Menikahi Janda

Menikahi Janda
Alat Bantu


__ADS_3

Selama tiga hari ini kondisi kesehatan Tio menurun, pria itu terpaksa mendapatkan perawatan setelah jatuh pingsan di ruangan Ceri. Selang infus pun terpasang di tangannya. Mendapati kenyataan pahit tak membuat seorang Tio kuat menghadapi. Ternyata beban mental membuatnya tumbang dan jatuh sakit.


Selama tiga hari ini juga Tio di temani kursi roda yang selalu membawanya keruangan Ceri. Menyapa dan mengajak bicara hingga ia lelah dan kembali lagi ke brangkarnya. Tak ada yang dapat ia lakukan selain berharap dan berdoa. Mengharapkan ada keajaiban yang datang untuk sang istri agar bisa kembali pulih dan keluar dari masa kritis.


"Bagaimana perkembangannya dok? apa sudah ada kemajuan?" tanyanya dengan wajah penuh harap.


Dokter menghela nafas berat, benar-benar bingung harus menjawab apa mengingat kondisi Tio yang tak cukup kuat menerima kabar apapun yang kurang berkenan di hatinya.


"Dok?"


Dokter menarik nafas dalam dan mengatupkan kedua telapak tangannya. "Maaf... seandainya semua alat di lepas kemungkinan besar dia tiada."


deg


Tangan Tio mencengkeram erat lengan kursi roda, jantungnya seakan terhantam batu besar mematikan jiwa. Apa yang di harapkan tak sesuai kenyataan. Nyatanya manusia hanya mampu berencana dan semua kembali pada yang lebih berkehendak.


Dunianya seakan berhenti, mampukah ia berdiri kembali setelah kabar yang tak mengenakan ini....


"Apa saya masih bisa berharap lagi dok?" lirihnya.


Dokter hanya mampu menundukkan kepala dan meminta maaf, beliau pun hanya perantara yang di tugaskan oleh Allah berusaha semaksimal mungkin menangani orang sakit bukan penyembuh penyakit. Di saat semua berharap padanya, beliau akan kembalikan lagi pada yang lebih berkuasa dari segalanya.


Tio menatap nanar wanita cantik dengan wajah berhias alat pembantu pernapasan, ia memutuskan untuk meneruskan harapannya walaupun hanya 1 persen kemungkinan untuk kembali. Hatinya belum ikhlas, dengan di lepasnya alat bantu yang melekat di tubuh Ceri sama saja membunuh Ceri saat itu juga. Setidaknya ia masih bisa melihat wanitanya ada dan tak pergi kemana-mana.


"Tio, apa menurutmu ini yang terbaik nak? kamu tidak kasian dengan Ceri?"


"Apa Tuhan kasihan pada ku Pah? aku mencintainya, aku ingin dia selalu ada dan anak-anak pun membutuhkannya. Apa jahat jika aku menundanya untuk menghadap? berharap Tuhan memberikan mukjizat?"


Papah Juna menghela nafas panjang dengan memijit pelipisnya, beliau mengerti apa yang di rasakan putranya tapi mengapa harus egois seperti ini.


"Aku masih ingin mengupayakan cangkok jantung untuk Ceri agar kembali merasakan detakan yang kuat di dadanya. Mungkin itu bisa membantunya kembali Pah."


"Tapi dokter sudah angkat tangan, bagaimana bisa kamu masih berniat memberikan solusi jika yang akan menjalankannya saja sudah tidak sanggup menangani?"


Tio menundukkan kepala, egonya masih tinggi dan menginginkan Ceri kembali. Biarkan dirinya di bilang gila dengan harapan setipis tisu, yang terpenting ia masih bisa melihat jelas wajah ayu istrinya untuk mengikis rindu.

__ADS_1


Sejak kejadian itu Tio belum bertemu dengan Regan dan Rayya. Dia tak sanggup menatap wajah kedua anak sambungnya yang sangat berharap kepulangan sang mamah.


.


.


.


Hari ini adalah hari pertama Regan masuk ke sekolah dasar dan hari pertama juga bagi Tio menginjakkan kakinya lagi di rumah setelah satu Minggu lebih tidak memperlihatkan batang hidungnya di depan kedua anaknya.


Selama satu Minggu Tio berusaha mengembalikan lagi semangat hidupnya dengan menemani Ceri setiap hari di rumah sakit. Bahkan rumah utamanya saat ini adalah ruangan Ceri, Tio rela tidur di samping Ceri yang jauh dari kata nyaman. Tapi tak mengapa asal ia bisa dekat dan tak terpisah jarak.


