
Ceri terbangun dengan hati yang lebih baik dari hari sebelumnya. Entah mengapa dan karena apa, intinya setelah semalam ia mengeluarkan unek-unek nya yang mengusik hati dan pikiran pada Tio, semua menjadi lebih baik.
Wanita itu melirik tangan yang melingkar di pinggulnya, mencoba melepaskan tapi Tio semakin mengeratkan. Sedangkan Rayya nampak gelisah, sudah dapat di pastikan diaper nya penuh dan ia mulai haus.
"Tio tangannya!" keluh Ceri kembali mencoba melepaskan.
"Apa sich, tangan gue diem aja juga!" ucapnya dengan suara serak dan berat. Matapun masih tertutup rapat.
"Tio jangan bercanda! itu Rayya udah bangun, gue mau turun dulu," keluhnya, setelahnya Tio membuat Ceri tercengang. Bibir mengerucut mengambil guling lalu memeluknya dengan posisi memunggungi.
Ceri menggelengkan kepala, ia segera beranjak kemudian menggantikan seluruh pakaian Rayya dengan yang baru agar lebih nyaman. Setelahnya kembali ke ranjang untuk menyusui Rayya.
Masih terlalu pagi di hari Minggu untuk Tio dan anak-anaknya bangun. Ceri turun setelah memastikan Rayya kembali tidur. Ia meninggalkan Rayya di sebelah Tio, memberi pembatas bantal agar Rayya tak terjatuh.
Setelah menjalankan kewajibannya dua rakaat, Ceri segera turun untuk membuat sarapan. Tampak Bibi sedang menyapu halaman dengan pintu utama yang di buka hingga udara pagi masuk menambah kesejukan pagi ini. Senyum Ceri pun tak luntur sejak menginjakkan kakinya di lantai.
Setelah sarapan Tio mengajak kedua anaknya dan juga Ceri untuk berkunjung kerumah kedua orangtuanya. Ceri sedikit kesal karena Tio yang tak memberitahunya lebih dulu jika mengajak kerumah mertua.
"Kenapa sich dari tau merengut aja, kurang yang semalam?" tanyanya mendekati Ceri yang sedang memoles wajahnya dengan sedikit make up.
"Kalo mau ngajak kemana-mana jangan mendadak Tio, kan gue nggak ada persiapan. Seenggaknya buatin kue buat mamah," keluh Ceri, ia menghela nafas berat membayangkan kerumah mertua dengan berlenggang tanpa membawa buah tangan.
"Kita bisa beli di jalan, gimana anak-anak udah siap semua?" tanya Tio yang sedang mengecek ponselnya, siapa tau ada email masuk masalah pekerjaan. Walaupun weekend tapi bagi Ceo serasa tiada hari tanpa kerja karena ada saja email masuk ketika dia sedang ingin bersantai.
"Sudah, ada sama Bibi di bawah. Tinggal berangkat, yuk!"
__ADS_1
"Hhmm..."
Sampai di rumah orang tua Tio, Ceri di sambut hangat oleh Mamah dan Papah mertua yang telah menunggu kedatangan anak dan menantu dan kedua cucunya di halaman rumah.
Mereka sangat senang saat mendapat pesan jika Tio membawa serta istri dan kedua anak mereka datang berkunjung. Mamah pun tak kalah heboh menyiapkan makanan ringan khusus untuk Regan dan memasak berbagai makanan. Apa lagi Tio yang sudah hampir sebulan semenjak menikahi Ceri belum juga pulang kerumah karena kesibukannya.
"Apa kabar sayang? maaf ya mamah belum sempat kesana menengok cucu-cucu mamah, lihat lah mamah sedang mengurus tanaman hias untuk mamah budidayakan dan bisa buat bisnis juga. Lumayan nak buat tambah-tambah beli beras."
"Memangnya mamah mau tidur di atas beras? apa kurang jatah bulanan dari Papah untuk beli beras, hhmm?" sahut Papah, Ceri mengulum senyum melihat wajah merona mamah mertuanya.
