
Setelah pembicaraan malam itu hubungan Tio dan Ceri belum ada perkembangan, keduanya sama-sama menyelami perasaan dan memilih diam. Keputusan terakhir adalah saling introspeksi diri masing-masing, berpikir dengan kepala dingin dan menjauhi perdebatan sengit.
Sudah seminggu Ceri kembali seperti janda, terbebas dari tugasnya sebagai istri walaupun masih taraf menyiapkan kebutuhan lahir bukan batin.
Tio lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya untuk merenungi kehidupan. Dari pada menjadi satu tapi sama-sama sulit sejalan. Nyatanya memang rumah tangga itu harus siap dan pelajaran yang panjang dalam hidup. Bukan sekedar menikah lalu bahagia tanpa embel-embel gonjang-ganjing rumah tangga. Tapi saling menyatukan kedua pemikiran yang sudah jelas tampak berbeda.
Kedua orang tua Tio hanya bisa menasihati tapi tak bisa memaksa keduanya. Mereka yakin dengan sama-sama saling memperbaiki dan menjauh sedikit mungkin akan ada masa dimana cinta itu bangkit.
Jujur nama Sella sudah meluntur tapi untuk cinta baru masih semu. Kerinduan mulai tumbuh namun untuk kejujuran masih jauh.
Begitupun dengan Ceri, sebelum tidur dia selalu meminta pada yang kuasa agar di berikan jalan yang terbaik. Kehidupannya tak pernah mulus tapi ia minta satu, ijinkan ia memiliki rumah tangga yang ia impikan.
Pulangnya Tio menjadi suatu kehilangan yang begitu nyata apa lagi ketika bangun dan terlelap. Ranjang yang biasanya hangat kini terasa dingin dengan satu sisi ranjang yang masih rapi hingga pagi.
Ceri pun harus punya segudang alasan saat Regan bertanya. Beruntung hanya tetangga yang tau jika ia sudah menikah, dan hanya butuh satu alasan saat mereka bertanya keberadaan Tio. Bagaimana jika banyak yang tau, mereka pasti menganggap keduanya pisah ranjang kerena Tio tak pernah pulang.
Keduanya pun tak ada yang memulai komunikasi bahkan untuk sekedar mengirim pesan atau menghubungi menanyakan kabar. Tio hanya meminta sang mamah datang berkunjung untuk melihat keadaan istri dan kedua anaknya yang sudah seminggu lebih ia tinggalkan.
Untuk pekerjaan bersama dengan Tiwi semua sudah di pastikan selesai bulan depan. Seto selalu mendampingi setiap pertemuan dan memberi jarak untuk keduanya. Tak ada perdebatan karena Tiwi tau akan kesalahan yang ia lakukan hanya saja tampaknya ia bukan wanita yang mudah menyerah.
Pagi ini Ceri bertemu dengan salah satu temannya saat di SMA, Lila memberikan undangan reuni SMA yang akan di selenggarakan satu Minggu lagi di hotel ternama di Jakarta.
Beberapa bulan lalu, angkatan di atasnya juga mengadakan reuni di tempat yang sama, karena banyak juga yang berjodoh dengan adik kelas dan melihat acara dan tempatnya bagus untuk berkumpul melepas rindu, jadilah angkatan Ceri ikut mengadakan dengan panitia mantan OSIS dan para ketua kelas mereka dulu.
"Wajib nggak sich La?" Jika bisa Ceri tak ingin ikut, ia tidak minat bertemu karena ada kesan buruk saat mendekati kelulusan.
"Kalo bisa hadir lah, kapan lagi kita bisa kumpul. Udah sibuk sama keluarga semua begini, loe aja kalo nganter Regan langsung balik karna ngurus yang kecil. Gue sendiri sibuk di gerai makanya sopir terus yang nganter anak gue ke sekolah."
__ADS_1
Ya Ceri dan sahabatnya Lila memang menyekolahkan anak mereka di sekolah yang sama, hanya bedanya Regan kelas B dan anak Lila kelas A.
"Gue usahain dech, tapi loe berangkat sama laki loe pasti ya?" tanya Ceri dengan wajah sendu.
