Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Missi Yang Gagal


__ADS_3

Saat aku melihat ke arah belakang sontak aku terkejut bukan main ada beberapa pengendara motor dengan berpakaian serba hitam sedang mengikuti mobil kami dan mengacungkan pistol ke udara.


'Ya Tuhan selamatkan kami dari para penjahat yang mau merampok ku'


Tak henti-hentinya mulutku komat-kamit agar selamat dari para penjahat. Masih dalam ketakutan yang amat sangat.


Para pengendara motor itu semakin mendekat dan mengedor-gedor kaca mobil dan mengacungkan pistol.


"Berhenti!"


^^^"Woy! berhenti! teriaknya yang membuat aku semakin panik dan takut.^^^


Pengendara motor yang lainnya sudah menghadang kami seketika Pak Jordi mengerem mendadak.


"Pak gimana ini?" tanyaku dengan gugup dan panik tubuh ku mulai bergetar menahan rasa takut. Apalagi para bengalnya mendekati ku dan mengedor pintu mobil.


Karena pintu mobil tak kunjung juga aku bukakan akhirnya dia memecahkan pintunya dengan sebuah batu yang ia ambil dari pinggir jalan.


Kaca mobilnya pecah dan sebagian pecahan beling kaca mengenai jidat ku.


"Aw.... " aku meringis kesakitan dan mengusap jidatku.


Pak Jordi terkejut melihat jidatku terkena pecahan beling kaca.


"Non, ngak apa-apa?" tanyanya dengan wajah bingung harus berbuat apa.


"Aku tidak apa-apa Pak, tapi ini bagaimana cara agar kita bisa kabur dari kejaran penjahat itu?"


"Buka! kalau tidak mau keluar jangan salahkan saya akan melakukan kekerasan terhadap kalian!" bentaknya membuat nyaliku menciut seketika.

__ADS_1


Mana mungkin kami berdua bisa melawan para bengal yang anggotanya lebih banyak dari kita, mana badannya gede-gede sedangkan aku dan Pak Jordi badannya imut-imut jelas kami akan kalah secara badan ku lebih kecil.


Akhirnya aku keluar dari mobil tangan di tarik paksa oleh penjahatnya.


"Serahkan isi amplop coklat itu pada kami! maka kalian berdua boleh pergi! kami tidak akan menyakiti kalian asalkan mau menuruti perintah saya!" Ucap salah satu dari mereka yang berkepala plontos dan juga seram wajahnya yang di tumbuhi bebatuan membuat aku bergidik ngeri.


"Saya tidak membawa apa-apa? jadi kalian salah orang!" aku menjawabnya dengan tubuh bergetar.


"Bulsit! kalian pikir kami bodoh! hah! cepat serahkan kepada kami Nona? jangan membuat saya semakin marah," geramnya lagi dengan memasang wajah garang.


"Non, lari dari sini biar saya yang menghadapi mereka semua? aman kan uang tersebut," bisik Pak Jordi dan aku anggukan kepala.


Pak Jordi menantang para begal untuk melawannya tapi aku tidak yakin apakah Pak Jordi bisa melawan mereka semua.


Kini pertarungan antara mereka semakin sengit saling memukul satu sama lainnya aku menjadi bingung harus berbuat apa.


"Nona! lari! cepat!" teriak pak Jordi agar aku menyelamatkan diri dari mereka.


"Woy! kejar dia! jangan sampai lolos!" teriak salah satu temannya agar cepat mengejarku.


Aku berlari sekuat mungkin dan masih memegang tas selempang yang berisi segepok uang. Dengan nafas engos-engosan aku terus berusaha lari entah sekarang aku ada dimana.


Aku masih mendengar teriakan dari arah belakang agar aku berhenti.


"Woy! berhenti!" teriakannya semakin kenceng dan semakin mendekat. Namun aku sekuat tenaga berusaha lari agar tidak tertangkap.


Aku terus berlari menuju gang kompleks namun si*l, aku terjebak di gang tersebut yang ternyata buntu entah apa yang akan terjadi dengan ku, akankah aku berakhir di tangan para penjahat.


"Hahaha! mau lari kemana manis?" ucapnya dengan suara mengelegar membuat aku semakin takut.

__ADS_1


"Mau apa kalian hah!" bentak ku yang mulai berkaca-kaca namun hatiku terus berdo'a meminta pertolongan semoga ada yang menolongku.


ketiga orang tersebut melangkah menuju ke arah ku dengan memainkan sebuah pisau yang tajam dan mengkilat membuat mataku silau oleh sinarnya yang terkena sinar matahari.


"Kalau mau selamat serahkan tas anda Nona?!" tangannya mulai menarik paksa tas selempang ku yang masih ku genggam erat di tangan ku.


Penjahat tersebut masih menarik paksa tas selempang ku dan aku pun tak kalah gesitnya untuk mempertahankan tasku.


"Lepaskan tanganmu! kalau tidak pisau ini akan mendarat di perut mu!" geramnya lagi dengan tatapan matanya yang melotot sempurna.


Jelas aku kalah mereka berjumlah tiga orang sedangkan aku hanya seorang diri. Kini mereka semakin kejam menarik tanganku membuat tangan ku sakit yang satunya menarik rambutku dengan kasar, aku masih keuhkeuh mempertahankan tasku hingga sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus ku sehingga tubuhku terjerembab ke samping tamparannya yang keras membuat ujung bibirku berdarah.


Mereka berhasil mengambil uang yang ada di dalam tas ku.


"Nona coba saja kalau kamu nurut dengan perintah kami, maka kamu tidak akan luka seperti itu!" tunjuknya pada ku dan pergi meninggalkan aku yang kesakitan.


Aku mencari sesuatu dengan celingukan mencari benda yang bisa membantu aku merebut tas itu kembali, akhirnya pandanganku tertuju pada sebuah kayu yang tergeletak di pinggir, dengan cepat aku ambil sepotong kayu tersebut.


Aku berlari mengejar para penjahat tersebut dan meneriakinya dengan lantang.


"Hey! kembalikan uang ku, itu bukan milik kalian, carilah uang yang halal!" teriakku dengan berjalan setengah berlari.


"Itu cewek sok jago! dia pikir bisa melawan kita semua?" ejeknya dan mereka tertawa lepas.


Akhirnya dari salah satu dari mereka meringis kesakitan karena kakinya aku pukul dengan kayu yang aku bawa.


"Cewek si*l! nih rasakan!" geram lelaki yang badanya agak gembul ia melangkahkan kakinya menuju ke arah ku dengan tangan memegang sebilah pisau dan....


"Aw.....!! aku menjerit ketika sebuah pisau mendarat di perutku. Ketiga penjahat tersebut berlari meninggalkan aku yang kini bersimbah darah.

__ADS_1


"Tolong!" ucapku lirih dan kedua mataku berlahan mulai gelap.


__ADS_2