"Nggak apa-apa Mah, buat kesibukan mamah. Biar nggak bosen di rumah. Nanti biar Ceri dan anak-anak yang sering-sering kesini ya Mah." Dengan lembut Ceri berucap hingga mertuanya merasa lega karena merasa sangat di mengerti.
Ceri paham, jika orang sedang jatuh cinta pada suatu hobi ataupun pekerjaan ia seakan lupa dengan apapun yang ada di sekitar. Lebih fokus dengan apa yang dikerjakannya sekarang.
Kedua orang tua itu begitu senang bermain dengan kedua cucunya, apa lagi Regan yang sejak tadi sudah berkeliling halaman dan melihat puluhan ikan di taman belakang.
Sedangkan Mamah menimang Rayya dengan sayang. Ceri terharu melihatnya, meraskan kembali kasih sayang orang tua yang sudah lama tak ia rasakan. Apa lagi kedua mertuanya sangat menyayangi Regan dan Rayya.
"Kapan kira-kira rencana nambah momongan lagi nak? pasti tambah ramai jika Mamah punya banyak cucu."
Ceri tertegun mendengar pertanyaan dari Mamah mertua, sedangkan hubungan dirinya dengan Tio saja baru mulai membaik semalam. Dan belum terpikir akan hal itu karena perlu adanya cinta yang mendasari.
"Nanti mah, Rayya saja masih kecil. Akan ada adiknya nanti jika Rayya sudah cukup umur, kasian kalo buru-buru Mah." Bukan Ceri yang menjawab melainkan Tio. Dia paham Ceri bingung ingin menjawab apa.
Ceri menoleh ke arah Tio, kemudian Tio mengusap kepala Ceri yang berbalut hijab. Seketika wajah Ceri merona di buatnya. Apalagi melihat tatapan Tio yang berbeda.
__ADS_1
"Ya sudah tidak apa, yang penting hubungan kalian baik-baik saja. Mamah lega melihat kalian saling kompak dan akur."
Melihat binar mata yang berbeda dari putranya Mamah yakin jika Tio sudah mulai membuka hati untuk Ceri. Dan itu yang sangat beliau harapkan. Agar perlahan bisa melupakan Ceri yang sulit Tio lupakan.
Hampir sore mereka pamit pulang, Mamah dan Papah sangat berat mengijinkan kedua cucu mereka pulang karena masih belum puas bermain bersama.
"Makasih ya tadi udah menyelamatkan gue dari pertanyaan Mamah," ucap Ceri yang masih teringat akan jawaban Tio tadi pada Mamahnya.
"Hhmmmm...Tapi gue jawab sesuai fakta kok, nggak mungkin kan Rayya punya adik di saat masih bayi begini. Kasian dia masih butuh kasih sayang orang tuanya." Tio dengan santai menjawab.
Ceri tertegun mendengar ucapan Tio, ia yang sedang memangku Rayya segera menoleh ke arah Tio dengan wajah polosnya.
"Maksudnya akan ada adik untuk Rayya? anak siapa?" lagi-lagi Ceri bertanya dengan pertanyaan yang membuat Tio mendengus tanpa menoleh ke arah Ceri dan lebih fokus menyetir.
Hingga sampai di rumah Ceri masih belum mendapatkan jawaban bahkan Tio seakan abai dan tak niat menjelaskan.
Setelah memindahkan Regan ke dalam kamar karena tadi kedua anaknya tidur saat di jalan. Tio masuk ke dalam kamar hendak bersih-bersih.
Sempat menatap Ceri yang masih bermuka polos menatapnya dengan wajah penuh tanya. Hingga Tio mendekat dan menatap wajah Ceri dengan begitu intens.
"Loe masih mikirin yang tadi?" tanya Tio tak percaya dengan Ceri yang menurutnya tak kunjung mengerti.
Ceri menganggukkan kepala, entah pikirannya sedang korslet atau ia yang memang berpikir ke arah lain. Hingga Tio gemas sendiri kemudian mencondongkan tubuhnya hingga tepat di telinga Ceri.
"Anak Papah Tio!"
__ADS_1