Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Bagai Anak Yang Terbuang


__ADS_3

"Dimana-mana orang bod*h cocoknya bersanding dengan orang buta!"


Meraka tertawa lepas merasa puas melihat penderitaan Kiara, yang menurutnya bisa menguntungkannya dengan sikap bod*h nya Kiara.


"Sudah jangan banyak bicara nanti ada yang mendengarnya kan bisa bahaya," ujar Joni pada anak dan istrinya yang sedari tadi selalu menghina anak bungsunya.


Rikha dan Andin mendengus kesal terhadap Papa nya.


"Papa kenapa sih, akhir-akhir ini berubah gitu?! menjadi perhatian banget sama anak bod*h itu!" cetusnya dengan melirik sekilas ke arah Joni.


"Jangan bilang Papa mau membatalkan rencana pernikahan mereka? benar kata Andin kalau Papa berubah?!" sambung Rikha dengan sedikit emosi.


Joni mengusap wajahnya yang gusar atas sikap Rikha yang menurutnya sangat kejam memperlakukan putri kandungnya sendiri.


"Ingat Mah, bagaimana pun Kiara anak kandungnya Mama? darah tidak bisa di cuci walaupun dengan air laut sekaligus," geram Joni.


Tatapan Rikha seketika berubah menjadi menyeramkan seakan-akan hendak memakan Joni hidup-hidup. Rikha berdiri berkacak pinggang dan berkata.


"Hay Pah! yang melarang Mama untuk menggugurkan janin sialan itu siapa?! Papa bukan? jadi jangan harap Mama akan menerima dia sebagai anak Mama!" jawabnya dengan lantang dan penuh amarah yang sedan menguasai pikirannya.


"Kalian pada kenapa sih?! bukanya kita akan keluar untuk makan, malah ribut," cetus Andin.


"Ributnya nanti sehabis pulang makan, boleh Mama lanjutan kembali' sekarang kita makan dulu aku laper sudah gak sabar menunggu," suara Andin begitu memelas membuat keduanya menatap tajam kearah Andin.


"Lihatlah Pah, kamu membela dia! tapi kamu mengabaikan anak kandung mu sendiri?! keterlaluan kamu Pah," tuding Rikha dengan senyum mengejek.


Andin terkejutnya atas pengakuan Mamanya bahwa Kiara bukan anak kandungnya Joni? lalu anak dari siapa? jadi aku tidak sedarah? maksudnya Mama mengatakan Kiara bukan anak Papa lalu....ah begitu banyaknya pertanyaan yang membuat Andin merasa bingung.


"Jadi Kiara anak siapa? anak Mama dan papa nya siapa Mah?" tanya Andin dengan mengguncangkan tubuhnya Rikha untuk meminta penjelasan.


Rikha tak bergeming masih berdiri dengan berurai air matanya entah apa yang di pikirkan nya.


Andin merasa tidak puas ia pun bertanya kepada Joni.

__ADS_1


"Pah jelaskan padaku, aku juga berhak tahu siapa Papa kandungnya Kiara?" pinta Andin dengan menatap wajah Joni.


"Papa tidak berhak untuk menjawabnya? kamu bisa tanyakan pada Mama mu?" jelas Joni sesekali dirinya mengehela nafas berat.


"Andin bukannya kamu lapar? mau makan," tawar Rikha untuk mengalihkan pembicaraan dan di anggukan dari Andin.


Mereka pun akhirnya pergi ke restoran untuk makan malam yang tertunda, karena insiden kecil.


****


Di Rumah sakit.


David Xander duduk dekat ranjangnya Kiara sedangkan Rita, Devina dan Robinson duduk di di sofa yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


"Vid? rencana kalian berdua untuk melangsungkan pernikahan nya kapan?" tanya Rita pada David dan Kiara.


Keduanya saling menatap ke arah Rita.


"Kok malah liatin Mama?" sela Rita yang duduk di sampingnya Robinson.


