
Mamah yang melihat Tio berlari keluar berusaha mengejar, Tio begitu kesal dengan sikap Tiwi yang memberi efek buruk pada Regan. Dan juga menyayangkan sikap Ceri yang tetap kekeh tak menghubungi, padahal Regan tak baik-baik saja.
"Mau kemana nak?" seru mamah memanggil Tio yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Tio mau kerumah Regan mah."
Mamah yang mengerti tak melarang Tio pergi. Beliau hanya mampu mendoakan yang terbaik untuk Tio dan juga Regan.
Tio memarkirkan mobilnya dan segera melangkah masuk kerumah. Dan hal itu membuat Ceri yang sedang menyusui Rayya tanpa penutup karna ia pikir sudah tak ada yang akan berkunjung di buat terkejut.
Tio pun segera membuang muka saat matanya tak sengaja melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat aslinya dan malah melihat milik Rayya yang sibuk di hisap kuat hingga pipinya terlihat lesungnya.
"Sorry..." lirih Tio. Ceri pun dengan cepat menutup pakaian dan mengancingkan segera.
"Loe mau ngapain kesini? nggak salam dulu lagi!" sewot Ceri dengan wajah padam menahan malu.
Perlahan Tio menatapnya, ada rasa tak enak karena menyadari kesalahannya yang tak mengucap salam dan langsung masuk saja.
"Sorry, gue khawatir sama Regan. Jadi buru-buru masuk. Regan dimana?"
Ceri memasang wajah kesal, kemudian meminta Tio untuk menunggu di sofa sedangkan ia akan menidurkan Rayya dan memanggil Regan.
"Tunggu sini dulu, gue panggilin Regannya."
Ceri segera menaiki tangga menuju kamarnya, meletakan Rayya di dalam boks bayi agar aman kemudian melangkah menuju kamar Regan.
Ceri mengetuk pintu yang terkunci, lagi-lagi Regan tak ingin di ganggu. Tapi hal ini justru membuat Ceri khawatir, karena ia tak dapat mengecek langsung putranya.
"Sayang, ada Om Tio di bawah. Ayo buka pintunya nak!" seru Ceri tapi tak kunjung di buka oleh Regan. Berulang kali Ceri mengetuk pintu tapi hasilnya nihil. Hingga Tio yang mendengar Ceri bersusah payah memanggil Regan, akhirnya memutuskan untuk segera menaiki tangga menuju kamar Regan.
"Kenapa Regan?"
"Pintunya di kunci, dari tadi gue ketuk ngga di buka-buka. Apa mungkin dia tidur ya."
Tio semakin khawatir, dia juga berusaha memanggil Regan tapi tak kunjung di buka oleh bocah kecil itu.
"Regan, ini Om! Buka pintunya boy!" seru Tio yang sudah kesekian kalinya tapi tak kunjung di buka oleh Regan.
"Ya Allah, ngapain sich Regan di dalam. Nggak mungkin dia tidur sampai nggak denger begini." Ceri begitu khawatir, ia takut terjadi apa-apa dengan Regan.
__ADS_1
"Sejak kapan Regan di dalam?"
"Sejak Tante Arsita datang dan Regan marah."
"Itu udah lama Ceri! Ya Allah, lagi loe ngapa susah banget sich, gue kan udah bilang masalah Regan loe nggak usah nutupin dari gue! gini kan jadinya!"
"Ini buat kebaikan loe Tio! gue nggak mau di bilang wanita murahan yang mengganggu loe dengan memanfaatkan Regan!"
"Omong kosong sama semua omongan orang! gue nggak perduli, Regan anak loe harusnya loe ngerti apa yang terbaik buat dia. Dan loe tau apa yang dia inginkan! Bukan malah diem aja berminggu-minggu ngebiarin anak loe kayak gini! Loe ibunya tapi loe nggak mikirin apa maunya!" sentak Tio.
"Stop Tio! loe nggak ngerti ada di posisi gue, gue janda dan akan banyak fitnah kalo gue nggak hati-hati dalam bersikap! Gue tau mau nya anak gue, gue tau apa yang dia impikan, dan gue paham kalo Regan cuma mau loe jadi Papahnya!" sentak Ceri tak kalah tinggi.
