
Dua bulan kemudian.
Kiara keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang menutupi tubuh rampingnya sekaligus mulai melebar.
Wajahnya mulai panik saat ia mengenakan cd-nya dan mulai sempit begitu juga dengan bra yang ia kenakan.
"Mas. Bangun." Kiara menguncangkan tubuh David dengan kuat.
David mengeliat dan mengucek kedua matanya dengan wajah kusut.
"Ada apa?" tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.
"Ini." Kiara menunjukan bra dan cd-nya pada David.
David mengerutkan keningnya heran melihat kelakuan istrinya, bukannya bangun tidur di sambut dengan kiss, lah ini dikasih dalaman maksudnya Kiara apa?
"Maksudnya, Mas yang memakainya?" ulang David karena keadaannya masih oleng nyawanya belum penuh terkumpul dengan sempurna.
"Ihhh. Mas. Maksud aku? semua dalaman aku pada sempit semua Mas?!" geramnya dengan mengerucutkan bibirnya yang tipis namun seksi. Rasanya aku ingin mencicipinya.
"Kok, bisa, Ki?"
"Mana aku tau?! tapi? kayaknya ada yang beda sama aku," katanya dengan lirih.
"Mas." Serunya lagi dengan menundukkan kepalanya membuat aku menatapnya heran wajahnya mulai redup. Ku angkat wajahnya yang menunduk aku menatapnya dengan senyum manis padanya.
"Apa Emm, coba katakan sama Mas," pintaku dengan merentangan kedua tanganku untuk memeluknya. Kiara menyandarkan kepalanya di dada ku sesekali ia menghirup aroma tubuhku.
"Kamu pake parfum apa sih Mas. Wangi banget." Kedua matanya berbinar bahagia dan terus menghirup aroma tubuhku.
Hah! tubuhku bau asem gini dibilang wangi? kan semalam aku pulang dari kantor langsung tidur belum sempat mandi. Apa hidungnya Kiara ada masalah sehingga ia tidak bisa membedakan mana yang bau kecut dan mana yang wangi.
"Sayang?! Mas ini belum mandi dari semalaman, massa dibilang wangi?"
"Seriuss Mas, aku gak bohong," ujarnya dengan nyengir kuda.
Aku semakin mempererat pelukanku Kiara sepertinya menikmatinya terbukti dengan menyelusup ke arah ketekku. Ku belai lembut rambut panjangnya Kia dan mengecup pucuk kepala Kiara.
"Tadi mau ngomong apa sama Mas."
Sebelum menjawab pertanyaan mas David aku menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan pelan.
"Mas. Kalau aku hamil gimana?" tanyaku dengan senyum aku paksakan.
__ADS_1
"Mas. Bahagia sekali bila benar kamu hamil." Ucap Mas David dengan senyum bahagia setelah mendengar perkataan ku.
"Aku gak mau hamil. Kalau aku hamil ntar kamu gak sayang sama aku karena aku jelek gendut," celetuknya membuat aku terkejut dengan jawaban yang sangat tak masuk akal.
Dia kira aku akan meninggalkan dia begitu saja? apa lagi dia beneran hamil bukankah itu anugerah yang terindah untukku dan dirinya? kenapa pemikiran Kiara begitu pendek. Hatiku bergemuruh dan mengusap wajahku dengan kasar, berusaha tenang dan menarik napas panjang sepanjang jalan Tol.
"Sayang dengarkan Mas. Mau kamu jelek, gendut, pinggang nya melebar, Mas tetap cinta dan sayang. Kamu hamil karena perbuatannya Mas." Aku menangkupkan kedua tanganku di wajahnya tersirat ketakutan yang amat dalam.
"Beneran Mas gak bohongkan?!" jawabnya dengan menyakinkan diriku. Ku anggukan kepala.
"Justru Mas akan marah dan tak akan memaafkan bila kamu tak mau mengandung anaknya Mas."
"Aku lega mendengar jawaban Mas, a-aku mau hamil," ucapnya dengan senyum lebar.
"Benarkah?!"
Kiara tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau anaknya yang kembar Mas."
"Setuju!" Aku berteriak dengan suara keras membuat Kiara menutupi kedua telinganya. Ini kesempatan ku untuk memulai olahraga ranjang mumpung masih pagi dan kebetulan juga dia hanya mengenakan handuk sebatas lutut tanpa memakai dalam lagi.
Denyutan diarea bawah perutku sedari tadi berontak ingin sekali berolah raga. Perlahan aku mulai mencium bibir tipisnya yang selalu mengoda ku terus.
