
Apa yang telah digariskan akan kembali ke jalannya dan apa yang selama ini kita hindari akan kembali sesuai ketentuan yang telah di beri.
Ceri sudah menghindar, bahkan membatalkan perjanjian. Menguatkan tekad jika bersama tanpa cinta akan kembali kecewa, tapi apa daya. Ketika takdir membawanya pada satu alasan yang membuat pernikahan kembali di laksanakan.
Pagi ini Regan sudah boleh pulang, bersama Tio mereka pulang dengan rasa syukur karena Regan pulih dengan cepat. Berusaha tenang dan tak ingin memikirkan tentang pernikahan yang Tio rencanakan.
Tapi tanpa di duga, saat Ceri menginjakkan kembali kakinya ke dalam rumah ia di sambut oleh kedua orang tua Tio yang sudah mendekor rumahnya menjadi acara sakral. Semua begitu cepat, hingga Ceri serasa mimpi jika hari ini ia akan berstatus kembali menjadi istri.
Sempat menatap Tio, tapi dengan acuh Tio tak menghiraukan. Hingga Ceri kembali melangkahkan kaki mendekati kedua paruh baya yang kini sedang bersama Regan.
"Tante, om ini....."
"Iya nak, bada Zuhur kalian akan menikah. Om dan Seto sudah mengurus semuanya. Sebentar lagi pihak MUA akan datang," ucap Pak Juna yang tau kemana arah pemikiran Ceri.
Sesak di dada Ceri saat mendengar itu semua, kemudian dia menatap Regan yang begitu bahagia membuat ia kembali menguatkan hatinya dari rasa takut akan kegagalan dan berujung tangisan.
Kini Ceri tengah berdiam diri di kamar, ia memilih menepi sejenak memikirkan semuanya. Dia memang sudah pasrah akan takdirnya, tapi bagaimana kedepannya. Sedangkan hubungan dengan Tiwi pun belum di selesaikan.
Ada rasa khawatir di hatinya, bagaimana jika semua tak mulus sesuai rencana. Dan Tiwi tak terima dengan semuanya. Apa mungkin dia akan aman? atau akan merasakan penderitaan serta fitnahan?
Kepala Ceri seakan mau pecah, sedangkan air mata entak sejak kapan terurai. Hingga ketukan pintu kamar membuyarkan lamunannya. Ceri bergegas membukakan pintu dan mengusap kasar air matanya.
"Nak..."
"Tante..." ternyata mamah Tio yang sudah berdiri di balik pintu kamarnya.
__ADS_1
"Boleh Tante masuk?" tanyanya dan di angguki oleh Ceri, dia mempersilakan masuk kemudian duduk di pinggir ranjang dengan saling berhadapan.
"Nak, Tante paham akan kekhawatiran kamu. Tante tau semua yang kamu alami sebelumya, pernikahan kamu yang hanya menyisakan kesakitan hingga kamu merasa trauma. Tapi percayalah nak, Tio pria baik. Bukan maksud Tante membanggakan anak Tante. Tapi Tante yakin kamu bisa menghadapinya dan membuat nya membuka hati untuk kamu."
Mamah Tio menggenggam tangan Ceri dan tersenyum hangat padanya seraya mengusap lembut kepala yang tertutup hijab.
"Yakinlah, setelah badai yang kamu hadapi selama ini pasti akan ada angin segar yang akan membawa kamu dalam kelegaan dan kebahagiaan. Terimalah dengan ikhlas semuanya, mungkin Regan adalah perantara untuk kamu menemukan jodohmu. Walaupun Tante tau, kalian belum saling mencintai. Dan Tio masih belum bisa melupakan Sella, Tante minta maaf jika sikap Tio pun masih acuh nantinya."
"Doa Tante untuk kalian, agar secepatnya bisa saling mencintai." Ceri hanya diam dan menganggukkan kepala, tak ada kata yang terucap dari bibirnya.
Setelah pembicaraan dengan mamah Tio, yang berujung panggilan "Mamah" tersemat, kini Ceri sudah mulai di rias oleh team MUA.
