Menikahi Janda

Menikahi Janda
Jurang


__ADS_3

Sampai keesokan harinya Rayya belum juga di temukan, tapi mereka masih terus mencari hingga tertidur di dalam mobil. Tio pun sangat berterima kasih dengan Seto dan ke empat temannya yang terus membantu hingga tak kenal lelah.


Ceri pun masih terus bersedih, dia hanya diam di kamar dan sesekali menangis saat ingatan tentang Rayya terlintas jelas, apa lagi melihat boks bayi yang kini kosong. Hatinya begitu sesak, Ceri seorang ibu. Dia tak akan tenang saat tau anaknya bersama orang yang tak di kenal.


Regan pun terus menemani, mengajak bicara dan memijit pundak mamahnya karena takut mamahnya sakit. Tio pun telah meminta Regan untuk terus menjaga Ceri hingga ia kembali.


Kedua orang tua Tio sedang dalam perjalanan, mereka tampak terkejut setelah mendengar kabar dari Tio pagi tadi. Papah Juna pun sempat marah karena tak di beri kabar dari semalam, tapi Tio benar-benar tak ingat. Ia sudah sibuk dengan istri dan kasus yang membuatnya pening.


"Mobil itu berhenti di sebuah jurang."


Tio tercengang saat Seto menemukan titik dimana mobil itu berhenti di tepi jurang, otaknya mulai buntu dan berpikir jika Rayya di buang disana. Berulangkali Tio menghela nafas kasar dan menyugar rambut merasakan kepalanya sakit memikirkan alasan apa yang akan ia ucapkan pada Ceri jika hal yang tak diinginkan memang terjadi pada Rayya.


"Kita kesana sekarang!" titah Tio, kemudian Seto segera melajukan mobilnya ketempat dimana mobil itu terakhir berada. Sempat pamit pada Ceri tapi tak untuk memberitahu akan kemana ia pergi. Tio cukup tenang meninggalkan Ceri karena ada kedua orangtuanya yang akan menemani.


"Ini arah ke batas kota kan?"


"Betul banget! gila emang tuh orang nggak tanggung-tanggung mau nyulik sampe semaleman bawanya," celetuk salah satu teman Tio.


Tio memijit pelipisnya saat mobil mulai mendekati lokasi yang tampak sepi dan tak banyak hilir mudik pengendara yang melintas di sana. Jauh dari pemukiman warga serta di apit dua jurang di sisi kanan dan kiri jalan.


Hampir sore mereka sampai, Tio dan yang lainnya keluar dari mobil. Melihat sekitar tak ia temukan siapapun yang berada di sekitar sana. Mobil hitam yang mereka incar sejak semalam pun nampak kosong.


"Kemana mereka? apa ada tanda-tanda mereka membuang Rayya ke bawah sana?" Tio melihat betapa terjal jurang itu, dia menggelengkan kepala tak mungkin Rayya selamat jika mereka membuangnya disana.


"Ada jalan di ujung sana, kita bisa turun kalo loe mau!"


Tio nampak berpikir, tak mungkin ia pulang tanpa membawa kabar sedangkan sudah sejauh ini ia mencari. "Nggak ada pilihan lain, memang kita harus turun sekarang!"


Mereka turun dengan hati-hati, jalanan yang curam dan basah karena turunnya hujan semalam menyebabkan jalan licin dan mudah tergelincir.

__ADS_1


Mereka terus mencari hingga ke semak-semak belukar tapi tak juga menemukan keberadaan Rayya. Hingga mereka memutuskan untuk berpencar agar cepat menemukan jejak.


Langit hampir gelap dengan keringat bercucuran, tak juga mereka menemukan Rayya. Di tambah lagi di sana tak ada sinyal untuk meminta pertolongan andai saja ada bahaya.


"Harus kemana lagi kita?"


Tio menggelengkan kepala, dia sudah mencari hingga masuk kedalam hutan. Dan kini hari sudah gelap. Tidak mungkin meneruskan pencarian dalam kegelapan. Mereka pun tak punya alat penerangan, hanya bermodal senter dari ponsel untuk memberi cahaya setiap langkah mereka.


"Ada bangunan kumuh di tengah hutan!"


