
Di kediaman Rikha.
"Mah, ayo makan dulu gimana mau sembuh? kalau makan saja susah?!" bujuk Joni dengan lembut seraya mengelus punggung tangannya.
"Mama gak mau makan Pah, mulut Mama pahit sekali?" tolaknya dengan menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, ah Mama Rikha seperti anak kecil saja yang sedang merajuk.
"Gimana gak pahit?! makan saja susah? coba makan dulu Mah, walau sedikit?!" lagi-lagi Joni membujuknya dirinya sudah kehabisan akal.
"Kenapa lagi dengan Mama, Pah. Masih gak mau makan," ucap Andin dengan mendekati Mamanya yang berbaring lemas, ia selalu mikirkan Kiara.
Rikha sudah tau bahwa Kiara masih hidup dan tinggal bersama Arkana.
Arkana membuktikan semua ucapnya yang dulu ia katakan bahwa dirinya akan membuat Rikha memohon pada nya.
Bila mengigat kejadian yang sudah bertahun-tahun lamanya membuat Rikha meneteskan air matanya, ia berpikir keras bagaimana Arkana' tau bahwa dirinya hamil bukan anaknya Joni, apakah dia mempunyai mata-mata? sehingga gerak-geriknya di ketahui oleh Arkana, dan mengapa Arkana mendadak menjadi orang kaya?
"Mama mau bertemu Kiara? Pah."
"Sabar Mah. Coba Mama bujuk Arkana agar mau mengizinkan Kiara pulang walau sebentar."
"Entahlah, dia Papa macam apa yang rela menjauhkan anak dan ibunya?" tutur Rikha dengan wajah sendu. Keadaan Rikha sangat memprihatinkan tubuhnya mulai kurus tak terawat karena yang selalu ia pikirkan Kiara terus, Rikha tak memperdulikan dirinya sendiri.
Andin yang tak tega melihat keadaan Mamanya ia berinisiatif untuk membawa Kiara pulang walau bagaimana caranya.
'Enak sekali hidup kamu Kia? tak memikirkan Mama yang saat ini sedang bersedih. Sedangkan kamu hanya menikmati kemewahan dari orang tua mu, tanpa mengabari kami! aku akan membalas perlakukan kamu' geram Andin.
"Ma? Mama punya no ponsel Om Arkana?" tanya Andin dengan mengelus punggung tangannya Rikha.
"Buat apa?!" kata Rikha.
"Aku mau menelponnya dan akan mengatakan bahwa Mama sakit, agar Kiara mau pulang," ujarnya lagi.
"Percuma saja kamu memohon pada dia! Mama sendiri yang memintanya secara baik-baik. Tetap saja tidak menginzinkan Kiara bertemu Mama?" lirihnya pelan.
"Mama jangan terlalu memikirkan semuanya' lebih baik Mama makan agar cepat sembuh dan kita bisa mendatangi rumah Arkana dan kita akan meminta izin kepada ibunya Arkana pasti beliau memberi izin," ujar Joni memberi semangat agar Rikha mau makan.
"Baiklah. Mama mau makan! agar bisa bertemu Kiara?"
__ADS_1
Andin maupun Joni merasa bahagia karena Rikha mau makan juga beberapa jurus jitu yang sudah di keluarkan oleh mereka akhirnya mempan juga. Walaupun berkali-kali Rikha menolak untuk makan. Keduanya saling melempar senyum misinya berhasil untuk membujuknya makan.
****
"Pah? Papa gak salah mau nikahin aku sama Mas David?" aku merajuk agar Papa mau menuruti keinginan ku.
"Gak dong! David pilihan yang tepat. Dia orangnya baik, ramah dan pengertian," puji Papa dengan bangga, kadang aku mikir manusia planet macam dia masih aja di puji-puji kalau ada orangnya disini pasti dia kegeeran. Gantengan juga Reyhan? kok aku mendadak inget sama dia? gimana kabarnya ya, ucap Kiara dalam hati.
"Ganteng darimana! dari Hongkong?!" gerutuku kesal gak Papa gak Nenek, Kakek sama saja nyebelin banget," pungkas ku lagi dengan menghentakan kakiku di lantai.
Arkana mengeleng dan senyum melihat kelakuan Kiara yang merajuk manja padanya.
selama ini Kiara tak pernah bersikap manja seperti saat ini biasanya dia akan menghabiskan waktu sendiri.
"Nanti kalau kamu sudah menikah Papa akan menghadiahkan sebuah mobil Lamborghini buat kamu."