Wanita itu duduk di depan meja rias dengan hati gamang. Berulangkali mengambil nafas berat, hingga penampilannya sudah siap dan menunggu Tio mengucapkan ijab.
"Mamah...."
"Iya nak, tampannya anak mamah. Maaf ya mamah nggak bisa siapkan baju Regan."
"Sudah ada Oma yang membantu Regan dan memakaikan baju Rayya. Mamah cantik sekali," ucap Regan mengecup pipi Ceri.
"Makasih sayang," Ceri memeluk Regan.
"Regan senang mah, hari ini Regan punya papah," ucapnya dan di angguki oleh Ceri. Wanita itu menahan air mata, ia mencoba tersenyum di depan Regan. "Mamah bahagia jika Regan senang."
Kata sah menggema di ruang tengah kediaman Ceri. Tio berhasil mengucapkan ijab dengan satu tarikan nafas. Dia menundukkan kepala, merasa lega walaupun kedepannya ia tak tau akan bagaimana.
__ADS_1
Acara ijab kabul yang bersifat privasi ini hanya mengundang beberapa saksi, kerabat dekat dan beberapa tetangga Ceri. Hal ini di lakukan agar keluarga Tiwi tidak ada yang mengetahui. Bukan cuma itu, Seto dan Pak Nugraha pun meminta pihak KUA mengganti nama pengantin wanita yang disana sudah tercatat dengan nama Tiwi menjadi Ceri. Semua lancar karena ada campur tangan uang.
Ceri menuruni undakan tangga di dampingi oleh mamah mertua, dia begitu anggun dengan kebaya putih gading dan hijab senada yang membalut kepalanya, serta hiasan di kepala sesuai adat Sunda yang ia pakai.
Melangkah perlahan dengan perasaan yang entah. Semua yang ada di sana tampak terkesima dengan penampilan Ceri. Bahkan tak ada yang menyangka jika ia telah memiliki anak dua. Tio yang sejak tadi menunduk kemudian mendongakkan kepala setelah mendengar desas-desus di belakang. Hingga ia pun ikut terkesima melihat Ceri yang kini sudah ada di depan mata dan duduk di sebelahnya.
Tio kembali menundukkan kepala mendengar suara deheman dari Seto yang sengaja meledeknya. Hinga sang papah yang mengerti ikut tersenyum mengetahui anaknya kembali bisa terkesima dengan wanita.
Hati Tio berdesir saat bibir serta kening Ceri menempel di punggung tangannya. Ada rasa yang tak biasa di dalam dada menyeruak hingga jantungnya berdebar.
Begitupun dengan Ceri, air matanya jatuh saat merasakan kecupan di keningnya. Ia berharap ini terakhir walaupun ia tau tak akan mudah dan mungkin ia akan lelah menghadapi situasi kedepannya.
Untuk beberapa detik pandangan keduanya beradu, saling mengunci hingga suara seseorang yang tak di undang datang tiba-tiba membuat mereka mengalihkan pandangan.
Semua orang terkejut melihat siapa gerangan yang kini melangkah mantap mendekat dengan tatapan tajam penuh amarah. Membuat acara yang sakral menjadi riuh dan gaduh. Begitupun dengan Tio dan Ceri serta kedua orang tuanya yang tak menyangka acara ini akan terdengar hingga ke telinga orang yang sejak awal mereka hindari.
Tio dan Ceri berdiri menatap wanita yang kini berdiri dengan tatapan nyalang. Hingga Tio membolakan matanya kala tindakan kasar yang wanita itu layangkan pada istrinya.
Plak
Plak
Sebuah tamparan membuat pipi Ceri memerah, dengan geram Tio segera menarik tubuh Ceri kedalam pelukan. Sedangkan para tamu serta penghulu segera di amankan oleh Seto. Dan mamah pun membawa kedua cucunya ke kamar.
Tak cukup di situ, hijab yang Ceri gunakan hampir terlepas jika saja Tio tak mendorong kasar hingga wanita itu terjerembab di lantai.
__ADS_1