
"Assalamualaikum" sapa seseorang dari arah luar membuat aku terkejut mendengar suara salam karena posisiku di dapur sedang memasak. Suara salam tak kunjung berhenti karena dari dalam tak satu orang yang mau menjawab salam, entah kemana mereka.
Aku menjawab salamnya segera aku mematikan kompor dan berlari menghampiri arah pintu depan.
"Waalaikumsalam?" jawabku dengan membukakan pintu untuk melihat siapa yang pagi-pagi sudah bertamu.
"Maaf, Bapak siapa? dan mau mencari siapa?" Aku bertanya pada pria paruh baya, dirinya menatapku dari atas sampai bawah dan tersenyum sopan padaku.
"Betul ini Nona Kiara?"
"Iya saya sendiri? Bapak tahu nama saya?!" tukasku dengan senyum.
"Saya Jordi supir pribadi Mas David, beliau menyuruh saya untuk menjemput Nona? dan mau mengambil ponselnya Nyonya Rita," jelasnya lagi.
"Oh! iya saya lupa. Sebentar saya ambilkan ponselnya Mama Rita," ujarku dan setengah berlari menuju kamar untuk mengambil ponsel.
Sesampainya aku di kamar, aku mengerutuk diriku sendiri, Ah kenapa tamu ku tak aku suruh masuk! Kiara kamu itu kebiasaan tidak menyuruhnya masuk dulu. Ponselnya di mana ya aku lupa, ku edarkan pandanganku untuk mencari keberadaan benda pipih yang aku tafsir harganya mahal keluaran terbaru, mana mungkin aku bisa membelinya secara aku tak punya uang, aku membatin.
Itu ponselnya di atas nakas, dengan cepat aku menyambarnya dan berlari menuju pintu Pak Jordi masih berdiri.
"Maaf Pak, saya lupa untuk mempersilakan masuk ke dalam," ucapku dengan malu.
"Tak apa-apa Non? mari Nona saya antar sekarang?" tawar Pak Jordi membuat aku mengernyit heran.
"Memangnya mau kemana Pak."
"Nyonya Rita dan Mas David mau ngajakin Nona makan siang?" terangnya lagi.
Mana mungkin aku pergi dalam keadaaan begini, tubuhku yang masih terbungkus celemek dan aku mencium tangan ku yang masih bau amis sehabis menggoreng ikan.
"Pak? ini baru pukul setengah sebelas, dan saya juga belum siap-siap kalau Bapak tidak keberatan boleh pulang dulu? biar nanti saya naik taksi saja?" jawabku tak enak hati.
"Biar Bapak tunggu saja Non."
Pak Jordi membuat aku jadi malu, aku harus bagaimana lagi untuk memastikannya agar dirinya pulang saja.
__ADS_1
"Pak tapi saya belum mandi, pasti memakan waktu lama? dan bapak bisa bosan menunggu saya," imbuh ku dengan senyum.
"Maaf Nona saya tidak bisa membantah perintah Nyonya Rita?" tandasnya seraya tersenyum.
"Baiklah Pak! silahkan duduk kalau begitu saya pamit mau mandi dulu," timpalku seraya masuk ke dalam sedangkan pak Jordi menunggu di teras rumah.
Kok aku sekarang jadi pelupa? ngapain juga ponsel Mama Rita aku bawa masuk lagi, aku menepuk-nepuk jidatku sendiri. Aku bergegas keluar dengan senyum kikuk dan menghampiri pak Jordi.
"Ada apa Nona?" tanyanya dengan heran.
"Ini pak saya lupa untuk memberikan ponselnya? Bapak yang megangnya, kalau saya yang pegang ntar lupa lagi dan sekali lagi jangan panggil aku Nona. Karena saya tak biasa dengan sebutan itu, oh iya ini ponsel Mama Rita," aku menyodorkan ponselnya dan Pak Jordi mengambilnya dari tanganku maklum Kiara pelupa tingkat nasional.
Pak Jordi hanya tersenyum mengangguk.