"Cieee?? kompakan jawabanya?" ledek Devina dengan mengedipkan matanya untuk mengoda kakak' nya dan Kiara.


Kiara tersenyum malu dan memalingkan wajahnya karena sikap Devina yang selalu mengejeknya.


"Jodoh tak kan pernah bohong, mereka sudah di takdir kan Tuhan' jadi Mama gak sabar pengen punya cucu dari mereka?" goda Rita dengan antusias membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan menjadi Nenek.


"Uhuk...Uhuk..." David tersentak ketika dirinya di goda adik dan Mamanya.


"Bisa diam ngak! suka meledek anaknya terus?! tuh kasian Kiara? wajahnya memerah seperti kepiting rebus." sahut David menunjuk pada Kiara dengan dagunya.


"Ihh, Kakak. Tuh liat wajahnya Kakak juga merah merona, sok-sokan menuduh Kak Kiara," tuduh Devina sontak membuat David malu setengah mati. Dirinya yang sengaja mengatakan itu agar dirinya terbebas dari ledekan keluarganya.


"Anak kecil sok tau, sok bijak," David mengacak rambut Devina yang membuat Devina mendengus kesal.

__ADS_1


"Kakak! lihat poni aku berantakan!" Devina menghentakkan kakinya di atas lantai marmer.


Semuanya tertawa lepas atas sikap Devina yang ke kanak-kanakan.


Kiara meringis kesakitan karena lukanya masih basah. Rita yang melihat ekspresi wajah Kiara ia pun melangkah menuju Kiara, membuat Robinson merasa heran melihat Rita yang terburu-buru mendekati Kiara.


"Sayang? kenapa? sakit ya, Mama bilang apa jangan banyak bergerak dulu?" sahut Rita yang melihat jahitan di perutnya Kiara.


Kiara hanya tersenyum simpul melihat sikap Rita yang begitu perhatian terhadap nya, berbanding jauh dengan sikap Mama kandungnya sendiri. Tak terasa Kiara menitikan air matanya.


Rita yang melihat wajah Kiara yang berubah sendu, membuat dirinya bertanya-tanya ada apa dengan Kiara. Rita pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Kamu kenapa Sayang? kok malah nangis?" tanya Rita dengan mengusap butiran bening di pipi mulus Kiara.


Kiara menggeleng cepat dan menangis sesegukan, semua orang yang berada di ruang tersebut menatap ke arah Kiara dan Rita.


David Xander yang duduk di sampingnya merasa terkejut, dirinya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Diraihnya tangan Kiara ia mencoba untuk menenangkan calon istrinya.


"Benar kata Mama kamu kenapa menangis?" balas David. Bukannya diam Kiara justru semakin sesegukan, Rita memeluk Kiara dengan eratnya.


"Cerita sama Mama ada apa?" ujar Rita yang terus mengelus punggung Kiara.


Kiara mengusap air matanya dan menatap ke arah Rita dengan senyum yang di paksakan.


Kiara menghela nafasnya dan mengeluarkannya lewat mulut. Dirinya sudah merasa tenang akhirnya ia mau menjawab pertanyaan Rita.


"Kia, kangen sama Mama?" ucapnya singkat dengan seulas senyum.


"Oh iya, Mama lupa mau mengabari Mama dan Papa mu?" Rita menepuk-nepuk jidatnya.


"Sudah Mah, tadi aku sudah menelponnya tapi gak di angkat!" Devina menimpalinya dari arah belakang.


Kiara tersenyum kecut, ia tahu bahwa keluarganya tidak akan pernah perduli dengan dirinya. Ia teringat saat dirinya tertabrak mobil dan masuk rumah sakit, tak satu orang pun yang menemaninya di rumah sakit.

__ADS_1


Kiara di rumah sakit hanya berteman kesunyian malam yang selalu setia menemaninya. Jadi jangan harap hari ini mereka juga akan datang untuk melihat keadaan dirinya mustahil bagi Kiara.


__ADS_2