
Keluarga baruku mengantarkan aku pulang. sesampainya dirumah aku langsung diberondong pertanyaan yang membuat aku pusing tujuh keliling, yang satu masih gedek! Ditambah lagi pertanyaan dari Nenek, Kakek dan Papa.
Papa terkejut bukan main dikala melihat Mama Rikhe dan Papa Bimo yang keluar dari mobil mereka memang sengaja keluar dari mobil belakangan.
"Rikha!" Teriak Papa dengan menatapku secara bergantian. Aku hanya tersenyum simpul melihat ekspresi wajah Papa yang menegang.
"Maaf, anda salah orang." Kata Rikhe dengan senyum tipis
"Papa? ini Tante Rikhe adiknya Mama," potongku yang membuat Papa mengerutkan keningnya heran. Semenjak kenal dengan Rikha ia tak pernah melihat Rikhe di rumahnya memang selama itu Rikhe tinggal bersama neneknya di Surabaya, jelas Arkana tidak mengenalnya.
Setelah semua tamu di persilahkan masuk maka Mama Rikhe menjelaskan sedetail-detailnya tentang aku yang beberapa hari tinggal bersamanya dan menceritakan tentang Reyhan yang babak belur dipukuli David yang cemburu. Membuat Papa geleng-geleng kepala.
Manusia salju hanya diam sesekali ia mencuri pandang padaku membuat aku semakin enek! entahlah hati ini sudah tak punya rasa terhadap mas David mungkin dia sudah terlalu menyakiti hati ini. Aku yang di perlakukan seperti itu sangat! sangat! risih. Aku berbisik pada nenek.
"Nek, aku mau pipis! sudah gak tahan lagi," Bohongku agar diizinkan masuk ke kamar, kalau tidak begitu pasti nenek tidak akan memberi aku izin untuk pergi.
"Mau kemana?" tanya manusia salju.
"Mau! kekamar mandi mau ikut!" ketusku.
"Sabar kak, nanti kalau sudah halal boleh kok. Mau ngapain juga dikamar mandi," celetuk Reyhan yang membuat Kiara menatap tajam kearah Reyhan kedua matanya yang membulat sempurna.
"Kalian semua nyebelin!" ucapku dengan menghentakan kakiku di lantai dan pergi berlalu menuju kamar ku dan aku sengaja menutup pintu kamar dengan kuat.
Masih terdengar gelak tawa dari mereka yang menertawakan ku, sungguh menyebalkan sekali mereka serempak membuly aku. Inginku menangis sekencang-kencangnya namun air mataku sudah mengering.
Ku rebahkan tubuhku yang lelah hayati di kasurku yang sudah satu Minggu aku tinggalkan. Ku pejamkan mata ini, namun enggan untuk terpejam kata orang kalau kita tak bisa memejamkan mata maka kita harus mencari posisi yang enak.
Semua posisi sudah aku lakukan tetapi sama saja tidak dapat memejamkan mataku, harapan aku hanya satu lagi yaitu dengan posisi kodok tengkurep. Tanpa berpikir panjang lagi aku mengantikan posisi yang semula terlentang kini menjadi tengkurap.
Tubuhku mulai merasakan nyaman. Dengan posisi tengkurap, namun hampir tengkurap ada-ada saja yang masuk dan menggangu kenyamanan ku, siapa lagi kalau bukan opa Korean ke si Reyhan absurd.
"Woy! calon manten! tidur posisi kodok tengkurap bisa-bisa suamimu jadi eilfil tuh! lihat istrinya yang tidurnya begono," kekehnya dengan membaringkan tubuhnya di samping ku.
"Rey?! kamu ngapain masuk kamar orang tanpa ketuk pintu dulu! gak sopan tau," ketusku.
"Hehehe, maaf ya Kakak ku Sayang? tadinya sih aku mau ketuk pintu dulu tetapi pas mau ketuk pintu eh, pintunya terbuka sendiri?" kelitnya.
"Modus," ujarku dengan kesal. Lagi enak-enakan rebahan di ganggu Reyhan membuat mood ku hilang seketika.
__ADS_1
"Kamarnya gede banget, inimah kamar apa lapangan sepak bola?" Reyhan berdecak kagum atas apa yang ia lihat.
"Ternyata Papa mu lebih kaya di banding mama aku? hebat!" pujinya dengan melempar senyum jenakanya.
"Yang kaya Papa aku? bukan aku, kalau bisa memilih lebih baik aku jadi orang biasa saja. Jadi orang kaya itu tidak gampang."
Jawaban Kiara membuat Reyhan mengerenyit heran.