Tio menarik nafas panjang sebelum memutuskan masuk kedalam rumah, senyum Regan menyambut dirinya menghentikan langkah Tio dengan dada yang begitu sesak.


"Papah....." Regan berlari menghampiri, tak banyak kata dari anak itu. Dia hanya memeluk Tio dengan erat dan menangis dengan menyebut nama "mamah".


Cukup dewasa bagi Tio, Regan mampu menerima kenyataan jika Ceri masih terbaring lemah di rumah sakit. Regan cukup mengerti walaupun Tio tau jika tatapan mata Regan penuh dengan kerinduan.


"Mamah pasti sembuh," kata itu bukan hanya untuk menguatkan Regan tetapi juga dirinya yang masih berusaha untuk tegar.


"Oma bilang sama Regan, jika Mamah sedang lelah dan butuh istirahat. Jika Mamah sudah kembali segar lagi pasti akan pulang menemui Regan dan Rayya."


"Kita ke sekolah baru sekarang?" tanya Tio mengalihkan pembicaraan.


"Iya Pah, Regan sudah siap!"


"Oke boy, let's go!" Tio mengalihkan pandangannya pada sang Mamah. "Mah, Tio antar Regan dan langsung ke kantor ya. Makasih sudah menjaga anak-anak Mah!"


"Iya sayang, hati-hati ya! Regan belajar yang rajin ya nak!"


"Siap Oma!"


Setelah berpamitan dengan Mamah keduanya segera berangkat. Sebelumya Tio sudah meminta bantuan pada Dimas untuk mendaftarkan Regan di salah satu sekolah miliknya. Tio yang belum cukup mampu melihat dunia luar kemarin tak bisa terjun langsung mencarikan sekolah yang sesuai dengan keinginan Regan ataupun dirinya sendiri. Sedangkan Papah juna sudah sibuk menghandle perusahaannya kembali semenjak Tio sakit.


"Bagaimana boy, suka?"

__ADS_1


Regan tersenyum penuh makna, matanya menangkap seseorang yang membuat suasana hatinya senang.


"Suka karena ada mereka Pah!" Regan menunjuk ke arah dimana mereka berada. Dan Tio mengikuti arah tangan Regan lalu tersenyum tipis dan menggelengkan kepala.


"Jangan membuat mereka bertengkar karena memperebutkanmu boy!" Tio mengajak Regan mendekati keduanya.


"Sayang .."


"Daddy..." Naira dan Kaira segera memeluk Tio dengan sayang. "Kami merindukan Daddy...."


"Daddy juga merindukan kalian, sekarang anak Daddy sudah besar, sudah menjadi anak SD ya. Wah....semakin cantik sekarang. Kalian satu kelas dengan Regan, Daddy titip Regan pada kalian ya!"


"Pah, Regan juga sudah besar!" protes Regan dengan bersidekap dada menatap Tio dengan wajah tak terima.


"Oke boy, kamu yang menjaga mereka berdua." Tio pun mengalah dengan senyum tipis tersemat. "Ingat kata papah tadi ya!"


"Itu urusan mereka Pah, tapi aku sudah memilih di antara keduanya," lirih Regan.


"Hey....astaga kamu masih kecil boy!"


"Aku sudah besar Pah!" protesnya lagi dan Tio hanya menghela nafas berat. "Dan aku mau mengganti panggilan."


Tio mengerutkan kening, menunggu ucapan Regan selanjutnya dengan penasaran.


"Apa?"


"Aku panggil papah dengan Daddy sama seperti mereka."


Tio hanya bisa menganggukkan kepala menyetujui, memberikan kebebasan pada Regan sepenuhnya. Mungkin dengan ini tak ada perbedaan di antara Regan dan kembar.


"Bagaimana dengan keadaan Ceri?"


"Masih belum ada perkembangan," jawab Tio singkat.


Sella menatap iba, dia paham sekali sahabatnya sedang tidak baik-baik saja. Apa lagi Ceri dan Tio baru merajut cinta, bahkan belum genap satu bulan mereka saling mencintai tapi harus terpisah karena keadaan yang tak berpihak.

__ADS_1


"Sabar ya, gue yakin loe mampu melewati ini semua."


"Hhmm..."


__ADS_2