Menikahi Janda

Menikahi Janda
Menghindar


__ADS_3

Sore ini tak seperti biasanya, Tio sudah sampai di teras rumah. Ia masuk dengan mengucapkan salam saat melihat Ceri dan kedua anaknya sedang bermain di ruang keluarga.


"Assalamualaikum...."


"Wa'allaikumsalam...." Ceri dan Regan segera menoleh ke arah Tio, tapi tak lama Ceri segera mengalihkan pandangan sedangkan Regan berlari menghampiri Tio, karena sejak pagi mereka belum bertemu.


"Papah....."


"Halo boy, Papah rindu nich. Pagi tadi Regan berangkat bareng mamah ya?" tanyanya kemudian mengangkat tubuh Regan dan membawanya ke sofa tempat Ceri sedang memangku Rayya.


"Iya Pah, ada pentas seni di sekolah. Tadi Regan nari Pah, terus nyanyi juga......"


Di sela-sela ocehan Regan yang sedang menceritakan tentang acara pagi tadi di sekolah, Tio melirik Ceri yang kebetulan menoleh ke arah Regan dan kembali menatap Rayya tanpa peduli dengan Tio yang menatapnya.


"Kok Regan nggak bilang Papah kalo ada acara di sekolah. Kan Papah jadi nggak bisa lihat anak Papah tampil," ucapnya dengan wajah penuh penyesalan.


"Iya maaf Pah, Regan semalam lupa. Terus tadi pagi kata mamah, Papah masih pulas tidurnya. Kasian jika di bangunkan." Dengan polos Regan menjawab.


Tak lama Ceri masuk ke dalam kamar dengan membawa Rayya yang sudah kembali tertidur setelah tadi di mandikan dan di beri asi. Wanita itu masih diam, melangkah tanpa berucap.


"Regan, Papah mau mandi dulu ya. Bau acem...nanti belajarnya Papah yang temani oke!"


"Oke Pah, ya sudah Regan mau lanjutin main lagi Pah." Regan kembali memainkan beberapa robot yang ia sukai dengan sesekali di awasi bibi yang telah Tio mintai tolong untuk memperhatikan Regan.


Pria itu masuk bertepatan dengan Ceri yang sedang mempersiapkan baju gantinya. Melangkah mendekat hingga Ceri yang ingin meletakkan baju Tio di atas ranjang tak bisa melangkah karena pergerakan Tio yang semakin mengikis jarak.


Ceri menarik nafas dalam kemudian menatap Tio yang mulai mengunci pandang. Ada rasa yang entah hingga membuat jantung berdebar.


"Permisi.." ucap Ceri yang sudah tak sanggup lama-lama bertatapan dengan Tio yang membuatnya salah tingkah.


"Kenapa?" tanyanya dengan sedikit mencondongkan tubuh hingga hidung mereka hampir bertemu.


Nafas Ceri semakin sesak bahkan ia hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala. Ceri kembali menundukkan kepala tetapi dengan cepat Tio mengangkat dagunya hingga kedua pasang mata saling menatap.

__ADS_1


"Kenapa menghindar?"


Pertanyaan Tio seketika membuat Ceri kembali mengingat akan keduanya semalam yang tidur dengan saling beradu punggung. Bukan Ceri ingin menghindar tapi dia seakan malu untuk sekedar bertatap muka.


"Tadi kan udah di jawab sama Regan, gue nggak ada niat menghindar dan permisi gue mau keluar."


Tio menegakkan kembali tubuhnya dan tetap memandang tapi cukup memberi jarak. Hingga Ceri yang merasa ada celah segera menghindar keluar kamar.


Tio mengusap kasar wajahnya, ia menatap punggung Ceri yang hilang di balik pintu kamar. Kemudian segera melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Sebenernya kenapa sich sama gue, nggak terima banget gue kayaknya kalo dia diem gitu!" gumam Tio saat dirinya sudah berada di bawah guyuran shower.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Tio segera melangkah menuju ruang keluarga untuk menepati janjinya menemani Regan belajar.


