
Setelah tragedi bibir yang salah singgah hingga canggung di alami keduanya. Ceri menundukkan kepala dengan jantung berdebar. Kesalahan yang tak disengaja membuatnya berulang kali meminta maaf.
"Gue balik," ucap Tio.
"Iya, makasih ya. Maaf untuk yang tadi," lirih Ceri.
Tio menganggukkan kepala, "nggak apa-apa loe tenang aja," ucapnya kemudian segera pulang.
Ceri menarik nafas dalam, kejadian yang tak terduga yang jelas menimbulkan dosa dan rasa bersalah. Dia lebih memikirkan perasaan Tiwi andai tau tunangannya tersentuh olehnya.
Ceri segera masuk ke dalam dan mengunci pintu lalu naik ke kamar untuk beristirahat bersama anak-anak.
Keesokan harinya Regan sudah kembali bersekolah, bangun tidur sempat menanyakan keberadaan Tio. Tetapi segera sadar jika Tio tak serumah dan tidak bisa setiap saat ada untuknya.
"Mah, akhir pekan om Tio kesini lagi kan?" tanyanya di sela-selanya sarapan.
Ceri tampak berpikir, Tio sudah bertunangan maka tak menutup kemungkinan jika tiap weekend dia di sibukkan dengan persiapan pernikahan. Tapi jika dia mengucapkan kata tidak, Ceri takut Regan akan kembali sakit seperti kemarin lagi. Dan Tio akan memarahinya karena Regan sakit dengan sebab yang sama.
"Nanti coba kita hubungin Om Tio ya, biar kamu bisa tanya sendiri Om Tio jadi datang atau tidak."
"Iya mah," jawabnya.
Seperti biasa Ceri mengantar Regan ke sekolah dan akan kembali saat Regan pulang. Mengurus kedua anak-anaknya dengan telaten dan sabar, hingga tak terasa weekend kembali datang.
Pagi ini Regan menagih janji, dia ingin menghubungi Tio dan menanyakan apakah hari ini bisa datang dan menepati janji untuk berjalan-jalan bersama. Hingga Ceri di buat pusing dengan alasan apa lagi agar Regan lupa dan tidak meminta menghubungi Tio. Jujur Ceri khawatir mengganggu Tio dan Tiwi.
"Mah...."
"Sayang, Om Tio lagi sibuk kerja. Bagaimana jika jalan-jalannya sama mamah aja?" tanyanya membuat Regan tampak berpikir sejenak. Sudah lama Ceri tak mengajak Regan jalan-jalan, tapi untuk sementara Rayya tak Ceri ajak karena umurnya yang masih belum genap sebulan.
"Ya udah dech Mah, Regan siap-siap dulu ya Mah," ucapnya semangat kemudian segera kembali ke kamar dan berganti pakaian. Ceri bernafas lega, setidaknya aman dari rengekan Regan yang terus menanyakan Tio.
__ADS_1
Setelah rapi, Ceri menitipkan kembali Rayya pada Bibi kemudian segera berangkat bersama Regan. Dengan gamis berwarna navy Ceri tampak anggun dan cantik, terlihat masih muda hingga tak ketara jika ia sudah memiliki anak dua.
Memasuki mall dengan menggandeng Regan yang begitu antusias mengajaknya bermain di arena permainan yang ada di lantai paling atas. Bermain, bercanda, tertawa lepas hingga tak terasa sudah dua jam mereka bersama di arena tersebut.
Ceri betul-betul bahagia, dia yang sudah lama bahkan bertahun-tahun sejak menikah dengan almarhum papahnya Regan, seakan lupa caranya tertawa lepas hingga air mata keluar.
Kini keduanya memutuskan untuk mencari makan di restoran yang ada di sana, seraya Ceri yang terkadang singgah melihat-lihat baju atau sepatu anak untuk kedua anaknya.
"Mah, Regan mau makan ayam goreng aja terus mau es krim juga."
"Kalo gitu kita makan di QFC aja ya, tapi harus pakai sup nya biar ada sayurnya ya sayang."
"Oke mah, let's go."
Keduanya melangkah mencari restoran yang mereka inginkan, tapi saat ingin sampai di restoran cepat saji tersebut. Regan menarik tangan Ceri hingga langkahnya terhenti.
"Mah, tunggu!"
"Tunggu sebentar ya mah, Mamah jangan kemana-mana. Awas nanti mamah ilang kalo mamah berjalan sendirian." Ucapnya mengingatkan kemudian segera menghampiri orang yang saat ini ada di dalam toko perhiasan sedang diam bersidekap dada dengan mata menatap tak minat.
