Menikahi Janda

Menikahi Janda
Pulang Tengah Malam


__ADS_3

Hingga pagi hari Tio masih saja diam, bahkan dia mengabaikan sarapannya dan segera berangkat dengan Regan.


Ceri menatap hampa punggung pria yang kemudian meninggalkan meja makan. Tanpa pamit dan cium tangan, Tio segera pergi begitu saja.


Ceri tampak bingung, segitunya kesalahan yang ia buat hingga merubah sikap Tio menjadi diam dan pergi tanpa perduli. Seperti istri yang sesungguhnya saat mendapati kemarahan sang suami. Padahal menurut Ceri dalam hubungan mereka yang tak di dasari cinta, seharusnya Tio santai dan biasa saja.


Hal itu mempengaruhi mood Ceri, ia tampak diam saja tak banyak bicara. Mulai menyibukkan diri dengan segala pekerjaan rumah agar tak terlalu memikirkan sikap Tio yang berubah.


Setelah menemani Regan tidur, Ceri segera melangkah menuju kamarnya. Ia pikir Tio sudah pulang karena jam sudah menunjukkan angka 10 tapi ternyata hingga jam 12 malam belum juga ada tanda-tanda Tio pulang. Dan tak lama Ceri tertidur karena sudah larut dan dirinya pun sudah mengantuk.


Masuk kamar dengan wajah lelah, Tio baru saja sampai tepat di jam satu dini hari. Setelah bersih-bersih dan berganti pakaian ia segera merebahkan tubuhnya di ranjang dan terlelap.


Merasakan pergerakan di ranjangnya Ceri seketika terjaga tetapi tak membuka mata. Hingga dengkuran halus dari Tio mulai terdengar ia baru berani menatap pria dengan wajah lelah yang tertidur pulas.


"Jam segini baru pulang, dari mana saja..." gumam Ceri kemudian kembali memejamkan mata dan melanjutkan mimpi.


...🍀🍀🍀...


Pagi ini lagi-lagi Tio hanya diam, sempat duduk di meja makan menyeruput kopi, tapi saat Ceri hendak memberikan nasi goreng yang telah ia siapkan di piring untuk Tio sarapan, pria itu beranjak untuk segera pergi ke kantor .


"Ayo boy, kita berangkat!"


Ceri tercengang melihat sikap Tio yang sedikit membuat hatinya nyeri. Beginikah marahnya Tio, hingga mengabaikan dan mengacuhkan begitu saja. Ceri menarik nafas dalam saat melihat Regan pamit dan mencium tangannya.


Ia tetap mengantar keduanya sampai halaman dan berusaha tetap sopan pada Tio. Mengulurkan tangan dengan respon yang sama seperti malam hari setelah ia pulang dari rumah sakit. Matanya mengembun melihat pria yang kini telah menjadi suami bersikap begitu dingin.

__ADS_1


Ingin menjelaskan tetapi tak ada celah. Hingga ia pun memutuskan untuk diam entah sampai kapan. Masuk ke dalam rumah setelah mobil tak terlihat kemudian kembali membereskan meja makan tanpa niat untuk sarapan.


Setelah memastikan Rayya kembali terlelap, Ceri segera menjemput Regan ke sekolah. Ia mendadak ingin tau tempo hari mereka jalan kemana.


"Sayang, hari Minggu kemarin Regan di ajak Papah kemana?" tanyanya dengan lembut saat keduanya sudah dalam perjalanan pulang.


"Papah mengajak Regan kerumah kembar Mah."


"Kembar?" tanyanya lagi.


"Iya mah, kembar yang waktu itu mamah liat di sekolah Regan. Ternyata mereka anak Papah juga mah, manggilnya aja Daddy."


Entah mengapa mendengar Regan bercerita membuat hatinya sedikit berdenyut. Kembar...berarti anak dari Sella. Tio mengajak Regan kerumah Sella. Dan hingga malam baru pulang. Mereka menghabiskan waktu disana, hingga mengabaikan makan malam yang sudah di siapkan. Pemikiran buruk mulai menghantui, hingga berulang kali Ceri menarik nafas dalam dan membuangnya dengan perlahan hingga ketenangan datang.


