
Kami berdua menuruni anak tangga untuk sarapan pagi, di meja makan sudah ada keluarga Xander dan Arkana.
"Lama banget sih! kita sudah lama menunggu? untuk sarapan," ujar Reyhan dengan wajah kesalnya.
Iya benar memang Reyhan orangnya seperti anak kecil bila sudah bangun tidur maka ia harus langsung makan. Aku tau dari mama Rikhe beliau yang sudah memberitahu ku segalanya.
"Ngapian juga kamu masih disini, bukannya ikut pulang bareng Mama," sahut Kiara tanpa melihat ke arah David.
"Udah jangan banyak bicara ntar nambah laper. Ngapian juga harus nunguin aku segala," jawab Kiara ketus.
"Hus! ini meja makan pamali harus ribut di depan makanan," Nenek menengahi ketegangan antara cucunya.
"Tuh, dengerin apa kata Nenek," sahut Kiara.
"Iss, dasar manten baru, kalian berdua asyik-asyikan bermesraan sedangkan kami semua harus kelaparan menunggu kalian keluar dari kamar." ejek Reyhan membuat Kiara membulatkan kedua bola matanya malas.
"Mesra-mesraan gundul mu! semalam aku nggak bisa tidur karena takut geledek. Lagian Nenek aku pangilin diam saja," sungutnya.
"Nenek dengar kok. Kan udah ada suami mu? kenapa harus minta tolong kepada Nenek," ucap Dewi dengan senyum.
"Masa kita harus mengganggu pengantin baru? gak mungkin dong." Mama Rita membenarkan jawaban dari Nenek. Penghuni meja makan pun riuh suara tawa, yang sedang mengejekku, eh tepatnya kami berdua.
Kiara tersenyum kecut mendengarkan ejekan dari mereka semua.
"Sudah, ayok kita makan dulu bukannya kalian semua sudah lapar? jangan ledekin Kiara dan David. Kasian mereka lihat wajahnya memerah seperti kepiting rebus." Wijaya menimpalinya dengan mulai menuangkan nasi kedalam piringnya. Semuanya pun mengikutinya untuk mengambil sarapannya sendiri-sendiri acara makan pun hikmat hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.
****
"Nempel terus?!" celetuk Reyhan yang melihat Kiara berjalan menuju kamar yang di ikuti oleh David.
"Iri bilang Bos." kelakarnya dengan menyungingkan senyum manis.
"Makanya cepetan kawin biar gak ngiri! biar bisa cepet pecah telor ceplok hahaha," sambungnya dengan gelak tawa. Sedang David hanya mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal, bisa-bisanya Kiara berkata seperti itu padahal kenyataannya David di anggurin semalaman.
Reyhan yang kalah telak akhirnya ia pasrah dengan ucapan dari Kiara.
"Cariin dong, aku sudah nyari kemana-mana tetapi belum ada yang nyangkut," jawab Reyhan dengan lesu.
"Emang kamu mau, aku yang mencarikan nya?" sahut Kiara yang di anggukan oleh Reyhan.
"Tuh." Kiara menunjuk ke arah Devina dengan dagunya membuat keduanya terkejut dan membulatkan matanya membulat sempurna.
__ADS_1
"Kakak." Teriak Devina dengan malu-malu.
Sepertinya ipar ku ini menyukai Reyhan bisa terlihat dari cara dia menatapnya, sering senyum-senyum sendiri.
"Mas. Kamu setuju nggak kalau Devina Menikah dengan Rey?!" tanya Kiara dengan senyum mengembang.
"G-gak papa kok, asal mereka berdua saling mencintai aku akan memberikan restu untuk Meraka," jawab David membuat Kiara terkejut dengan jawaban David.
Kiara menyangka bahwa David akan menolaknya namun ia salah.
"Selamat ya, kalian berdua sudah mendapatkan lampu hijau dari Mas David," sorak Kiara yang memeluk Devina.
"Ihh. Apaan sih kalian? aku dan Rey gak ada hubungan apa-apa?" kelitnya.
"Oh. Gak ada apa-apanya? ya udah kalau begitu Rey. Aku punya temen yang cuantik banget! pasti kamu gak bakalan nolak," ucapku dengan serius karena ingin melihat reaksinya Devina, apa dia masih gak mau mengakuinya?