"Ini semua salah kamu, sendiri yang nawarin aku untuk berolahraga? jadi jangan harap aku akan menghentikannya? lihatlah dia sudah berdiri tegak dan gak mau tidur lagi," bisiknya tepat di telinga ku dengan napas tersengal-sengal menahan sesuatu yang sesak.
Aku pasrah dengan keinginan mas David karena aku juga mau. Entahlah kenapa akhir-akhir ini aku selalu merindukan kehangatan dan sentuhannya Mas David.
"Boleh?" tanyaku lagi padanya ia pun tersenyum dan anggukan kepala. Tanpa ba-bi-bu lagi aku langsung beraksi, sekali tarikan handuk yang menutupi tubuh indahnya kini aku lemparkan ke sembarang arah, keindahan di setiap lekuk tubuhnya terpampang jelas, namun ada sedikit perubahan pada gundukan bukit kembar miliknya yang lebih besar dari biasanya buah ceri merah merona kini mulai gelap.
Ku sentuh bukit kembar miliknya dengan pelan.
"AW...." jeritnya dengan mengigit bibir bawahnya.
"Kenapa?!" tanyaku panik.
"Pelan-pelan sakit."
Aku sentuh kembali lagi untuk meneruskan perjalanan menjelajahi bukit tersebut. Dengan menyentuh secara pelan-pelan agar Kia tak merasakan sakit. Milikku sudah berada tepat di atas miliknya rudalku siap untuk memberikan kepuasan kepada Kiara.
Saat milikku masuk ia pun meringis membuat aku menghentikan aktivitas sejenak.
Arghhhh..., jeritku dalam hati. Permainan sudah ada di tengah jalan massa mau berhenti? aku bingung sendiri dibuatnya apalagi saat memegang bukit kembar miliknya ia meringis kesakitan dan rudalku masuk ia juga meringis kesakitan.
__ADS_1
"Ya sudah Mas cabut saja," jawabku lesu dan mengeluarkan rudalku yang sebentar lagi mengeluarkan lahar panas di dinding rahimnya.
"Teruskan Mas," ucapnya dengan napas tersengal-sengal.
Mendengar jawaban Kiara membuat hatiku bahagia karena junior ku tak akan kesakitan kalau dia harus bersolo karir.
"Yakin gak papa," tanyaku untuk memastikannya bahwa ia tidak akan merasa kesakitan lagi. Kiara tersenyum dan mengangguk.
Saat akan mencapai puncak kenikmatan kami berdua mengeluarkan suara indah yang saling menyebutkan namanya dan namaku. Dalam keadaaan yang masih polos Mas David mengelus perutku yang masih rata seraya mencium nya,"Cepat hadir di sini ya' Nak. Papa dan Mama akan menunggu kelahiran kamu Sayang?" ucapan Mas David membuat hatiku terenyuh, Mas David begitu mendambakan seorang anak. Betapa egoisnya diriku yang tak mau mengandung buah cinta kami.
"Maaf kan aku Mas, a-aku egois." Tak terasa air mataku tumpah begitu saja membasahi kedua pipiku.
"Maaf untuk apa?"
Aku mendongak ke atas dan menatap wajah tampan lelaki yang telah membuat aku jatuh cinta pada nya.
"Tentang ucapan ku tadi."
"Jangan di masukan ke hati." Mas David menyusut air mataku dengan kedua tangannya dan mencium bibirku lagi dengan lembut.
"Cepetan mandi, aku mau belanja," ujarnya dengan senyum.
Istriku memang aneh, barusan nangis, sekarang merengek manja.
"Ya sudah Mas mandi duluan," jawabku dengan senyum dan beranjak berdiri untuk menuju kamar mandi.
"Mas?!" panggilnya dengan suara manja.
Langkahku terhenti saat Kiara memanggilku
dan menoleh ke belakang.
"Ikut? mandinya barengan, gendong?!" pintanya dengan mengiba.
Wah, ceritanya Dewi Fortuna sedang memihakku jarang-jarang Kiara mengajakku mandi bareng semenjak menikah aku hanya satu kali saja mandi dengan nya, itupun aku yang memaksanya lah ini dia sendiri yang nawarin aku?
Aku mendekatinya dengan senyum berbinar bahagia, saat aku akan mengendongnya ia berkata.
"Mas, gendongnya pake handuknya? aku malu kalau gak pake apa-apa," ucapnya dengan menutupi tubuhnya dengan handuk yang sudah aku berikan padanya.
"Ngapain juga harus malu?! aku sudah semua melihat bentuk tubuh ideal kamu Sayang, dan kamu juga sudah melihat semuanya dari Mas."
"Tetep aja aku malu."
__ADS_1
Sok-sokan malu padahal mau, ngomong mau aja harus bohong. Dasar wanita. Susah ditebak.