
Kini kami berempat duduk di ruang tamu, entah apa yang akan di bahas Mama dan Papa. Mama memperlakukan aku begitu baik dan penuh kasih sayang, apakah itu sungguhan atau palsu entahlah aku tidak bisa mempercayainya.
"Kia?" tanya Mama dengan suara lembut yang menghangatkan pendengaran ku serasa adem.
"Iya Mah?"
Mama terdiam sejenak kemudian ia tersenyum dan mengelus punggung," Sayang? bagaimana kalau pernikahan kalian di percepat saja."
Aku terkejut dengan apa yang Mama katakan. Dengan senyum ku paksakan aku anggukan kepala.
"Aku terserah Mama dan Papa, aku sebagai anak akan menuruti keinginan kalian," ucapku dengan lirih.
"Kok, jawabnya lesu gitu? apa kamu gak mau menikah dengan anaknya sahabat Mama?" tanya Rikha dengan tatapan mengiba senyumannya itu hanyalah palsu. Ia pura-pura baik hanya ingin mendapatkan simpati dari Kiara, bila sudah memasang wajah sesedih mungkin maka Kiara akan mengiyakan keinginannya.
"Mah, maksud aku itu? em....." Kiara menggantung jawabanya membuat Rikha mengerutkan keningnya heran.
"Ngomong aja, Papa akan menerima keputusan mu apapun itu?" tutur Papa yang duduk di sampingku seraya tersenyum tulus.
"Apa susahnya sih, bilang iya! gitu aja harus pake drama," ketus Andin dengan menatapku tajam. Kenapa sih semuanya selalu mendesak ku begitu tak ada perasaan sama sekali, aku anaknya juga ingin di sayangi seperti mereka menyayangi Kak Andin. Apa aku di mata mereka tak ada artinya?! ucapnya dalam hati.
"Aku terserah?! dan apa keluarga Mama Rita sudah menyetujuinya?" tanya Kiara dengan senyum hambar ia kecewa dengan orang tuanya yang selalu memikirkan kemewahan semata ia rela menukar kebahagian anaknya demi kepentingannya.
Jalan satu-satunya adalah Kiara keluar dari rumah itu dan memulai hidup barunya bersama David Xander. Mungkin setelah Kiara menjadi istri David maka dirinya akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Apalagi kelurga Rita begitu menyayangi dirinya tanpa ada kepalsuan.
Setelah semuanya selesai di diskusikan bersama dan Kiara menyetujuinya maka Rikha akan membicarakannya lagi dengan keluarga Xander.
"Kiara, sekarang kita kerumahnya David untuk membicarakan tentang pernikahan kalian berdua," Rikha tersenyum dan di anggukan Kiara.
Kiara berdiri di depan cermin di pandangi wajah cantiknya, dan ia memperhatikan dengan seksama seakan-akan ia berpikir lebih keras lagi, aku lihat wajahku ini tidak mirip dengan Mama atau Kak Andin. Bahkan aku juga gak mirip dengan Papa? sebenarnya aku anak siapa? bila kau tanya mereka pasti jawabannya sama itu-itu aja.
"Arghhhh...." Kiara mengacak rambut frustasinya dengan terus menatap dirinya di depan cermin, apakah aku harus mencari jawabannya sendiri? begitu rumitnya hidupku.
"Sudah jangan bercermin terus? biar pun cantik palipurna kalau jodohnya sama orang buta tetap saja tidak ada artinya, walaupun kaya tujuh turunan, tujuh belokan. Aku doakan semoga langgeng pernikahan kalian berdua ya?!" ejek Andin dengan ucapan yang meremehkan. Kiara hanya diam saja melihat penghinaan yang keluar dari mulut berbisa milik Andin, itu sudah biasa baginya. Justru Kiara menanggapinya dengan senyum santuy tak ada kemarahan di wajah ayunya Kiara.
__ADS_1
"Tak apa! aku bahagia sekali dengan perjodohan ini? buta tak masalah yang penting kehidupan ku terjamin. Dan tidak menyusahkan orang lain," sindir Kiara halus membuat Andin menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu!" tunjuknya dan pergi meninggalkan Kiara. Apa Andin sudah tak mempunyai kata-kata lagi untuk membalas ucapan adiknya.
Kiara yang melihat sikap Andin hanya tersenyum sinis. Kak, Kak, kamu sama seperti dulu gak pernah berubah, Kiara hanya mengeleng pelan.