"Kalian nyebelin banget! gak tau apa kalau aku...?" Devina menjeda ucapannya seakan-akan tidak sanggup lagi untuk meneruskan ucapan nya.
"Aku apa?" desak Kiara dengan senyum mengoda supaya Devina mengakuinya.
"Aku menyukainya." Sahutnya sambil berlari menuju pintu keluar.
"Hahaha...," kami bertiga pun tertawa lepas atas kelakuan Devina ngomong suka aja kok repot.
"Sip!" Reyhan mengacungkan jempolnya ke atas.
Reyhan pun berlari menghampiri Devina yang pergi keluar entah kemana.
"Ayok?!" ajak David dengan menariknya menuju kamar.
"Mau ngapain?!" tanya Kiara penuh selidik.
David membisikan sesuatu pada Kiara.
"APA."
"Ssst, jangan teriak-teriak. Ntar yang lain pada denger."
"Kamu pikir aku mau?!"
David tersenyum dan mengangguk penuh percaya diri dengan apa yang ia bisikan tadi.
__ADS_1
"Jangan harap! Dan tak akan pernah aku memberikan sesuatu yang berharga hanya untuk lelaki pecundang macam kamu Mas." jawab Kiara pelan namun penuh penekanan.
"Tentu aku berharap karena kamu sudah sah menjadi istrinya David Xander. Dosa loh! kalau hak suami tak diberikannya kepadaku."
"Dosa itu?! kalau suami kita baik. Gak pernah boong? lah ini, kenyataannya berbalik. Wajar dong aku gak mau, belum siap memberikannya begitu saja? apalagi secara cuma-cuma." Kiara tersenyum sinis sebenarnya ia tidak tega melihatnya, tetapi ini semua atas kesalahannya yang tak mau jujur kepadanya.
"Kia sini?" Mama Rita melambaikan tangannya untuk memanggil Kiara yang sedang berjalan menuju kamar nya.
Kiara menghentikan langkahnya dan membalikan badannya ke belakang.
"Iya Mah," Kiara berjalan menuju Rita yang duduk bersama keluarganya.
"Ada apa Mah, sepertinya ada yang mau di bicarakan?" tanya Kiara setelah duduk di sampingnya Rita.
Rita menatap Dewi dengan wajah bingung.
Dewi hanya tersenyum mengangguk.
"Tante gak papa kok,"ucapnya dengan nada sendu membuat Kiara menatap heran kearah Rita dan Dewi.
"Ada apa dengan Nenek dan Mama?" tanya Kiara yang semakin bingung.
"Jangan membuat kami menjadi tambah bingung dengan sikap Mama dan Nenek? katakanlah bila ada yang harus di bicarakan," pinta David dengan senyum dan duduk di sampingnya Kiara.
Rita menatap Dewi dan Arkana yang di anggukan oleh mereka.
"Begini Kiara? Mama dan Papa mau mengajak kamu untuk tinggal bersama kami. Apa kamu mau?!" tanya Rita dengan senyum.
"Mah? maaf untuk sementara waktu Kia mau tinggal di sini dulu, Mama gak keberatan kan?" jawab Kiara dengan suara lirih. Dirinya berharap agar Rita mengizinkan nya untuk tinggal bersama neneknya walau beberapa hari.
"Vid, bagaimana?" tanya Rita pada David.
Sebenarnya David ingin memboyong Kiara hati ini kerumahnya, namun setelah mendengar jawaban Kiara akhirnya ia mengalah untuk mengambil hati Kiara.
"Hay juniorku kamu harus berpuasa berapa hari. Bila dipaksakan malah kamu gak mendapatkan jatah selamanya," gumam David dengan melirik sekilas ke bawah perutnya.
Kasian banget deh, David harus menahan diri. Padahal ia sudah lama menunggu momen romantis berdua dengan Kiara. Nasibnya ternyata tidak berpihak pada David andaikan dia jujur dari awal mungkin sekarang dia sudah ceplok telor sama Kiara.😁
"Kamu kenapa sih mukanya bete banget," Robinson bertanya pada David yang sedari tadi memperhatikan anaknya yang bingung entah apa yang di pikirkan David.
David hanya menggangkat bahunya dengan senyum.
__ADS_1
Robinson paham dengan apa yang terjadi pada anaknya, dirinya menduga kalau David belum mendapatkan jatah dari Kiara.