
"I-iya Mah!" seruku dengan senyum dan mulai menyuapi makanan kedalam mulutku.
Sedangkan manusia salju hanya diam, dengan antengnya ia melahap makanan tanpa menghiraukan kami berdua. Aku hanya mengeleng melihat seorang CEO tampan gagah tapi sikapnya tidak menunjukan sebagai orang yang berwibawa.
Tunggu bentar, sepertinya ada yang aneh? bukan kah dia buta. Tapi lihatlah cara dia makan seperti orang normal, cara meletakan sendok cara meminum dan.....
Aku melihat dirinya menyungingkan bibirnya, apa dia membohongi ku bahwa dirinya tidak buta, apakah orang tuanya tahu? beribu-ribu pertanyaan mengelayut di benak ku. Aku terus mengamati gerak-geriknya, anehnya Mama Rita tidak menyadarinya itu.
"Sayang? kalau makan yang benar dong? tuh lihat bibir mu belepotan gini," ucapnya dengan mengelap bibirku dengan tisu yang membuat aku terkejut.
"Masa sih Mah? aku jadi malu?" sahutku dengan senyum kikuk.
Kiara, kenapa sih kamu jadi mendadak oon gini? jadi malu kan sama Mama mertua dan calon suami. Aku menghela nafas untuk menetralisir detak jantungku.
"Lapar apa doyan! makan seperti di kejar penjahat, kayak ngak pernah makan makanan yang enak!" sindirnya membuat aku menundukkan kepalaku karena malu atas ucapan Mas David yang dikatakannya semuanya benar.
"David Xander, kalau ngomong sama Kiara yang sopan dong! dia akan menjadi istri mu ingat itu!" geram Rita dengan menatap tajam kearah putra sulungnya itu yang menurutnya sangat keterlaluan terhadap Kiara.
"Belain dia terus! di sini yang menjadi anaknya Mama itu siapa?! aku apa dia!" David menunjuk ke arah ku. Lagi dan lagi aku menundukan kepala ku kembali.
"Sudah ah, kamu kalau di nasehatin Mama selalu saja membantah!" gerundelnya Rita terhadap David.
Suasana menjadi hening sesaat kemudian Rita bertanya pada Kiara untuk mencairkan suasana ketegangan yang tercipta saat ini.
"Kiara?" ucap Rita dengan mengelus punggung tangannya.
"Iya Mah?" Kiara menatap wajah cantiknya Rita dengan heran.
"Mama mau ke panti asuhan tapi....."
"Tapi kenapa Mah, ayo cerita sama aku siapa tau aku bisa bantu Mama?" usul Kiara.
" Gini maksud Mama, Mama mau mengantarkan sumbangan untuk panti asuhan Harapan Bunda? tapi Mama sudah punya janji dengan temannya Mama gimana kamu saja yang ke panti asuhan untuk mengantarkan ini?" Rita memberikan sebuah amplop coklat yang berisi uang tunai. Aku merasa heran kenapa tiba-tiba Mama menyuruhku untuk mengantarkan uang tersebut ke panti.
__ADS_1
"Ke-kenapa harus aku Mah? kan ada Mas David?"
"Jadi kamu menolaknya?" tutur Rita dengan wajah kecewa atas penolakan dari Kiara.
"Begini Mah, m-maksud aku? kalau aku sendirian yang mengantarkan uangnya takut di rampok Mah!" terangku dengan menundukkan kepalaku.
Memang aku takut dengan membawa uang sebanyak itu, apalagi jaman sekarang banyak penjahat dimana-mana membayangkannya saja aku sudah takut. Apalagi sampai kejadian menimpa ku.
"Kamu berangkatnya sama Pak Jordi ya? Mama mohon sama kamu, soalnya David ada mitting di kantor!" jawab Rita dengan memohon.