"Sebagian orang menginginkan kaya, kamu malah ingin menjadi orang biasa dasar manusia aneh," timpal Reyhan yang di tanggapi dingin oleh Kiara.
"Hidup manusia itu berbeda-beda Rey?! untuk apa hidup serba berkecukupan tetapi batin kita tersiksa, apa-apa harus pake telunjuk."
"Maksudnya dengan telunjuk apa?" tanya Reyhan yang tak mengerti dengan perkataan Kiara.
"Ish! kayak gitu aja gak tau!"
"Kalau aku tau? ngapain juga nanya kamu," geram Reyhan.
"Suka merintah sama Art Reyhan?! masih gak ngerti juga! kalau masih ngak ngerti juga aku jitak!" gerutuknya dengan wajah cemberut.
"Hemm," Reyhan mangut-mangut tanda ia mengerti.
"Mau ngapain kamu kekamar aku."
"Mau?"
"Au," jawab Reyhan dengan mengangkat kedua bahunya.
"Cepetan! bangun."
Reyhan menarik lengan Kiara agar bangun dari tidurnya.
Dengan malas Kiara beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju ruang tamu yang dimana semua orang sedang menunggunya.
"Kayaknya kamu di suruh cepetan kawin deh," bisik Reyhan yang mendapatkan tatapan tajam dari Kiara.
"Berani Lo ngomong begitu lagi aku kasih ini." tunjuk Kiara pada tangannya yang sudah mengepal bulat dan sempurna.
"Hehehe, aku becanda. Jangan diambil hati ah, gak enak. Lihat noh! ada mama mertuamu juga disini," tutur Reyhan.
__ADS_1
"APA!" teriaknya pelan membuat Reyhan menahan tawa atas keterkejutan Kiara yang melihat kedatangan keluarga Xander.
'kenapa mendadak jadi panas dingin deh. Pasti ada udang di balik bakwan, aku mirip maling yang mau di sidang saja'
"Ara? sini duduk dekat Nenek," pinta Dewi seraya tersenyum manis padanya.
Kiara tersenyum dan mengangguk pelan.
'Mau ngomongin soal apa sih? sampai-sampai aku juga harus ikut dalam obrolan ini? jangan bilang kalau mau membahas tentang pernikahan, batin Kiara.
"Nah, sekarang sudah ada Kiara jadi lebih enaknya kalian tanya langsung sama anaknya," kata Papa dengan senyum mengembang.
"Kia? kami datang ke sini untuk membicarakan tentang pernikahan kalian yang akan di laksanakan bulan depan, gimana kamu setuju?" tanya Rita dengan senyum berbinar.
'tuh kan, benar dugaan ku pasti manusia planet ini yang sudah membujuk orang tuanya untuk mempercepat pernikahan ini, gak ada angin dak ada hujan mau main nikahin anak orang saja, kesal Kiara.
"Gimana mau? kok malah bengong sih," ujar Reyhan.
Semua orang menatap Kiara mereka menunggu jawaban dari Kiara yang belum juga dijawabnya.
Kiara rasanya ingin menolaknya namun ia takut di cap anak durhaka, terutama Dewi yang begitu menyayangi dirinya dan mengharapkan dia menikah dengan pilihan mereka.
Kiara menghela nafasnya dan tersenyum tipis menatap ke arah keluarganya yang menunggu jawabannya, kini Kiara dilema harus memberi jawaban yang tepat bila tidak bisa-bisa Neneknya shock tingkat dewa.
"Bagaimana Ra?" tanya Dewi.
"Iya Kiara mau, tapi...." Kiara menjeda ucapannya membuat yang lain menatap heran.
"Tapi apa, katakan saja," pinta Robinson dengan senyum mengembang padahal ia sudah tegang dengan ucapan yang di gantung Kiara barusan.
"Ini tentang wali Kiara siapa," ucapnya dengan tegas.
"Jelas Papa yang akan menjadi wali nikah kamu," tutur Arkana yang membuat Kiara mengeleng cepat.
"Bukan! bukan Papa, karena aku anak dari luar nikah, jadi otomatis Papa gak ada hak untuk menjadi wali nikahnya aku nanti."
Jawaban dari Kiara membuat semua orang terdiam sejenak, entah apa yang mereka pikirkan.
"Lalu? siapa yang akan menjadi walinya?" tanya Rikhe dengan wajah bingung.
__ADS_1
Kiara tersenyum kecut menanggapi pertanyaan dari tantenya sekaligus mama angkat nya.
"Mama aku sendiri," pungkasnya lagi.