"Buat apa mobil! bisa nyetir juga gak!" ketusnya, bisa-bisanya membujuk aku dengan sebuah mobil Lamborghini, udah tau aku gak bisa bawa.
"Memangnya kamu gak pernah di ajari nyetir oleh Mama mu?" tanya Papa dengan menautkan alisnya terangkat ke atas.
"Kamu yang malas, atau tidak pernah di ajarinya."
"Udah ah! jangan membahas tentang itu. Intinya Papa mau nyuap aku ya? Papa tega gak punya rasa empati padaku! Papa tega menjodohkan aku dengan lelaki buta," cetusku dengan kesal.
Papa bukannya marah, namun tersenyum manis padaku membuat aku jadi gumus-gumus dengan Papa.
"Papa tega melihat aku yang masih bocah, terus nikah terus hamil. Hua...hua...aku gak mau hamil Papa...." aku keluarkan air mata buaya agar Papa berempati sedikit padaku.
"Lebay?! soal David yang gak bisa melihat. Kita bisa bawa dia ke luar negeri untuk mencari donor gampangkan! di jaman modern ini banyak kecanggihannya," ucapnya dengan berlalu begitu saja meninggalkan aku yang masih pura-pura menangis.
Hih?! menyebalkan sekali! aku mengetuk-etuk meja dengan kuatnya membuat jariku kesakitan, aw...sakit! aku berteriak dengan meniup-niup jariku.
Kenapa aku jadi stupid! Papa sekarang orang kayah plus Nenek Kakek. Heran aku, sebenarnya mereka dapat harta darimana datangnya ya? apa jangan-jangan hasil ngepet lagi.
Oh iya aku lupa, kata Papa kalau mau menanyakan tentang kekayaan Papa aku harus menanyakannya pada Nenek, pantas saja aku jadi rada stupid. Otakku lemot akibat terlalu banyak di hina dan di caci maki oleh Mama dulunya. Sabarrrrrr, Kiara Putri? aku menyemangati diri sendiri agar tetap tegar.
Aku bukan gadis cinggeng, aku anak yang mandiri, semoga indah pada waktunya wkwkwk sudah mirip lagu Dewi persik saja. Tak apa itung-itung menghibur hati yang lara dipaksa nikah.
__ADS_1
"Nenek? Nenek," teriakku sambil celingukan mencari keberadaan Nenek namun suasana rumah sepi mirip di kuburan saja, umpatku.
"Eh. Non Kia? sudah bangun? mau sarapan udah bibi siapkan, apa mau Bibi ambilkan?" tawarnya dengan senyum.
"Bi Iem? jangan memperlakukan aku seperti itu? aku bukan seorang Putri raja yang harus di perlakukan khusus! aku gak mau!" protes Kiara dengan menatap wajah Bi Iem.
"T--tapi Non?"
"Jangan tapi-tapian. Nanti kalau aku mau sarapan ambil sendiri."
"Non emang beda dari yang lainnya, semua orang ingin diperlakukan seperti ratu tapi Non Kia malah gak mau," kekeh nya yang di anggukan kepala oleh Kiara.
"Sejak kecil aku sudah mandiri Bi? jadi Bibi gak usah repot-repot lagi untuk mengurusi urusan aku," timpal Kiara dengan senyum ramah.
"Bi Iem, kenapa?" tanya Anis, ia seorang asisten bagian mengurus taman.
"Itu loh, Anis? Non Kia," jawabnya sambil mencuci piring di wastafel.
"Emangnya kenapa dengan Non Kia?" tanyanya penuh penasaran.
"Beda gitu! orangnya baik, ramah, sopan. Gak pernah nyuruh-nyuruh Bibi buat ambil ini , itu.
Tadi Bibi nawarin sarapan dan mau Bibi ambilkan malah nolak!" cerocos Bi Iem antusias karena keluarga Wijaya baik sekali tak pernah melihat status orang lain.
"Betul Bi. Sudah mah cantik, baik, pokoknya seratus persen deh buat keluarga Pak Wijaya," puji Anis yang di acungkan jempol oleh Bi Iem.
"Mbak Anis?!" panggil Kiara yang melihat Anis sedang ada di dapur.
"Iya Non." Anis menghampiri Kiara yang berdiri di ambang pintu.
"Mbak lihat Papa ngak?" tanyanya dengan senyum.
Anis mengeleng cepat,"gak Non."
"Ya sudah kalau begitu, Mbak Anis boleh pergi," jawab Kiara.
Papa, Nenek dan Kakek pada kemana? masa pergi sepagi ini? udah ah lebih baik aku pergi ke taman lihat bunga mawar, gumamku.
__ADS_1