****
Tak butuh waktu lama aku sudah siap hanya dengan memakai dress selutut berwarna merah muda dan memakai sepatu pleatsus.
Cantik gumamku dengan senyum ceria.
Aku memang kurang pandai dalam berdandan tak seperti Kak Andin yang lebih pandai dalam berdandan poles memoles wajah.
Pak Jordi malah bengong melihat penampilan ku, apa ada yang salah dengan penampilan aku.
"Ada yang salah sama saya pak?!"
"Tidak Non?" katanya dengan mengeleng.
Pak Jordi membukakan pintu mobil dan aku pun masuk dan duduk di bangku belakang.
aku memberanikan diri untuk bertanya pada nya.
"Pak kita mau kemana?"
"Ke restoran Nona, mas David sudah menunggunya?" jelas Pak Jordi.
__ADS_1
Aku hanya mangut-mangut saja. Enak ya jadi orang kaya mau kemana-mana ada yang antar, aku tersenyum berandai-andai jika aku menjadi orang kayak. Biar keluarga aku kayak tapi mereka tidak perduli dengan ku? bahkan sekedar mengajakku makan di restoran pun tidak pernah. Makanan ku sehari-hari hanya ikan, tahu, tempe. Jarang makan ayam semuanya selalu memandangku sebelah mata.
Sekitar dua puluh menit kemudian kami pun sampai di restoran tersebut dan aku melihat lelaki yang berkacamata hitam duduk dengan seorang wanita paruh baya, itu adalah Mas David dan Mamanya. Ku hampiri mereka berdua yang sedang duduk.
"M-maaf Mah, aku terlambat?" ucapku dengan terbata-bata.
"Nggak papa lagian Mama dan David belum lama juga datangnya?" jawabnya dengan seulas senyum dan menarik tanganku agar duduk di sampingnya.
"Oh iya Mah, ponselnya Mama tadi aku titipkan pada Pak Jordi," imbuh ku lagi tak enak hati sudah tak sopan menitipkan ponselnya pada pak Jordi.
"Jangan terlalu di pikirkan, sekarang kita makan dulu?" titahnya dengan memperlihatkan selembar kertas yang bergambarkan bermacam-macam jenis makanan.
Mas David hanya diam tanpa menyapaku sikapnya yang dingin membuat aku merasa cangung dengan keadaan seperti ini.
"A-aku terserah Mama saja?" jawabku pelan.
Mama Rita melambaikan tangannya untuk memanggil waiters yang sedang berdiri di depan kasir.
"Ya Bu? mau pesan apa?" tawarnya dengan senyum ramah.
Mama Rita menunjukkan gambar makan tersebut.
"Ini, ini, dan juga ini ya Mbak?" Mama Rita menunjukkan pesanannya.
"Baik ya Bu, tunggu sebentar saya ambilkan dulu?" aku dan Mama Rita menganguk pelan.
"Vid? ngajak ngobrol dong! Kiara nya jangan diemin gak enak, lagian bentar lagi kalian nikah!" serunya pada Mas David dan di anggukan kepala oleh nya.
Dia menganguk tapi tuh mulut masih saja di kunci, masih enggan untuk membukanya. Punya calon suami super salju dingin lagi ngak ada hangat-hangatnya.
Tak lama pesanan kami datang semua makanan tersaji membuat cacing-cacing dalam perutku mulai nakal karena bau aroma menyeruak di indera penciuman ku sudah tak sabar lagi untuk menyantapnya.
Aku akui sudah lama tidak makan makanan yang selezat ini, gumamku.
"Ayok di makan jangan di lihatin gitu? memangnya kalau di lihatin perut akan kenyang?!" ujarnya dengan terkekeh geli melihat aku masih bengong melihat makanan yang begitu banyaknya jumlah beraneka macam makanan.
__ADS_1
"I-iya Mah!" seruku dengan senyum dan mulai menyuapi makanan kedalam mulutku.
Sedangkan manusia salju hanya diam, dengan antengnya ia melahap makanan tanpa menghiraukan kami berdua.