Memikirkan apakah rumah tangganya akan seperti dulu lagi. Cintanya masih terpaut pada papah Regan tapi merasa tak nyaman mendengar Tio pergi kerumah Sella dan menghabiskan waktu libur di sana.Tanpa sadar ia terlelap dan tidur berdampingan dengan putrinya.


Sore hari dengan kegiatan yang sama hingga malam hari kembali keperaduan setelah memastikan kedua anaknya tertidur lelap. Seperti kemarin, malam ini Tio belum juga pulang. Berulangkali Ceri melirik jam si dinding tapi tak kunjung ada tanda-tanda Tio datang. Hingga dirinya terlelap dalam mimpi dengan posisi setengah duduk.


Sama seperti malam ini, malam-malam berikutnya Tio pun pulang tengah malam dengan wajah lelah. Hampir seminggu tak ada percakapan di antara keduanya. Terlebih sudah tiga hari ini Tio berangkat sebelum Ceri bangun dan pulang setelah penghuni rumah sudah tidur.


Ceri pun bingung harus bagaimana, sedangkan mereka sudah tak saling sapa bahkan bertemu pun hanya saat tidur yang ia tak sadar keberadaannya.


"Mah, kok Papah nggak pulang-pulang ya Mah. Apa Papah pulang kerumah Oma?" tanyanya dalam perjalanan menuju sekolah. Ya, sudah beberapa hari ini Ceri yang bertugas kembali mengantar Regan. Tio dengan kesibukannya yang ia tak tau pasti atau hanya untuk menghindari.


"Papah pulang tapi berangkatnya pagi-pagi sebelum Regan bangun."

__ADS_1


"Papah sibuk banget ya Mah?" tanyanya lagi, Regan masih terlalu kecil untuk mengerti jika hubungan mamah dan papahnya tak baik-baik saja.


"Iya sayang, mudah-mudahan malam ini Papah cepat pulang ya." Ceri tak bisa berkata apa-apa lagi selain memberi harapan pada Regan, dirinya juga tak tau apa yang terjadi pada Tio hingga ia berangkat pagi buta dan pulang tengah malam.


Ternyata malam ini pun sama, Tio belum kunjung pulang hingga Regan berkali-kali bertanya keberadaannya. Ceri pun bosan terus mencari-cari alasan.


Sudah biasa Tio pulang saat rumah sudah sepi dan semua sudah terlelap. Melangkah gontai menaiki tangga dengan jas yang ia sampirkan di pundak.


Langkah beratnya membawa ia masuk ke dalam kamar dan membuka pintu dengan perlahan agar tak mengganggu tidur Ceri.


Sempat heran dengan ranjang yang tak berpenghuni, kemana gerangan keberadaan Ceri hingga ranjang pun masih rapi.


Tio meletakkan jas dan tas kerjanya di sofa kemudian membuka sepatu lanjut bersih-bersih. Matanya sudah sangat berat dan ingin secepatnya beristirahat. Keluar dengan baju ganti yang telah di siapkan dan ingin segara naik ke ranjang. Tapi sesaat langkahnya terhenti saat melihat Ceri berdiri di depannya. Menatap dengan mata sayu menahan kantuk. Tio pastikan Ceri menunggunya pulang hingga mengabaikan jam tidurnya.


Ceri diam dengan menatap Tio, belum ada kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama-sama menyelami perasaan masing-masing.


Mata Tio melebar saat Ceri melangkah dan tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat. Tio masih diam belum membalas pelukan. Otaknya seketika ngeblank mendapat serangan di luar dugaan dari Ceri.


Hingga Ceri melepas pelukan setelah di rasa Tio tak membalas dan kembali mengabaikan. Ia malu dengan kelakuan dirinya sendiri, padahal jelas ia tau jika tak ada yang ia harapkan dengan pernikahan ini. Tapi reflek tubuh bertindak lain dan berujung menurunkan harga diri.


Ceri melangkah keluar kamar, ia memutuskan untuk tidur di kamar Regan. Tapi sebelumnya ia ingin mengambil Rayya yang masih tidur di dalam boks bayi.


Grep


Jantung Ceri berdebar merasakan tubuhnya di tarik hingga mundur kebelakang, ia bahkan tak percaya kini ia masuk dalam pelukan pria yang beberapa hari begitu acuh padanya.

__ADS_1


__ADS_2