
"Regan, Papah berangkat dulu ya. Jaga mamah dan Rayya ya sayang!"
"Oke Pah .." Regan menyalami Tio dan mengecup pipi beliau.
"Jangan nakal ya nak!" seru Tio ketika Regan sudah berlari dengan membawa mainannya. Mulai hari ini Regan libur sekolah karena beberapa Minggu ke depan Regan masuk ke sekolah dasar.
"Aku berangkat kerja dulu ya, kamu baik-baik di rumah. Jangan capek-capek, nanti aku usahakan pulang cepat." Tio mengecup kening Ceri menatap wajah ayu yang selalu ia rindu.
"Jangan gitu liatnya!" ucapnya dengan wajah merona.
"Bakalan kangen soalnya seharian nggak ketemu." Kemudian Tio beralih ke Rayya yang berada dalam gendongan Ceri, "Rayya papah kerja dulu sayang ya. Jangan rewel oke! nanti kasian mamah ya nak!"
cup
"Assalamualaikum...."
"Wa'allaikumsalam..." Ceri berdiri di halaman sampai mobil Tio benar-benar tak terlihat, kemudian kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu karena ia ingin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya di halaman belakang.
Seharian ini Ceri bermain dengan kedua anaknya, apa lagi Rayya yang sudah mulai belajar merangkak membuatnya sangat gemas dan tak ingin meninggalkannya bermain sendirian.
Ia akan masak dan melakukan hal yang lainnya setelah Rayya tertidur nyenyak. Dan akan menyelesaikannya sebelum Rayya terbangun. Menata kembali meja makan dengan mengisi makanan yang telah dia masak. Dan membersihkan dapur dengan di bantu Bibi.
"Saya mau mandi dulu ya Bi, nitip Rayya sebentar!" ucap Ceri segera melangkah menuju kamar untuk membersihkan diri.
Ceri mandi dan lanjut mengerjakan kewajibannya 5 waktu, tak lupa memakai hijab sebelum ia turun ke bawah. Karena Tio tak suka ia keluar kemar tanpa hijab. Ketukan pintu menyita atensinya, Ceri segera mendekati pintu setelah penampilannya sudah rapi.
"Iya Bi, ada apa?"
"Ada tamu non."
"Siapa Bi?" tanyanya lembut, setau dia ia tak membuat janji dengan siapapun.
" Ibu Tina non..."
Ceri menganggukkan kepala, "sebentar ya Bi." Ceri kembali ke kamar mengambil ponselnya dan segera turun ke bawah.
__ADS_1
"Sayang, makin cantik saja kamu nak. Makin keluar auranya." Sapa beliau saat melihat Ceri berjalan mendekat.
Ceri terkekeh dan memeluk Tante Tina setelah mencium punggung tangan beliau. "Tante kesini sama siapa?" tanyanya setelah keduanya sudah duduk di sofa.
"Naik taksi nak, tapi nanti Romi datang menjemput. Mungkin sekarang dalam perjalanan, kebetulan Tante arisan dekat sini makanya Tante mampir dech. Tante rindu dengan kalian.."
"Sudah bertemu Regan Tante?"
"Sudah nak, tadi Regan yang membukakan pintu, tapi sekarang masuk kamar katanya mau mandi."
Ceri menganggukkan kepala, memang tadi Regan belum mandi. Tetapi anak itu cukup tau waktu dan tak perlu di suruh-suruh.
"Ceri tadi habis selesai masak, Tante makan malam di sini sekalian ya. Sudah lama kan kita nggak makan sama-sama."
"Boleh, nanti tunggu Romi dulu ya sayang! Romi juga merindukan kamu katanya. Alhamdulillah Romi sudah sehat dan kembali bekerja."
Ceri tersenyum dan sangat bersyukur karena Romi adalah sahabatnya yang merupakan masa depan keluarga. Kasihan Tante Tina jika dia terlalu lama sakit dan harus menghandle semua pekerjaan Romi sekaligus merawatnya.
"Alhamdulillah Ceri senang Tante mendengar kabar Romi yang sudah sehat kembali, maaf ya Tan kemarin-kemarin Ceri nggak bisa datang ke rumah Tante buat menjenguk Romi." Dengan wajah penuh penyesalan Ceri mengucapkan kata maaf, karena ia memang tak bisa bertemu Romi lagi tanpa ijin dari Tio. Di tambah lagi Tio terlihat tak menyukai Romi.