"Om Tio!" Regan masuk ke toko tersebut dengan Ceri yang mengikuti dari belakang, mata Ceri melebar melihat Tio bersama Tiwi di toko perhiasan sedangkan Regan benar-benar menemui keduanya.
"Hai boy, kesini dengan siapa?" tanya Tio yang cukup terkejut dengan keberadaan Regan yang tiba-tiba memanggilnya.
"Sama mamah Om, Regan habis main sama mamah. Kata mamah Om sibuk makanya mamah ajak Regan."
Tio mengedarkan pandangannya mencari Ceri yang ternyata melangkah mengejar Regan, sedangkan Tiwi yang melihat Regan menemui Tio justru merasa kesal karena dirinya yang merasa terganggu saat Tio yang sejak pagi sulit di ajak mencari cincin pernikahan karena ada janji dengan Regan hingga berhasil mengajaknya jalan. Tapi justru bertemu di mall ketika dirinya merasa puas membuat Tio mau menunda janjinya.
Ceri mendekati Regan dan Tio kemudian meminta maaf karena tampak wajah Tiwi menahan kesal.
"Maaf ya udah ganggu kalian berdua," ucapnya tidak enak.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, lagian kan emang gue janji nemuin Regan tapi karena harus milih cincin pernikahan jadi gue terpaksa gagalin semuanya. Maaf ya Regan, lain kali om nggak akan batalin gitu aja."
Ceri semakin tak enak hati pada Tiwi, dia segera mengajak Regan untuk mencari makan dan membiarkan Tio tetap tinggal karena terlihat Tiwi yang sibuk memilih tanpa menghiraukan percakapan antara dirinya, Tio dan Regan.
"Regan, ayo kita cari makan. Tadi katanya mau makan ayam nak. Yuk..." ajaknya.
"Tapi mah, Regan baru ketemu sama Om Tio." Wajah Regan tampak sendu dan merasa sangat sedih hingga membuat hati Tio luluh dan meminta keduanya untuk menunggu.
"Biar bareng sama gue nggak apa-apa, habis ini kita nyari makan. Bentar gue selesain dulu." Tio segera mendekati Tiwi, melihat itu Ceri memijat pelipisnya sungguh di luar rencana. Ingin mencari aman agar tak mengganggu justru tanpa sengaja bertemu.
"Udah kelar belum?"
"Loe aja dari tadi nggak milih-milih, mau kelar gimana? yang nikah kita berdua bukan gue sendirian Tio!" sewot Tiwi, moodnya hancur melihat Regan datang dan mengacaukan kebersamaannya dengan Tio.
"Ck,..." Tio berdecak kemudian dia melihat deretan cincin yang ada di dalam etalase. Memilih salah satu diantara banyaknya pilihan hingga satu yang menurut dia cukup menarik.
"Yang ini aja!"
"Mbak, kata calon suami saya yang ini aja." Tiwi sengaja menegaskan kata calon suami saya agar Ceri mendengarnya, entah kenapa Tiwi merasa Ceri adalah ancaman untuk hubungannya dengan Tio. Walaupun ia tau Tio belum ada hati untuk wanita selain Sella.
Setelah mereka keluar dari toko perhiasan tersebut, kini mereka segera menuju restoran sesuai keinginan Regan. Tiwi sejak tadi tak melepaskan tangannya di lengan Regan sedangkan Regan menggenggam tangan Tio yang lainnya. Dan Ceri berjalan di belakang mereka.
Sampai di restoran, Tio memutuskan untuk memesan makanan kemudian yang lainnya memilih tempat duduk. Tiwi sengaja memilih duduk di bagian sofa panjang agar ia bisa duduk nyaman mojok dengan Tio, dan Ceri di depannya menggunakan kursi biasa bersama dengan Regan.
"Ceri, nanti datang ya ke pernikahan gue sama Tio." Tiwi mulai membuka pembicaraan, ia ingin menegaskan jika Tio akan menjadi suaminya.
"Insyaallah datang Wi, mudah-mudahan lancar sampai hari H ya."
"Terus loe kapan nikah?"
"Belum ada rencana, itupun nggak tau akan menikah lagi atau tidak." Ceri bersikap sopan walaupun wajah Tiwi seakan tak suka. Tapi bagi Ceri itu wajar mengingat Tiwi yang merasa terganggu dengan dirinya dan Regan.
__ADS_1
"Jangan kelamaan menjanda karena akan menjadi ancaman!"