Menikahi Pria Buta

Menikahi Pria Buta
Kemenangan David


__ADS_3

David mencari sesuatu yang bisa membuat Kiara nyaman, dirinya tak tega melihat orang yang di cintai nya merasa tidak nyaman dengan keadaannya yang sekarang.


BRUK...


"Kalau jalan hati-hati Bro. Kenapa sih lo," tanya Andrew yang merasa heran melihat David dengan wajah bingung.


"Soryy. Gue lagi bingung," jawab David dengan menyentak nafas berat.


"Bingung kenapa, coba cerita sama gue," pinta Andrew.


"Lo. Lihat Kiara kan." yang di anggukan oleh Andrew.


"Kenapa sama Kiara? kayaknya dia kepanasan gitu, padahal udara di dalam sejuk ada ac-nya," jawab Andrew dengan menggerutkan keningnya.


Tak lama Andrew tersenyum sekarang ia mengerti kenapa Kiara merasa kepanasan.


"Bukannya kasih solusinya, malah elo. Senyum sendiri." kesal David yang melihat Andrew senyum.


"Bro, sepertinya ada yang sedang bermain-main dengan mu?" jawab Andrew dengan menatap kearah Kiara yang mulai gelisah.


"Maksudnya apa?"


Sebelum menjawab pertanyaan dari David, Andrew menarik napas dalam-dalam.


"Sebelum Kiara merasa kepanasan apakah dia habis minum atau makan sesuatu?"


"Tadi Kiara minum jus yang sudah di berikan oleh pelayanan hotel ini. Tepatnya sih buat gue. Namun gue kasih sama Kiara karena ia haus." David menjelaskan kronologi sebelum kejadian itu.


"Memangnya kenapa dengan minuman tersebut," desak David.


"Dalam minuman Kiara itu sudah diberi obat sialan. Yang dimana orang tersebut menginginkan sentuhan lembut dan belaian," cicit Andrew.


"Maksud Lo, obat perangs*ng!" kaget David dengan melotot.


"Betul." Andrew memberikan kedua jempolnya untuk membenarkan jawaban dari David.


Kiara yang menunggu David semakin gelisah karena sampai saat ini David belum juga datang menghampirinya.


Mas David kemana, aku sudah gak kuat lagi menahan panas di sekujur tubuhku, Argh...kenapa otakku jadi traveling ke mana-mana. Kiara mengacak rambutnya ia sudah tak perduli dengan orang-orang yang sedang menatapnya dengan tatapan heran.

__ADS_1


Kiara mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya.


Itu Mas David ada disana, gumamnya dengan gontai menuju tempat David yang sedang bicara dengan Andrew.


"Mas." Kiara memeluknya dari belakang dengan eratnya.


David terkejut bukan main karena sikap Kiara yang mendadak agresif, biasanya juga bila disentuh harus ada acara menolakan. Lah ini tiba-tiba main nyosor saja. Napas Kiara semakin memburu tangannya mulai nakal menelusuri roti sobek milik David.


"Bro elo harus bantu Kiara untuk terlepas dari obat sialan itu," titahnya pada David.


"Baiklah kalau begitu, gue pulang." kata David dengan senyum.


"Ngapain pulang. Tuntaskan saja malam ini di kamar gue, lagian gue sudah membayarnya," Andrew memberi penawaran agar David menerimanya.


"Kayak gue gak mampu saja untuk membayarnya, carikan gue kamar yang lain," ujar David.


"Sudah Bro jangan kebanyakan ngomong. Kasian istri lo, yang butuh sentuhan lembut dari elo," Andrew balik mengejeknya dengan tawa renyahnya.


"Mas a-aku gak kuat. A-aku mau," renggeknya dengan berkaca-kaca Kiara sudah tak perduli dengan adanya Andrew. Masa bodo dengan gengsi yang penting dirinya bebas dari pengaruh obat perangs*ng yang dosisnya tinggi.


"Lo, gak dengar renggekan dari istri lo? sudah sana biar gue yang bayar, jangan menolaknya itung-itung kado pernikahan kalian yang belum sempat gue kasih. Lagian kamarnya masih bersih belum gue pake," kata Andrew dengan mengangkat dua alisnya.


"Gue pamit mau gabung sama tamu lainnya. Selamat menikmati momen-momen belah duren Bro." Andrew menepuk punggung David memberikan semangat.


