Menikahi Janda

Menikahi Janda
Bagun Siang


__ADS_3

Tangis Rayya membangunkan sepasang pasutri yang saling memberi kehangatan. Ntah siapa yang lebih dulu mendekat hingga jarak tak bersekat.


Ceri membuka mata dengan perasaan bingung mendera. Dada bidang tampak nyata di depan mata, bahkan aroma maskulin masih begitu terasa di Indra penciuman.


Ceri menengadah kepala melihat wajah damai dengan bibir sedikit terbuka. Membuatnya tak tega untuk membangunkan.


"Kenapa bisa dekat gini, seperti suami istri yang saling mencinta."


Dengan perlahan tangan Tio ia angkat, mencoba keluar dari tubuh yang memeluknya erat hingga sulit bergerak.


Ceri bernafas lega saat usahanya membuahkan hasil, ia terlepas dari tubuh kekar Tio. Tak ada kesan terkejut, karena cukup paham dengan situasi yang ada. Dan sepertinya mulai terbiasa. Setelah itu Ia turun dari ranjang dan mendekati boks Rayya.


"Kenapa anak mamah nangis? mau mik susu? iya?" Setelah merapikan kerudungnya Ceri segera meraih tubuh Rayya dan memeluknya. Kembali ke ranjang kemudian menyusui Rayya yang tampak kehausan di lanjut memandikan. Ceri turun menitipkan Rayya pada Bibi, lanjut masak untuk sarapan pagi dan kembali ke kamar membersihkan diri.


Karena hari libur ia tak membangunkan Regan dan juga Tio, membiarkan para lelaki di rumah itu tidur dengan nyenyak agar benar-benar mengistirahatkan tubuhnya setelah hampir seminggu beraktivitas.


Ceri keluar dengan gamis yang sudah melekat di tubuh dan tak lupa dengan hijab yang sudah ia pakai juga di dalam sana. Cukup repot, tapi ntah kenapa ia belum siap memperlihatkan rambutnya pada Tio.


Setelah mengoles make up tipis di wajahnya, ia segera keluar kamar menuju kamar Regan. Sempat melirik Tio sekilas, kemudian melanjutkan lagi langkahnya.


"Wah...anak mamah sudah mandi, mamah kira belum bangun." Ceri masuk tepat saat Regan keluar dari kamar dengan handuk yang melingkar di pinggul. Tampak lucu dengan tubuh mungil dan imut membuat Ceri gemas melihatnya.


"Kan mau jalan-jalan sama Papah mah, Papah mana mah?"


"Papah belum bangun sayang, mungkin terlalu lelah bekerja jadi begitu pulas tidurnya. Regan sarapan dulu sambil tunggu Papah bangun ya."


Hampir siang Tio benar-benar baru terjaga dari tidurnya, ntah apa yang membuatnya begitu nyenyak padahal tak pernah ia bangun sampai benar-benar siang. Pria itu segera melesat ke kamar mandi setelah melihat sudah jam sepuluh lebih.


Seperti biasa selalu ada baju ganti yang sudah di siapkan oleh Ceri. Setelah rapi ia turun mencari Regan yang pasti telah menunggunya setelah semalam janji akan mengajak jalan-jalan.


"Pah..." panggil Regan saat melihat Tio menuruni tangga.


Tio tersenyum melihat Regan telah rapi dan menunggu di ruang keluarga. Ada rasa bersalah, tapi melihat senyumnya dengan mata berbinar membuat Tio sedikit lega. Artinya Regan cukup mengerti dan memahami akan situasi yang ada dan tak merajuk hingga membuat Tio kesulitan.

__ADS_1


"Maaf ya Papah baru bangun," Tio cukup bangga Regan tak mempermasalahkan itu. Justru ia menyuruh Tio segera ke meja makan karena melalaikan waktu sarapan.


"Papah makan dulu, ini udah siang Pah. Mamah selalu marah kalau Regan telat makan, awas nanti Papah juga di marahin mamah."


Tio menganggukkan kepala kemudian mengusak rambut Regan. Ia beranjak menuju meja makan, tapi merasa kurang karena sejak bangun tidur tak menemukan Ceri.


"Mamah mana boy?" seru Tio.


"Mamah pergi Pah, katanya mamah mau ke rumah sakit. Tadi mamah buru-buru, mamah bilang sama Regan suruh kasih tau Papah."


Tio menghentikan kunyahannya, dia berpikir sejenak kenapa Ceri nekat sedangkan semalam mengatakan akan kesana nanti sore atau lusa.