"Iya lah Cer, mau sendiri laki gue nanti bisa-bisa bertanduk. Tapi nggak apa-apa nanti kita ketemu di sana." Lila tau jika Reno sudah tiada bahkan ikut datang melayat, tak hanya dia saja, teman satu kelas mereka pun hadir dan mereka tau jika sampai saat ini Ceri masih sendiri.
"Ya udah nanti kabar-kabar lewat wa aja ya."
Ceri masih tidak yakin akan datang, tapi ia pun tak ingin memusingkan. Masih ada waktu seminggu untuknya berpikir. Dan meminta ijin pada Tio yang sampai saat ini statusnya masih sah sebagai suami.
...🍃🍃🍃...
"Assalamualaikum cucu Oma....." Mamah datang dengan membawa paperbag di tangannya. Masuk dengan langkah lebar dan segera mendekati Ceri yang sedang menemani kedua anaknya bermain.
"Wa'allaikumsalam...Oma datang sayang!"
Regan segera bangkit dari duduknya dan berlari mendekati mamah. "Oma..."
"Mah....."
"Sayang maaf mamah baru datang lagi ya, biasa si janda bolong minta di tungguin, udah mau numbuh nak. Terus cabai-cabai mamah sudah mau berbuah. Nanti kita nyambel kalo sudah panen ya nak!" ucapnya bersemangat.
Ceri mengulum senyum, ia menganggukkan kepala kemudian mengajak mamah untuk duduk di sofa.
"Bi tolong buatkan teh manis hangat ya Bi!" serunya pada Bibi.
"Baik non..."
__ADS_1
"Wah cucu Oma sudah belajar miring, lucunya cantik.... pakai apa ini. Bando ya sayang? utututut.........." Mamah meraih tubuh Rayya yang sedang miring-miring di karpet tebal.
"Cucu Oma....cucu Oma...cucu Oma...cucu Oma..hehehhe" Mamah bersenandung riang mengikuti bunda yang sedang viral di jagat hiburan, beliau begitu bahagia melihat cucunya tumbuh sehat apa lagi Rayya yang sudah banyak perkembangan.
Regan dan Cari cukup terhibur dengan kedatangan Mamah, sekilas mengingat akan Tio tapi setelah itu ia menggelengkan kepala.
"Ini Oma bawa buat Rayya, kalo Abang mobil-mobilan kalo Rayya baju pink yang lucu-lucu ya nak."
Ceri meraih paperbag tersebut dan meletakkannya di samping tempat duduknya. "Di minum dulu Mah," ucapnya setelah melihat Bibi meletakkan teh di meja.
"Iya sayang .."
Setelah bermain bersama Regan dan Rayya hingga sekarang keduanya tidur siang, kini Ceri mengajak Mamah untuk makan siang bersama.
"Enak, ini kamu yang memasak?"
"Iya mah," Jawabnya kemudian melanjutkan makan.
"Pantas saja Tio jadi rewel soal makanan. Ternyata masakan kamu lebih enak dari pada masakan Mamah."
Ceri terdiam, ia menoleh ke arah Mamah mencari kebenaran ucapan beliau.
"Maaf ya nak, Tio belum bisa pulang. Tadi dia berpesan jika uang bulanan untuk kebutuhan kamu dan anak-anak sudah di tranfer dan juga uang nafkah khusus untukmu pribadi sudah si kirim terpisah."
Ceri menganggukkan kepala dan berusaha untuk tersenyum. "Makasih ya Mah."
"Iya sayang, sabar ya mamah doakan kalian cepat menemukan jalan. Dan Tio cepat sadar jika dia sudah mulai mencintaimu." Mamah menggenggam tangan Ceri, berharap menantunya lebih bersabar lagi menghadapi Tio.
__ADS_1
"InsyaAllah Mah..."
Setelah mamah pulang, kini Ceri mulai merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam dengan pikiran menerawang jauh ntah kemana. Berulangkali ia menarik nafas dalam dan menghela dengan perlahan hingga menemukan ketenangan dan tak terasa ia pun terlelap di sana dengan bayangan wajah Tio memenuhi pikirkan.