" Biar Ceri saja Tante," Ceri segera mendekati pintu, dan benar saja Romi turun dari mobil dengan senyum mengembang.
"Apa kabar Cer? mamah ada di sini kan?"
"Alhamdulillah sehat, ayo masuk! Udah seger lagi kayaknya. Aku seneng liat kamu sehat begini Rom." Keduanya masuk menuju ruang tamu dimana Tante Tina berada.
Mereka saling berbincang di selingi canda tawa. Sudah lama tak berjumpa membuat setiap pembahasan menjadi seru. Regan dan Rayya pun ikut bergabung. Romi menggendong Rayya yang tampak aktif dengan gerakan bayi yang menggemaskan sedangkan Regan terus mengobrol dengan Oma Tina menceritakan masa sekolah TK yang sudah selesai.
"Cucu-cucu Oma sudah besar, rasanya ingin Oma bawa pulang. Rom mamah ingin sekali kamu segera menikah dan memiliki keluarga bahagia, rumah pun ramai dengan suara anak-anak kalian yang lucu."
Romi menghela nafas panjang dan menatap Ceri dengan tatapan penuh makna, Ceri pun menatap Romi dengan tatapan penuh tanya.
"Nanti Romi akan menikah mah, pasti....mamah tunggu saja ya kabar baik dari Romi. Romi akan membawa calon istri Romi bertemu mamah," ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya pada Ceri.
Mamah melihat keduanya saling memandang tampak bahagia, ia merasa jodoh Romi semakin dekat. Apa lagi jika benar Ceri yang menjadi istri Romi, wanita Sholehah yang telah beliau anggap anak sendiri.
__ADS_1
"Kalian cocok sekali...." ucapnya dengan senyum bahagia.
"Mah..."
"Mamah setuju jika kalian bersatu."
"Tapi Tante, Ceri sudah..."
"Tante tau sayang, kamu sudah memiliki dua anak. Tapi bagi Tante tidak apa asal kalian saling cinta. Apa lagi Romi juga sangat menyayangi anak-anak kamu. Bagaimana jika kalian menikah?"
Ceri tercengang mendengar ucapan Tante Tina, begitupun dengan Romi yang hanya diam dengan menghela nafas berat.
"Siapa yang ingin menikah sayang?"
Ceri terkesiap mendengar pria yang kini ada di hatinya datang dengan pertanyaan. Tio berjalan mendekat dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ada tamu sayang? pantas telponku nggak kamu angkat, hhmm?"
cup
Tio mengecup kening Ceri dengan sayang dan tatapan penuh cinta. Tante Tina yang melihat itu semua merasa heran dengan orang asing yang tiba-tiba datang memanggil Ceri sayang dan menciumnya dengan mesra.
Sedangkan Romi hanya bisa membuang nafas kasar dan memalingkan wajah. Ceri wanita yang ia cinta yang selamanya hanya akan menjadi bayangan di hidupnya.
"Rom...Cer....." lirih Tante Tina.
Romi tak bisa menjawab karena inilah penyebab kecelakaan yang ia alami beberapa Minggu lalu. Ini lah yang membuatnya hancur sampai tak ada harapan untuk hidup. Dan ini lah alasan ia mampu kembali bangkit karena ia tak ingin terlihat rapuh di mata Ceri. Dia berusaha membuktikan pada Ceri jika ia bisa dan ikhlas melepas walaupun memang tak mudah.
Ceri menatap Tante Tina dengan perasaan tak menentu, bahkan orang yang ia anggap seperti mamahnya sendiri belum tau kabar pernikahannya hingga mengakibatkan kesalahpahaman.
"Tante kenalin ini...."
"Ini pria yang datang saat acara almarhum papah kamu kan sayang? Tante baru ingat, dia yang dekat dengan Regan. Apa hubungan kalian nak?"
"Iya Tante, dia ini...."
__ADS_1
"Kenalkan saya suami Ceri Tante," Tio mengulurkan tangannya ke arah Tante Tina yang kini tampak terkejut menerima kenyataan jika Ceri sudah menikah.