Menikahi Janda

Menikahi Janda
Janda Bermartabat


__ADS_3

"Kaki kamu terluka sayang," Tio berjongkok dengan menekuk satu kakinya. Wajah yang tadi begitu marah seketika berubah khawatir dengan mata berkaca-kaca. Dia tak tega melihat Ceri meringis kesakitan.


"Kita kerumah sakit ya!"


Ceri menggelengkan kepala, ia tersenyum melihat wajah cemas Tio. Dia bersyukur memiliki Tio yang begitu mencintainya, padahal dari semua yang melihat meraka banyak yang mengumpat bahkan memberi sumpah serapah.


Sedangkan wanita yang digeret ketiga teman Tio tadi tiba-tiba berlari masuk kembali dan membuat seseorang tercengang dan mendadak tak tenang melihatnya.


"Tio!"


Tio berdiri melihat siapa yang memanggilnya, seringai tipis terlihat begitu menakutkan. Tatapan tajam kembali nampak setelah tadi berubah sendu saat melihat Ceri yang kesakitan.


"Hhmm....."


"Gue mau jujur!" ucapnya dengan tubuh bergetar, menatap Tio dengan ketakutan yang menyelimuti.


"Apa yang mau loe katakan?" tanyanya datar menyorot dengan penuh kemarahan.


Wanita itu tampak gelagapan saat mendapat tatapan mematikan yang diam-diam mengancam dirinya.


"Cepat katakan atau tidak sama sekali dan hukuman buat loe sudah ada di depan mata!"


"Dia yang nyuruh gue Tio!" tanpa ragu lagi wanita itu menunjuk ke arah Tiwi yang kini menelan salivanya dengan kasar.


Semua tampak terkejut mengetahui jika kejadian di balik jatuhnya salah satu teman yang mereka anggap tak sengaja ternyata ada dalang yang menyebabkan.


"Tiwi....." lirih Sella tak menyangka membuat Tiwi menoleh ke arahnya.


"Kenapa? loe kaget kalo gue yang ngelakuin itu semua? hhmm?" Tiwi hendak menghampiri Sella tapi ketiga teman Tio tadi segera menghadang pergerakannya.

__ADS_1


"Brengs3k!" umpat Tiwi tak terima kemudian pandangan matanya kembali ke Sella .


"Loe pikir gue nggak sakit bertahun-tahun liat kalian dekat? loe pikir gue baik-baik aja tau Tio mencintai loe dan nggak pernah lihat gue sekalipun? lalu giliran kesempatan terbuka, Tio akan menikahi gue tapi semua harus kandas gara-gara janda gatel kayak dia!" Tiwi menunjuk Ceri yang mematung mengetahui fakta dari mulut Tiwi sendiri.


"Tutup mulut loe Tiwi! mulut sampah loe nggak pantes menghina istri gue! asal loe tau, Ceri lebih baik dari loe! dan memang sejak awal perjodohan gue udah nolak tapi karena orang tua akhirnya gue menyetujuinya, jadi semua bukan karena gue suka sama loe tapi kerena gue terpaksa menerima loe!" sentak Tio tak terima.


"Lalu apa bedanya sama dia? loe pikir gue nggak tau Tio, dia yang licik! dia yang udah manfaatin anaknya, dan loe menikah juga karena terpaksa. Hhmm?" Kemudian pandangan Tiwi beralih ke Ceri. "Perempuan macam apa loe yang tega nikung gue dari belakang? Semuanya, kalian pasti nggak nyangka kan jika wanita yang rapi menutupi penampilannya ini tapi tega nikah sama calon suami orang seminggu sebelum pernikahan gue di adakan! gelar apa yang pantas buat janda seperti dia? pantas saja dulu Reno nggak cinta sama loe! kelakuan loe minus!" ucap Tiwi sinis.


plak


Tamparan keras mendarat mulus di pipi Tiwi, semua terkesiap dengan apa yang mereka lihat. Tio menatap dengan tatapan tajam dan wajah memerah menahan amarah.


