
Kabar Tio yang sudah memiliki istri begitu cepat tersebar luas. Desas desus Tio yang lebih memilih wanita berhijab dan cantiknya melebihi Tiwi semakin santer terdengar. Hingga banyak yang menunggu keluarnya Ceri dari ruangan Tio.
Ceri menatap heran para karyawan yang begitu ramah dengan menundukkan kepala. Ia pun membalas tak kalah ramah dengan menyisipkan senyuman. Keluar dari kantor dengan rasa canggung hingga dirinya merasa lega ketika sudah memasuki mobil.
"Perasaan yang di kasih tau dua orang, tapi kenapa yang berdiri di lobby banyak banget. Udah kayak penyambutan gubernur."
Tak ada kegiatan yang berbeda, hanya suasana hatinya yang tak seperti biasa. Aura positif lebih nampak hingga menular pada kedua anaknya yang bermain dengan ceria.
Tio pulang tepat di jam 5 sore, suatu ketumbenan yang perlu di beri tepukan tangan. Tak biasa pulang sore hingga istri dan kedua anaknya merasa heran.
"Papah kok udah pulang?" tanya Regan saat Tio sudah masuk dan duduk di sampingnya.
"Boy, kenapa tanya begitu? apa Regan nggak suka papah pulang sore?" tanyanya dengan wajah sendu.
"Suka sekali Pah, hanya tak seperti biasanya. Papah selalu pulang malam bahkan kemarin nggak pulang-pulang."
"Maaf ya, tapi mulai sekarang Papah akan pulang tepat waktu," ucapnya penuh penyesalan. "Eh iya ngomong-ngomong mamah mana boy?" sejak ia sampai tak ada Ceri menyambut kepulangannya.
"Mamah mandi Pah, terus nidurin Rayya di kamar." Regan sejak tadi ada di ruang keluarga bermain sendirian. Sesekali Bibi melihat dan mengawasi tuan mudanya takut bermain yang berbahaya.
"Enak ya Rayya, papah kerja Rayya berkuasa."
Mendengar suara Tio, Ceri segera mengangkat kepala, menatapnya heran lalu melihat jam dinding dan Tio bergantian.
"Tumben...." satu kata yang lolos dari bibir Ceri menyambut Tio pulang kerja.
"Nggak boleh banget pulang cepet," sahut Tio.
Tio membuka dasi dan sepatu lalu duduk bersandar di sofa dengan menatap Ceri yang kini segera menidurkan Rayya di boks bayi.
Ceri mencium punggung tangan Tio dan hendak merapikan sepatu serta tas kerja tapi dengan sekali tarikan Tio membuat Ceri duduk di pangkuannya.
"Mau kemana?"
"Mau rapiin ini dulu." Ceri menunjukkan apa yang akan ia rapikan.
"Sini dulu!" titahnya kemudian menelusup di ceruk leher Ceri dan mencari kenyamanan di sana. Dia pun mengeratkan pelukannya di pinggul Ceri hingga tak dapat bergeser.
"Loe bikin gue nggak betah di luar rumah," bisiknya membuat tubuh Ceri meremang. "Ada apanya sich? hawanya pengen cepat pulang?"
__ADS_1
Ceri mengulum senyum, dia merasa aneh dengan sikap Tio yang manja padanya. "Mungkin yang dirumah daya tariknya lebih besar dari pada wanita yang di luar sana!"
"Tapi kan gue kerja bukan mau main lato-lato sama cewek lain. Besok ikut ke kantor aja ya, ajak Rayya sama Regan nggak apa-apa dech!"
"Kenapa nggak sekalian buat tempat bermain anak di kantor?" tanyanya dengan menahan ketawa.
"Apa kantornya aja yang di pindah di rumah?" tanyanya semakin mengeratkan dengan menghirup aroma tubuh Ceri sebanyak-banyaknya.
"Eh jangan dech, enak di loe ntar ngeliatin staf cowok sesuka hati."
Ceri menggelengkan kepala mendengar Tio semakin meracu hingga suara itu lama-lama menghilang dan terganti dengan hembusan nafas yang teratur disertai dengkuran halus.