Melihat Tio turun, Ceri segera naik tangga menuju kamar. Pergerakannya pun tak luput dari mata elang milik Tio. Pria itu gemas dengan sikap Ceri yang terlihat menghindar tetapi tak mau mengakui akan itu.


"Pah, ayo mulai belajarnya ..."


Sampai di kamar, Ceri segera mengecek Rayya sebelum ia melaksanakan 3 rakaat. Setelahnya menyempatkan diri untuk memberi asi untuk Rayya dan kembali turun ke bawah menyiapkan makan malam.


Dengan cekatan Ceri mengisi piring Tio dan meletakkan kembali di hadapan pria yang sejak tadi menatapnya. Hingga Ceri serasa ingin segera menyelesaikan makan dan masuk kamar untuk tidur.


Wanita itu tak ingin terlalu percaya diri seperti semalam. Setelah makan pun ia tak segera menyusul Tio ke dalam kamar. Cukup sekali ia merasa seperti di PHP dan tidak ingin terulang lagi.


Ceri masuk kedalam kamar Regan yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang. Tersenyum melihat anaknya dan mendudukan dirinya di pinggir ranjang.


"Anak mamah sudah besar, sudah tau jam nya untuk tidur. Regan sudah sikat gigi?"


"Sudah mah," jawabnya dengan memamerkan deretan giginya


"Sudah cuci tangan dan kaki?" tanyanya lagi memastikan.


"Sudah..." dengan semangat Regan menjawab.

__ADS_1


"Pintar, ya sudah sekarang Regan tidur. Biar Regan nggak terlambat bangun. Ayo sayang!" Ceri segera membenarkan selimut Regan agar lebih nyaman.


"Doanya mana?" tanya Ceri mengingatkan.


"Oh iya mah, lupa..." Kemudian dengan bimbingan Ceri, Regan membaca doa kemudian memejamkan mata.


Ceri menarik nafas dalam, waktunya ia kembali ke kamar. Melangkah masuk dan segera menutup pintu. Dia cukup lega melihat Tio sudah terlelap, setidaknya ia bisa segera tidur dan tak kembali mengingat kejadian semalam yang membuatnya insecure dengan dirinya sendiri.


Setelah berganti baju Ceri segera masuk ke dalam selimut yang sama dengan Tio. Tidur di sisi ranjang samping Tio dan memejamkan mata berharap akan segera terlelap dan menemukan pagi dengan cepat.


Ceri kembali membuka mata saat tangan Tio tiba-tiba singgah di atas perutnya. Dengan perlahan ia melepaskan diri tetapi Tio dengan cepet mengeratkan kembali tubuh Ceri hingga wanita itu menahan nafas.


Apa lagi dapat Ceri rasakan nafas Tio yang menerpa sebagian wajahnya. Hal itu semakin membuat jantung Ceri berdebar.


"Tidur aja nggak usah panik!"


Mata Ceri membola mendengar bisikan Tio tepat di telinga. Perlahan ia menoleh melihat Tio yang masih memejamkan mata. Tapi dengan santai semakin mengeratkan pelukannya.


Wajah Ceri merona ia tak bisa menghindar, bertahanpun jantungnya tak aman. Hal itu semakin membuat Ceri tak bisa terlelap, hingga entah di jam berapa ia baru benar-benar tidur. Dan kembali terjaga saat jarum jam menunjuk ke angka 8.


Ceri terjingkat saat ia sadar jika sudah kesiangan. Ia menoleh ke samping tetapi tak menemukan adanya Tio. Melihat boks bayi pun sudah kosong.


Dengan muka bantal, Ceri keluar dari kamar mencari kedua anaknya dan Tio, yang mana keperluannya tak ia siapkan.


Ceri mencari ke meja makan tetapi tak menemukan siapa-siapa, kemudian keluar menuju halaman karena kemungkinan Bibi sedang menjemur Rayya di sana.


"Bi, Regan mana?" tanyanya ketika melihat bibi sedang memangku Rayya di bawah sinar matahari pagi.


"Den Regan berangkat sama tuan non."


Ceri menganggukkan kepala, ia menyesal bangun terlambat hingga tak menyiapkan keperluan anak dan suaminya.


"Ibu macam apa sich gue...."

__ADS_1


__ADS_2