****
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Jeng Rikha? tumben banget siang-siang begini datang ke rumah? eh, ada Kiara juga, ayok masuk, gimana lukanya Sayang?! sudah gak sakit lagi?!" tanya Rita dengan wajah cemas sekaligus bahagia. Rita mempersilahkan Rikha dan Kiara masuk, yang di anggukan dari keduanya.
"Pah! Papa!" teriak Rita dengan antusias gembira karena ini baru pertama kalinya calon menantunya datang ke rumahnya.
Dari arah tangga Robinson Xander suaminya turun tergesa-gesa ia menghampiri istrinya yang sedang berdiri celingukan mencari nya.
"Gimana Mama gak heboh! kita kedatangan tamu istimewa?" jawabnya dengan penuh semangat.
"Siapa?!"
"Tuh! di belakang Papa."
Robinson membalikan badannya dan terkejut siapa tamu istimewa yang di katakan istrinya.
"Kiara? bagaimana dengan lukanya?" tanya Robinson dengan wajah cemasnya dan mendekati Kiara untuk melihat kondisinya.
Kiara terharu atas sikap lembut dari keluarga Xander yang begitu memperdulikan dirinya tak seperti orang tuanya.
"Aku baik Pah," jawabanya dengan malu-malu.
"Oh iya, Jeng? tumben kerumah, apa ada yang mau di bicarakan?!" tanya Rita.
__ADS_1
"Gini loh Jeng, saya kesini mau membahas tentang pernikahan anak-anak kita kira-kira tanggal berapa yang bagus dan kalau bisa pernikahannya bulan ini saja lebih cepat lebih baik," ucapnya dengan semangatnya.
Rita dan Robinson begitu terkejutnya mendengar perkataan Rikha yang seakan-akan mendesaknya agar mempercepat pernikahan Kiara dan David.
"Loh, bukannya mereka akan menikahnya bulan depan? kenapa harus terburu-buru?!" Rita merasa heran sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan tapi apa? itulah yang ada di pikiran Rita.
"M-maksud saya gini Jeng? Emm, biar Kiara memperhatikan kebutuhan David dan bisa secepat ngasih kita cucu," ujarnya dengan melempar senyum palsu.
Robinson berbisik pada Rita dengan berkata," alasan yang tidak masuk akal!"
"Papa kalau ngomong pelan-pelan, entar kedengaran Sam Jeng Rikha gak enak," bisiknya pelan.
"Jeng, kok malah bisik-bisik tetangga?"
"Saya lagi mikir dan nyari tanggal yang tepat. Lagian David juga harus tau? kan yang mau menikah mereka bukan kita."
Rikha anggukan kepala," iya benar Jeng? sekarang David nya kemana?"
"David lagi keluar sama Devina katanya mau ke pesta ulang tahunnya teman Devina," terang Rita dengan senyum simpul.
"Mah, gak di kasih minum nih?! tamu kita Mama tega sekali sama mantu dan besan," Robinson mengingatkan istrinya yang lupa untuk menjamu tamu istimewa nya.
"Ups, hampir lupa. Maaf ya Jeng, Kia? habisnya Mama senang melihat kalian datang ke rumah, dan si bibi lagi pulang kampung?" tuturnya dan berlalu meninggalkan mereka.
"Maaf kan istri saya, Rita orangnya suka begitu pelupa tingkat nasional," lirih Robinson dengan gelak tawa.
"Gak papa kok Mas, lagian salah kami juga datang-datang sudah memberondong banyak pertanyaan," jawab Rikha tak enak hati.
"Mari di minum jusnya," kata Rita dengan meletakan beberapa jus di atas meja dan di anggukan dari Rikha dan Kiara.
Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, karena penentuan tanggal harus ada persetujuan dari David menurut Rita David lah yang berhak menentukan tanggal pernikahan nya karena dia yang akan menjalankannya.
Ada rasa kesal dan kecewa yang di rasakan Rikha, ia mengharapkan pernikahan Kiara di percepat tapi tanggapan keluarga Xander begitu menohok untuknya. Namun rasa kekecewaannya harus ia tahan sampai pernikahan mereka terlaksana. Entah kelicikan apa lagi yang di pikirkan Rikha sekarang, ternyata Rikha melakukan semuanya demi sebuah misinya terhadap Rita?
__ADS_1