"Sebenarnya gue nggak mau lawan perempuan, tapi loe udah keterlaluan sama istri gue." Tio menatap salah satu teman mereka yang Tio tau belum menikah. "Bro gue mau tanya sama loe!"


"Apa Tio?"


"Janda bermartabat lah Tio, masak iya gue milih yang bekas oprekan orang apa lagi kalo bukan cuma sama satu lidah."


Tio menatap Tiwi dengan mengangkat kedua alisnya, mengulum senyum dengan membentangkan tangan. "Berarti gue bener donk....asal loe tau ya, sebelum gue ketemu lagi sama loe di saat itu Ceri nolak gue dalam perjanjian yang di buat Almarhum Papah nya. Seorang Tio yang kalian lihat sempurna di tolak janda......"


Tio menatap lembut mata Ceri yang kini sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Dia bukan wanita murahan, dia bukan wanita silau harta, dia seorang ibu yang baik. Perjuangannya dalam mempertahankan pernikahannya dengan Reno nggak mudah, dia bertahan bertahun-tahun dengan pria yang tidak mencintainya bahkan tega nyakitin dia. Dan di saat di minta menikah dengan gue, disitu dia membentengi dirinya."


"Gue menikahi dia dalam keadaan sadar, bukan unsur paksaan atau keterpaksaan. Tapi karena gue yakin dia wanita yang terbaik buat gue!" lirih Tio.


Ceri tak dapat lagi membendung air matanya, ia berlari terseok-seok ke arah Tio yang telah menyambut dengan senyuman dan segera menangkapnya masuk ke dalam pelukan. Semua asumsi negatif luntur setelah mendengar pernyataan yang sebenarnya-benarnya.


Ini bukan tamparan tapi kenyataan yang menginjak dirinya hingga tak kuat lagi mengangkat kepala. Dengan berselimut malu Tiwi keluar dari ruangan itu dan meninggalkan semua orang yang tampak terharu dengan pasangan baru itu.


Sakit, hatinya begitu sakit. Tapi ia tak mampu lagi membela diri ketika Tio sudah menjelaskan semua. Lalu dirinya bisa apa setelah melihat Tio yang begitu mudah menjatuhkan hati pada Ceri setelah hatinya begitu sulit di gapai karena cinta yang ia miliki sebelumnya.

__ADS_1


.


.


.


"Auwwhhh...... pelan-pelan." Ceri meringis kesakitan saat kakinya di obati. Apa lagi ketika serpihan kaca di cabut perlahan rasanya sangat perih dan membuat Ceri berulang kali meneteskan air mata.


"Sabar sayang..."


Tio terus menggenggam tangannya, sesekali mengecup kening Ceri dan kedua matanya saat air mata itu kembali runtuh.


"Sudah dok?"


"Sudah, nanti saya kasih resep obat minumnya juga agar cepat sembuh."


Sebenarnya luka Ceri tak terlalu parah, hanya saja Tio yang rewel ingin membawanya ke rumah sakit. Alhasil Ceri menuruti dari pada berdebat lagi.


Sampai di rumah pun Tio tak membiarkan Ceri berjalan sendiri, tadi saat di rumah sakit Ceri di dorong dengan kursi roda. Tapi sekarang Tio dengan sigap mengangkat tubuh Ceri hingga masuk kamar.


"Makasih ya..."


"Sama-sama sayang, ganti bajunya aku ambilkan dulu ya."


"Aku bisa sendiri, kamu bersih-bersih aja dulu "Udah pokoknya kamu diam di sini, aku ambilkan baju ganti dulu buat kamu. Nanti kita bersih-bersih bareng!" titahnya yang tak dapat di tolak.


Setelah keduanya rapi, kini mereka berbaring di ranjang dengan Ceri berbantal lengan Tio. "Makasih untuk hari ini..."


"Sama-sama sayang, kamu pantas mendapatkannya. Wanita Sholehahku....."

__ADS_1


__ADS_2