangkul tubuh Ceri. Mengecup kening Ceri dengan sayang lalu tangan yang lain menggenggam jemari Ceri.


" Ini nggak sebanding sama sakit hati loe. Maaf ya, ngecewain."


Ceri menganggukkan kepala, dia melihat Tio yang kini mengecup lembut jemarinya kemudian keduanya saling beradu pandang.


"Kecewa banget ya sama gue?" tanyanya dengan wajah serius.


"Hhmm....sedikit tapi ya mau gimana lagi."


"Kalo sama si Beno kecewa juga nggak? belum sampe rasain pesonanya udah mundur lagi." Tio terkekeh dengan Ceri yang melayangkan pukulannya. Selalu ada saja ucapan Tio yang membuatnya risih.


"Tapi loe sexy, gue suka!" ucapnya dengan tatapan dalam dan entah siapa yang memulai, keduanya sudah kembali menyatukan indera perasa. Mengulang lagi, meraih candu yang menggoda.


"Mamah......di bawah ada Oma!" seru Regan.

__ADS_1


"Aish....gagal lagi loe Ben....Ben..."


__ADS_2