Keduanya lupa akan Regan dan berdebat hingga ucapan Tio membuat Ceri diam memaku di tempat.
"Kalo gitu besok loe gue nikahin!"
deg
Ceri menggelengkan kepala, dia seakan mimpi mendengarkan ucapan Tio dengan tatapan tajam dan emosi.
"Jangan bercanda Tio, loe udah tunangan sama Tiwi. Dan gue nggak akan mau nyakitin wanita manapun. Lagian kita udah sepakat buat udahin semuanya. Lupain masalah ini, lupain Regan!"
"Egois loe Ceri! demi diri loe sendiri loe buat Regan sakit hati? ibu macam apa loe! gue yang bukan bapaknya aja bisa sakit ngeliat anak loe sampe kayak gini. Dan loe! gue nggak habis pikir sama jalan pikiran loe!"
Hingga Tio yang tak sabar mendobrak pintu kamar Regan hingga terbuka dan segera berlari mendekati Regan. Kini keduanya tampak tercengang melihat keadaan Regan, bocah itu tergeletak di lantai dengan kepala berlumur darah.
Tio menatap wajah Ceri dengan tajam, kemudian mencekal tangan Ceri hingga Ceri merintih kesakitan.
"Loe lihat anak loe! loe lihat sekarang keadaan dia!"
"Tio...."
"Masih tega loe nolak kemauan dia! masih mau egois sama perasaan loe!"
"Tio tolongin Regan!" lirih Ceri yang sudah terisak dengan tubuh lemah. Ia tak sanggup melihat anaknya yang kini tak sadarkan diri.
Keduanya membawa Regan ke rumah sakit dengan Ceri menangis memangku Regan dan mendekapnya dengan rasa takut. Dia tak menyangka semua akan terjadi dan Regan terluka seperti ini.
"Tio cepetan!"
__ADS_1
Tio menambah kecepatan mobilnya, dia tak peduli umpatan dari mobil lain yang ia pikirkan saat ini hanya Regan.
Keduanya kini sudah duduk di kursi tunggu rumah sakit, sejak tadi Ceri hanya diam menangis menyesali semuanya. Sedangkan Tio bersandar di dinding berharap tak terjadi apa-apa pada Regan.
Hingga dokter keluar dari ruangan dan menjelaskan jika keadaan Regan baik-baik saja. Beruntung segera di bawa kerumah sakit, jika tidak benturan di kepalanya bisa mengakibatkan kematian.
Tubuh Ceri melemas, Tio yang berada di sampingnya segera menahan tubuh wanita itu. Kemudian mendudukkan kembali ke kursi tunggu. Dan menunggu Regan di pindahkan di kamar rawat inap.
"Duduk sini dulu, sambil nunggu Regan di pindahkan!" Ceri diam dengan air mata yang terus terurai.
"Regan Tio..."
"Regan baik-baik aja!"
Tio duduk di samping Ceri, menatap ke arah lain memikirkan sesuatu. Hingga keputusannya bulat dan dia akan menanggung semua resikonya.
"Besok kita nikah!"
Ceri mendongakkan kepalanya, menatap Tio dengan wajah sendu tanpa mengeluarkan kata apapun.
"Demi Regan, gue bakal nikahin loe!"
"Tiwi...."
"Tiwi bakal jadi urusan gue!"
"Tapi gue nggak mau di madu, loe mau nikahin gue dulu dan setelah itu Tiwi?"
"Bodoh! loe pikir gue nggak punya hati? walaupun gue nggak cinta sam loe, tapi seenggaknya gue ngerti kalo di madu itu sakit!"
Ceri menundukkan kepalanya, dia pasrah dengan semuanya yang ada. Mungkin salahnya juga karena sejak awal berani memutuskan perjanjian yang telah mendiang papahnya buat. Hingga nyawa Regan jadi taruhannya.
"Loe masih mau nolak?"
...🍀🍀🍀...
hai.....aku lagi sedih dech, semua yang on going tiba-tiba tamat, tapi aku masih lanjut ceritanya kok.
Begitu juga dengan judul one night with duda
__ADS_1
dan istri kedua dosenku
semua masih lanjut ya....😮💨