Kiara bingung harus menjawab apa, bila ia menolaknya gak mungkin dong secara Rita orangnya baik, bila menyanggupinya dirinya takut di rampok walaupun ada Pak Jordi yang mengantarkan nya.
"Gimana mau?"
Kiara menghela nafasnya dan menatap wajah Rita dengan senyum mengembang.
"Iya Mah aku mau?"
"Sayang?! kalungnya mana? kok nggak di pake," tanyanya dengan penuh selidik.
Kiara yang mendengar nya menjadi gelagapan dan panik setelah mendengar pertanyaan dari Rita.
"Em, itu Mah." Ucapannya menggantung, Aduh! gimana ini? Kiara bingung harus menjawab apa, Kiara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Rita melihat wajah cantik Kiara berubah menjadi tegang dan kedua tangannya saling bertautan, sesekali Kiara mengigit bibir bawahnya.
"Kalungnya hilang?! atau ada di rumah kamu simpan?" ucap Rita dengan senyum khasnya.
"Ada, lagi di pinjam sama Kak Andin," jujur ku karena dalam sebuah hubungan harus di landasi dengan kejujuran agar kedepannya tak akan ada masalah yang dihadapi oleh ku dan juga keluarga Xander.
"Kenapa kamu harus meminjamkannya?! kalung itu seharusnya kamu yang memakainya?" ujarnya dengan senyum kecewa dengan ku.
"Kiara nggak enak sama Kak Andin Mah? tapi Kiara janji akan mengambilnya dari Kak Andin," lanjut ku dengan menyakinkan Mama Rita untuk percaya padaku.
__ADS_1
Mama Rita menghela nafasnya dan tersenyum padaku. Ah, aku jadi gak enak sama Mama? padahal beliau sudah menganggap ku sebagai putrinya sendiri.
"Jangan tegang gitu dong! slow!" ledek nya.
Membuat aku tersipu malu.
Rita melihat jam yang melingkar di tangannya dan berkata pelan pada Kiara.
"Sayang Mama mau pergi dulu ya, dan kamu di jalan hati-hati kalau ada apa-apa hubungi David atau Mama," ucap Mama dengan mengecup keningku dan pergi meninggalkan aku dan manusia salju.
Mas David pun beranjak dari duduknya dan berjalan beberapa langkah dan membalikan badannya ke belakang.
"Mau sampai kapan kamu akan duduk di situ!" ketusnya membuat aku terkejut.
Aneh bin ajaib bukanya dia tidak bisa melihat? cara berjalannya dan aktivitas lainya biasa saja enggak menunjukan bahwa dirinya orang buta? pasti ada yang di sembunyikan tapi apa? Kiara berusaha berpikir keras, mencari sesuatu yang menurutnya janggal.
"Jangan bengong?! bukankah Mama sudah memberikan mandat untuk kamu pergi ke panti asuhan?!" tegasnya lagi dengan terus melangkah.
Tuh kan dia bisa tahu kalau aku masih bengong, ya udahlah ngapain juga aku kepoin manusia planet ini, gumamku dengan mengikutinya dari belakang.
Kini aku sudah berada dalam mobil bersama Pak Jordi. Perasaanku tak karuan seumur hidupku aku tak pernah memegang uang sebanyak ini? aku gelisah takut kalau nantinya ada penjahat yang mengikuti perjalan kami.
Tiba-tiba Pak Jordi menancap gas begitu kencangnya membuat aku terkejut dan panik.
"Ada apa Pak Jordi?" ucapku dengan paniknya.
"Maaf Nona, sepertinya ada yang mengikuti kita!" jawabnya dengan pelan.
Saat aku melihat ke arah belakang sontak aku terkejut bukan main ada beberapa pengendara motor dengan berpakaian serba hitam sedang mengikuti mobil kami dan mengacungkan pistol ke udara.
'Ya Tuhan selamatkan kami dari para penjahat yang mau merampok ku'
Tak henti-hentinya mulutku komat-kamit agar selamat dari para penjahat.
__ADS_1