"Eh kok tidur...." Ceri memberi jarak dengan memegang kepala Tio dan merebahkan kembali di sofa. Ia segera turun dari pangkuan, menatap Tio yang kini terlelap begitu nyenyak.
"Sebenarnya pulang tuh kangen gue apa kangen kasur sich..." Ceri tertawa kecil kemudian kembali membereskan sepatu serta tas kerja Tio.
.
.
.
Setelah makan malam mereka bersantai sejenak di ruang keluarga. Ceri mengawasi Rayya yang sedang belajar tengkurap sedangkan Regan meminta sang Papah untuk menyusun Lego.
"Nanya sama siapa?" tanya Tio santai.
"Sama lo_ eh kamu!" Ceri lupa jika ada di depan anak-anak, sebisa mungkin keduanya berbicara sopan di depan mereka.
"Kamu siapa?" tanya Tio lagi tanpa menoleh ke arah Ceri karena fokusnya sedang terbagi dengan lego.
"Papah Tio, gimana boleh ikut nggak?"
"Boleh."
Ceri mengerutkan dahi, menatap Tio dengan tatapan penuh tanda tanya tapi pria itu tak tanggap. Dan ceri hanya bisa menghela nafas panjang.
"Mau kemana?" tanya Tio saat melihat Ceri ingin masuk ke dalam kamar mandi setelah menidurkan Rayya. Pria itu menahan tubuh Ceri hingga kini berada dalam dekapannya.
"Mau ganti baju terus bersih-bersih dulu lanjut tidur," jawabnya mendadak gugup.
__ADS_1
"Jangan lama gue tunggu di ranjang!" bisiknya tanpa basa basi dan melepaskan Ceri agar segera bersiap. Seringai tipis terlihat di wajah Tio membuat Ceri bergidik melihatnya.
"Punya laki meresahkan banget," keluhnya.
Ceri menatap pantulan tubuhnya di cermin, kemudian merapikan baju tidur berbahan satin dengan berbalut kimono dengan bahan yang sama.
Suara pintu kamar mandi menarik perhatian Tio yang sedang fokus pada ponselnya. Menatap dengan tatapan mendamba dan segera meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sini!" Tio menepuk sisi sebelah kasurnya agar Ceri segera mendekat. Meraih jemari sang istri saat sudah berada di pinggir ranjang.
"Tadi nanya apa hmm? acara reuni?" tanyanya dengan tatapan teduh dan mengusap pipi Ceri hingga kembali bersemi merah.
"Iya," Ceri menganggukkan kepalanya.
"Siapa yang ngajak?" tanyanya dengan tatapan selidik.
"Lila, teman sekelas dulu. Memangnya nggak tau?" Tidak mungkin Tio tidak tau, atau memang pura-pura tidak tau.
"Besok kita ke butik!"
hah!
"Mau ikut juga?" wajah polos Ceri membuat Tio gemas.
"Loe pikir gue bakal ngebiarin loe berangkat sendiri?" tatapan sendu itu sudah berubah menjadi tatapan tajam siap menerkam.
"Gue nggak bakal ngebiarin loe menjadi santapan para pria di sana!" tegas Tio.
Ceri diam tak lagi bertanya, menarik selimut mulai merebahkan tubuhnya. Belum mau terlelap tapi tak juga ingin berdebat. Melirik Tio yang diam entah memikirkan apa kemudian memutuskan memejamkan mata tapi belum sampai mata terpejam suara Tio kembali membuatnya membuka mata dengan lebar.
"Cer, pengen yang semalam."
To the point sekali bapak ini, tak adakah kalimat ajakan yang romantis. Bukan ingin malah bingung sendiri menjawabnya.
"Cer, ayo bikin adik Rayya!" kini Tio memiringkan tubuhnya hingga mampu menatap wajah Ceri.
"Emang nggak capek?"
"Capek kan otaknya, si Beno mah dari pagi tidur dan sekarang baru bangun. Masak suruh tidur lagi Cer, cepet gemuk nanti malahan repot. Yang ada loe makin ketagihan!"
__ADS_1
"Tiooo......."
Tanpa aba-aba dan kuda-kuda Tio sudah merangkak dan menempel di atas Ceri dengan kabut gairah yang menutupi mata.