David menatap Andrew sampai hilang dari pandangannya. Jujur David malam ini sangat-sangat bahagia akhirnya ia akan melepas masa perjaka nya walaupun harus dengan cara yang seperti ini.


Kiara terus meminta David agar mau membantunya untuk bebas dari pengaruh obat. Tanpa ba bi bu Davide mengendong Kiara layaknya seorang bayi.


Dari balik tembok nampak seorang wanita sedang menahan amarah yang membuncah apalagi ia melihat keromantisan David dan Kiara membuat dirinya geram.


"Sial! seharusnya aku yang menghabiskan malam ini dengan mas David bukan wanita sialan itu," umpatnya kesal dengan mengepalkan tangannya.


"Jadi? yang meminumnya bukan Mas David, melainkan dia. Brengsek! brengsek! Arghhhh...." Vanya menjerit berteriak-teriak seperti orang gila karena keinginannya untuk menghabiskan malam ini dengan David gatot alias gagal total.


Didalam kamar hotel.


David membaringkan tubuhnya dengan pelan, ditatapnya wajah Kiara yang sedang menahan sesuatu membuat dirinya merasa kasian.


"Mas. Cepatlah lakukan Mas. Aku sudah gak kuat." Kiara berkata tanpa ada rasa malu, baginya malu no sekian yang penting dirinya bebas.

__ADS_1


"Kia, sebenarnya aku ingin melakukannya dengan keadaan kamu sadar, tidak seperti ini." David berusaha menyakinkan dirinya agar bisa menahannya walaupun Kiara memaksanya agar melakukannya malam ini juga.


"Aku juga sadar Mas atas apa yang aku ucapkan. Bukankah tadi dirumah aku katakan pada mu? bahwa malam ini aku akan memberikan hak ku padamu Mas. Aku mohon lakukanlah," seru Kiara dengan wajah memohon.


"Baiklah," bisik David yang mulai menjatuhi ciuman gemasnya di wajahnya Kiara.


Kiara membalas ciuman dari David dengan suara terindahnya. Hahaha skip aja ya aduh??? bikin haredang 😃


Setelah selesai olahraga ranjang mereka berdua pun tertidur karena kelelahan atas pergulatan yang memabukkan. Kedatangan Vanya ternyata membawa berkah bagi David tetapi membawa luka lara bagi Vanya.


Kiara mengeliat karena merasa terganggu dengan adanya beban yang menindih tubuhnya.


"Aaaaaa...," teriak Kiara yang melihat keadaannya yang tidak memakai apa-apa membuat David terbangun dari tidurnya karena suara teriakan Kiara.


"Ada apa?" tanya David dengan mengucek kedua matanya yang Engan tuk membukanya.


"Mas. Kamu...."


"Iya semalam kita melakukannya itupun atas paksaan dari kamu," jawab David datar membuat Kiara terkejut mendengar perkataan David.


Kiara mengeleng cepat,"pasti kamu kan yang maksa aku? jangan bohong kamu mas."


"Ngapain juga harus berbohong. Kamu yang merengek-rengek meminta aku untuk menyentuh mu, aku sudah menolaknya namun kamu selalu memaksa ya apa boleh buat, aku turuti kemauan mu. Apa kurang, mau nambah lagi." Senyum menyeringai licik menghiasi wajah tampannya David.


"Gak mungkin dong aku yang memaksa kamu!" timpal Kiara ia merasa tak memintanya untuk melakukannya.


"Gak percaya banget. Tanya dokter Andrew kalau aku bohong. Dia sendiri yang nawarin kamarnya buat kita berduaan."


Kiara mengingat-ingat kembali ke jadian semalam, yang ia meminum jus dan tak lama kemudian ia merasakan sesuatu yang aneh.


"Bagaimana sudah ingatkah Nona?!" goda David dengan menyentil hidungnya.


Kiara tersipu malu atas ucapan dari suaminya.


"Mumpung masih pagi kita olahraga ranjang lagi bagaimana biara cepat ia tumbuh di sini." David menunjuk ke arah perutnya Kiara yang rata.


"Apaan sih Mas." Kiara menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Ayolah, sebelum pulang kita olahraga dulu," pinta David dengan ikut masuk kedalam selimut. Akhirnya Kiara pasrah dan menuruti keinginan David untuk olahraga ranjang. Suara-suara indah saling bersahutan dengan merdunya.

__ADS_1


__ADS_2