" Iya, mungkin peninggalan jaman Belanda. Udah cepetan kita naik, udah gelap. Gue khawatir Ceri kepikiran!"


"Eh tapi tunggu, kok gue kayak denger suara anak kecil nangis." Seto menghentikan langkahnya, samar-samar terdengar suara bayi menangis. Lalu ia menoleh ke arah bangunan tua tak berpenghuni, melihat ada yang aneh dari sana, ada lampu kuning yang menyala terlihat dari celah kecil bagian tembok yang sudah retak.


"Rayya..." lirih Tio.


"Jangan gegabah, kita bisa membahayakan Rayya jika kesana tanpa perhitungan!"


Mereka mendekat dengan perlahan setelah tadi sempat membaca situasi yang ada di dalam sana. Mata mereka tampak jeli melihat setiap pergerakan dan mendengar setiap suara yang keluar.


Tio melangkah paling depan, sedikit mengendap hingga mampu sampai di balik pintu. Kemudian di susul dengan yang lainnya berdiri dalam jarak satu meter mengelilingi bangunan tersebut.


Mata Tio melebar sempurna melihat Rayya di biarkan menangis di atas meja, wajah anak itu sudah memerah dengan mulut kotor seperti habis muntah. Dada Tio sesak melihatnya, putri kecilnya yang tak berdosa harus menjadi tawanan.


Tangan Tio mengepal melihat penjahat itu menendang kursi dan berteriak agar Rayya diam dan berhenti menangis. Gila, satu kata yang pas untuk para penjahat itu.


"Biadab!" geram Tio.


BRAK

__ADS_1


Para penjahat itu terjingkat melihat pintu terbuka dengan sekali tendangan. Semua tak menyangka akan dengan mudah di temukan di tempat yang jauh dari pantauan orang lain.


"Serahkan anak itu!" teriak Tio, dengan cepat senjata api menghentikan pergerakannya.


Musuh di lengkapi dengan senjata sedangkan Tio dan teman-temannya hanya tangan kosong. Mereka seakan lupa jika yang mereka hadapi itu bukanlah penculik abal-abal melainkan penculik kelas kakap dengan badan besar dan tato tersebar di seluruh tubuhnya.


"Hati-hati Tio!"


"Hmm....." Mata Tio tampak awas, hingga satu orang anggota penculik itu mengeluarkan suara.


"Kita tidak akan menyakiti bayi ini jika kalian bisa di ajak kerjasama dan tidak berniat bermain-main dengan kami."


"Apa mau loe?" seru Tio.


"Bos gue yang akan bicara apa yang dia mau dan jika kalian menolak, maka nyawa anak ini dalam bahaya!" pria itu mendekatkan pistolnya ke arah Rayya.


"Anjing! berani loe nyakitin dia nyawa loe taruhannya!" Tio menendang kursi yang ada di sana hingga mengenai lengan pria itu dan pistol terlepas tepat di depan kaki Tio.


Seringai tipis tercipta dari wajah Tio, dengan cepat ia mengambil pistol tersebut dan mengarahkan pada para penjahat yang terdiri dari lima orang berdiri di depannya.


"Hadapi gue bukan anak kecil yang tak berdosa! kalian gila jika menjadikanya tawanan! mana bos kalian? suruh keluar dan bilang maunya apa?" tantang Tio yang sudah tak sabar, semua temannya pun nampak awas melihat setiap pergerakan yang ada. Dan tak membiarkan mereka kecolongan.


"Sabar...bos gue ada di dalam. Turunin dulu senjata loe!"


Tio tak bergeming, matanya sudah memerah menahan sesak melihat Rayya di biarkan menangis tanpa ada yang ingin meraih dan menggendongnya. Bahkan bibirnya sudah nampak pucat dan sudah dipastikan anak itu kelaparan dan kehausan sejak kemarin ikut bersama mereka.


"Turunin dulu senjata loe Tio!" Seto tau Tio sangat emosi, tapi semua ini tak bisa di selesaikan hanya dengan amarah. Mereka berada di tempat musuh yang tak tau Medannya seperti apa, tidak bisa juga melakukan semuanya secara tergesa.


Perlahan tangan Tio turun dengan mata melebar melihat siapa dalang di balik penculikan itu yang datang dengan senyum mengembang menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2