Setelah menyelesaikan makan, Tio mengajak Regan ke tempat Sella. Sebenarnya jika Ceri dan Rayya ikut, ia akan mengajak mereka ke tempat wisata tapi karena keduanya tak jadi ikut, maka Tio mengajak Regan untuk menemui kembar karena ia sudah lama tak berkunjung.


"Kita mau kemana Pah?" tanya Regan saat menyadari jika Tio tak mengajaknya ke mall atau tempat bermain melainkan masuk ke dalam sebuah komplek.


"Papah mau kenalin Regan sama kembar. Pasti nanti Regan suka, mereka lucu dan cantik. Tapi jangan di PHPin ya. Sama yang lain aja, sama mereka jangan!"


"Kembar siapa Pah?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Bararti kita bersaudara Pah?"


"Berteman, bersahabat, dan bisa juga bersaudara. Yang terpenting tidak bermusuhan. Oke!"


"Oke Pah..." jawabnya dengan memamerkan senyum yang mengembang.


Sampai di kediaman keluarga Wijaya, Tio turun dengan menggandeng tangan Regan. Melangkah menuju pintu utama tanpa bersuara, hingga teriakan kedua anak kecil membuat keduanya menghentikan langkah.


"Daddy.........." seri Naira dan Kaira kemudian memeluk kaki Tio.


"Hay anak-anak Daddy, apa kabar kalian? makin besar makin cantik ya.."


"Baik Daddy, Naira rindu Daddy."

__ADS_1


"Sama Kaira juga rindu Daddy," lanjut adiknya.


"Daddy juga merindukan kalian, maaf ya Daddy baru datang," ucapnya dan mengecup kening keduanya.


Setelah keduanya melepas pelukan, mereka beralih menatap seseorang yang tak asing bagi mereka diam memperhatikan.


"Regan....."


"Naira...Kaira.." ketiganya saling bergandengan tangan dan loncat dengan girang mengayunkan tangan ke depan ke belakang.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Tio tak percaya.


"Sudah Pah, Regan sudah bertemu kemarin di sekolah Pah." Regan tak menyangka akan bertemu kembali, bahkan seharian mereka bisa bermain bersama, makan bersama, dan belajar bersama.


"Gimana jadi suami? seru kan?" Sella duduk di depan Tio dengan berjarak meja sofa.


"Biasa aja, cuma bonusnya dapet dua anak. Lumayan nggak capek bikin langsung dapet dua. Mana cakep-cakep lagi, loe lihat aja pesonanya Regan. Gue jamin si kembar berebutan."


"Jangan ngajarin yang nggak-nggak dech, eh tapi kok nggak ngajak Ceri kesininya?"


"Dia sibuk, biarin dech terserah mau kemana." Wajah Tio langsung berubah saat teringat Ceri yang pergi ke rumah sakit begitu saja tanpa ijin darinya.


"Jangan kaku-kaku! buka hati loe sedikit. Allah nggak mungkin mempersatukan kalian tanpa ada tujuan. Jangan tolak jodoh yang udah di kasih!" Sella kembali mencoba memberi nasihat pada Tio. Dia ingin sahabatnya bahagia sama sepertinya, mengingat Tio sangatlah baik padanya.


"Lagi usaha, nyantai aja. Gue nggak mau buru-buru juga, jalanin aja dulu toh masih baru. Sampai saat ini dia sosok ibu yang baik di mata gue."


Sella menganggukkan kepala membenarkan ucapan Tio, Ceri memang sosok ibu yang baik dan lembut. "Gue harap kalian bisa terus selamanya, terus Tiwi gimana? terakhir hubungin gue dia nangis-nangis, marah banget sama loe dan sama gue juga kayaknya. Setelah itu nggak pernah telpon gue lagi."


"Yang penting kita masih temenan, belum lama dia ke kantor gue ngajak berdamai walaupun gue tau akal-akalan dia aja. Berteman sama siapa sich dia lulus sekolah, ngapa jadi beda banget." Tio menghela nafas panjang. Persahabatan mereka ternyata tak semulus itu. Nyatanya memang persahabatan antara pria dan wanita pasti ada campur tangan cinta di dalamnya.


Seketika Tio ingat akan Ceri dan Romi, ntah mengapa ia tak nyaman akan hubungan persahabatan keduanya.


"Mudah-mudahan Tiwi ikhlas dan nggak jadi penghalang buat kalian. Kasian Ceri kalo sampe itu terjadi, loe tau kan masa lalunya kayak gimana. Gue yakin loe bisa jaga diri dan nggak main gila di belakang walaupun kalian belum ada rasa."

__ADS_1


"Main depan aja belum pernah gimana main belakang sich Sell! ajarinlah!"


"Ehem....."


__ADS_2