Menikahi Janda

Menikahi Janda
Becek-becekan


__ADS_3

Setelah membersihkan diri dan membersihkan benda keramatnya, Tio segera menyudahi lalu keluar dari kamar mandi untuk eksekusi. Dia melilitkan handuk di pinggangnya dan berjalan keluar. Dengan seringai tipis, otak mesum dan rasa ingin, ia melangkah mendekati ranjang.


"Alamaaak jang........kenapa malah tidur sich sayang?" Tio mendengus kesal, meraba si Beno yang masih gagah menjuntai tetapi gagal masuk kandang.


"Ini nich kalo kebanyakan drama, ngantuk terus tidur! solo lagi aja dech loe Ben....pegel tangan gue woy!" kesal Tio yang akhirnya balik kanan masuk kembali ke kamar mandi untuk menidurkan si Beno yang sudah kelewat bangun.


"Kalo nggak lagi bunting udah gue perkosa itu mantan janda!"


"Dan loe Ben! besok lagi jangan celamitan kalo tuh kandang belum di buka, loe nyusahin gue akhirnya!"


Datang dengan sambutan berakhir di buat kesal karena harus bekerja mandiri dengan tangan sendiri. Tio mau tak mau akhirnya mengocok arisan hingga mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi ingin meledak. Jika tidak si Beno akan mengusik hingga tak bisa tidur kembali.


"Pagi Mas...."


"Pagi..." jawabnya dengan wajah lesu dan bergabung dengan Regan berkumpul di meja makan untuk sarapan. Mendengar suara lirih suaminya, Ceri yang sedang memanggang roti untuk sarapan segera menoleh. Tio menyeruput kopi setelahnya memejamkan mata dengan wajah tak bersemangat.

__ADS_1


Setelah selesai memanggang roti, Ceri segera menghampiri dan menatap wajah sang suami dengan seksama.


"Kamu kenapa mas? sakit? kok nggak berdaya gitu?" tanyanya heran, tak biasa Tio seperti itu tapi kini ia begitu lesu dengan mata panda.


"Gimana mau ada daya kalo di cas aja nggak!" sahutnya kemudian menggigit roti yang sudah di sediakan untuknya.


Ceri mencoba memahami kata-kata Tio, beralih profesi menjadi cenayang, membuka otaknya agar tau apa yang ada di dalam pikiran suaminya. Hingga ia teringat akan drama semalam. Dan meringis mengangkat kedua jari.


"Maaf.... aku nggak sengaja tau-tau tidur."


Ceri segera mendekati Tio dan melingkarkan tangannya di pundak. Meminta maaf padanya dan juga beno yang ia buat merana.


"Maaf ya mas, maaf ya Beno, nanti nggak gitu lagi. Aku pikir kan mau ketemu debay itu ya harus steril gitu loh. Maaf...." ucapnya dengan penuh penyesalan.


Regan yang melihat keduanya tampak aneh dengan pembahasan yang ia tak mengerti pun akhirnya bertanya.

__ADS_1


"Beno itu siapa sich Mah, Pah? kok aku nggak kenal?"


Tio tercengang mendengar pertanyaan dari Regan sedangkan Ceri segera melepas pelukannya dan duduk di samping Tio.


"Beno....Beno itu, burung tetangga yang semalem bangun terus lepas. Mau balik ke kandang eh ... ternyata kandangnya ke kunci. Jadinya dia nggak bisa pulang dan sulit tidur semalaman," ucap Tio menjelaskan.


Ceri mendelik mendengar jawaban Tio, tapi setelahnya ia segera menundukkan kepala dengan pipi merona.


"Kenapa tidak papah bangunin pemiliknya Pah?" tanya Regan lagi.


"Karena tidurnya sudah sangat lelap sayang. Sampai Papah saja ikut tidur setelah memastikan burungnya tidur lagi. Hampir pagi nungguin itu burung tidur, alhasil papah ngantuk sekarang!" jelas Tio yang dapat di terima oleh Regan.


"Nanti malam kalo lepas lagi, bangunin Regan ya Pah biar bisa ikut jagain Beno, kasian nanti kalo hilang. Pemiliknya bisa nyariin..." penuturan Regan membuat Ceri dan Tio terdiam dengan saling menatap. Bagaimana bisa membangunkan Regan, sedangkan jika Beno bangun dia justru memastikan kedua anaknya tidur dengan lelap.


"Haisshhh......sulit!"

__ADS_1


__ADS_2